<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>#15HariMenulis Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/15harimenulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/15harimenulis/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Jul 2017 20:05:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Sekaleng Cola di Pyongyang</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/sekaleng-cola-di-restoran-pyongyang/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/sekaleng-cola-di-restoran-pyongyang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 May 2016 10:45:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<category><![CDATA[Raengmyeon]]></category>
		<category><![CDATA[Restoran Korea Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Restoran Pyongyang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3657</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di Restoran Pyongnyang, kamu bisa mencoba hidangan Korea Utara. Juga Aneka Ria Safari ala-ala. Korea Utara dan para pemimpinnya mungkin adalah dua hal yang kerap disalahpahami. Media barat selalu menggambarkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/sekaleng-cola-di-restoran-pyongyang/">Sekaleng Cola di Pyongyang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Di Restoran Pyongnyang, kamu bisa mencoba hidangan Korea Utara. Juga Aneka Ria Safari ala-ala.</em></p>
<p>Korea Utara dan para pemimpinnya mungkin adalah dua hal yang kerap disalahpahami. Media barat selalu menggambarkan negara itu, juga pemimpinnya, sebagai negara yang tertutup, misterius, menjalankan kediktatoran, dan segala macam sifat tak mengenakkan lainnya.</p>
<p>Saya lebih suka apa yang digambarkan Jonas Jonasson dalam buku fiksi menggelitik T<em>he 100 Year Old Man Who Climbed Out the Window and Dissapeared</em>. Penulis Swedia itu mendeskripsikan sosok dua pemimpin Korut dengan komikal dan manusiawi. Kim Il Sung digambarkan sebagai pahlawan perang, jenderal kepala dingin, tak percaya siapapun, dan punya protokol menarik terhadap tamu asing. Sedangkan Kim Jong Il, sang anak, digambarkan sebagai orang yang punya bakat lahiriah sebagai pemimpin besar, agak emosional, sensitif, dan kemampuan otaknya tak cemerlang amat.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Siapapun yang ingin menghubungi Kim Il Sung, harus terlebih dulu menghubungi anak laki-lakinya. Kim Jong Il.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Kamu harus membuat tamumu menunggu setidaknya 72 jam sebelum kamu menerima mereka. Begitulah caramu menjaga kekuasaan, anakku,&#8221; kata Il Sung.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Aku rasa aku paham, Ayah,&#8221; kata Jong Il berbohong, setelah dia membuka kamus dan mencari kata yang tak dia mengerti.</em></p>
<p>Bisa jadi Jonas benar. Jong Il memang sensitif, bahkan mungkin cenderung gampang <em>insecure</em>. Selepas bapaknya meninggal dan dia naik tampuk jadi pemimpin besar Korut pada 1994, dia segera mengaktifkan kembali kebijakan <em>Songun</em>. Ini kebijakan yang menjadikan pembangunan militer sebagai prioritas utama.</p>
<p>Tak seperti banyak kisah lain tentang pembangunan militer untuk penaklukan, kebijakan Songun digerakkan lebih karena rasa tak aman yang dialami Jong Il. Dia takut kalau AS akan menyerang negaranya suatu hari nanti. Apalagi setelah imperium Soviet yang dianggap sebagai patron, runtuh pada 1991. Melihat rekam jejak AS yang hobi memulai perang, kekhawatiran itu jelas bisa dimaklumi.</p>
<p>Kebijakan ini membuat militer Korut kuat, sekaligus membuat AS was-was dan tak berani gegabah mencari gara-gara. Namun, karena sebagian besar uang Negara digunakan untuk membangun militer, pembangunan di sektor lain jadi terabaikan. Kisah gelap macam itu bisa kamu baca di banyak media.</p>
<p>Di antara semua kisah amis nan sangit tentang Korea Utara, <em>raengmyeon</em> menempati posisi yang berbeda.</p>
<p>Tanah Korea, sama seperti Jepang, punya mi dengan kuah kaldu yang disajikan dingin. Di Korea Utara akrab disebut <em>raengmyeon</em>. Di bagian Selatan namanya <em>naengmyeon</em>.</p>
<p>Tapi kisah mi dingin Korea berasal dari Utara. Bahkan Selatan yang kini jauh lebih digdaya dalam bidang apapun ketimbang saudara kirinya itu tak bisa menepuk dada. Mereka dengan malu-malu mengakui kalau mi pusaka itu memang berasal dari Utara. Dari babad <em>Dongguksesigi</em>, semacam kisah Tanah Jawa ala Korea, yang ditulis pada abad 19, <em>raengmyeon</em> diduga berasal dari daerah yang kini menjadi Pyongyang dan Hamhung.</p>
<p>Jika kawasan itu terlalu jauh untukmu, jangan khawatir, kamu bisa mencobanya di Jakarta.</p>
<p>Di ibu kota negara ini, kamu bisa menyantapnya di restoran Pyongyang. Ini satu-satunya restoran di dunia yang dikelola oleh Negara. Ada banyak dongeng tentang tempat ini. Walau sama seperti sebagian besar dongeng, sifatnya kerap tak bisa dipercaya begitu saja. Antara lain dugaan kalau restoran ini jadi tempat pencucian uang, atau jadi tempat transit para spion Korut.</p>
<p>Hingga kini, ada setidaknya 130 cabang Pyongyang di seluruh dunia. Mulai dari Cina, Vietnam, Malaysia, hingga Mongol. Semuanya dimiliki dan dioperasikan oleh Grup Haedanghwa, organisasi pemerintah Korut.</p>
<p>Di Indonesia, restoran ini sempat punya dua gerai, di Kelapa Gading dan di Gandaria. Namun sekarang tinggal di Kelapa Gading saja. Bisa dibilang Pyongyang adalah satu dari sedikit sekali perwakilan Korea Utara di Indonesia.</p>
<p>Saya datang ke sana di sebuah sore yang hangat bersama Panjul dan Yandri. Lucunya, di sebelah Pyongyang, ada restoran Korea Selatan yang berdiri dengan lebih mentereng dan mencolok mata. Lengkap dengan segala promo dalam baliho berukuran besar dan warna-warna cerah.</p>
<figure id="attachment_3661" aria-describedby="caption-attachment-3661" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174455-01.jpeg" rel="attachment wp-att-3661"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3661" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174455-01.jpeg" alt="Muda, Beda, dan Kelaparan" width="700" height="525" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174455-01.jpeg 700w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174455-01-300x225.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174455-01-80x60.jpeg 80w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174455-01-265x198.jpeg 265w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174455-01-696x522.jpeg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174455-01-560x420.jpeg 560w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a><figcaption id="caption-attachment-3661" class="wp-caption-text">Muda, Beda, dan Kelaparan</figcaption></figure>
<p>Sedangkan Pyongyang tampak lebih kalem. Hanya satu papan neon merah berukuran besar yang jadi penanda. Meski jauh berbeda, restoran perwakilan dua negara yang sedang bertikai ini berdampingan dengan santai dan damai. Saya membatin, andai saja perdamaian negara bisa hadir semudah menjejerkan restoran seperti ini.</p>
<p>Para pelayan Pyongyang didatangkan langsung dari Korea Utara. Semuanya perempuan, dan semuanya juga berbahasa Inggris dan Indonesia patah-patah. Kalau bingung, mereka hanya menjawab <em>tidak tahu</em>, atau <em>I don’t know</em>. Atau sekadar mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Karena tujuan utama datang ke sana adalah mencoba <em>raengmyeon</em>, maka itulah yang kami pesan.</p>
<p>Sore itu, pengunjung Pyongyang hanya tiga orang pemuda yang tampak lusuh dan kelaparan. Ya kami ini.</p>
<p>Di dekat kursi, ada satu televisi layar datar yang memutarkan hiburan dari Korea Utara. Sekilas mirip Aneka Ria Safari yang populer di era 80-an, lengkap dengan resolusi layar 240p. Penyanyi perempuan berusia 40-an, memakai <em>hanbok</em> merah, bernyanyi lempang dengan diiringi irama musik yang terasa monoton. Penonton menyaksikan dengan senyum datar dan bertepuk tangan ketika sang biduan selesai bernyanyi. Tayangan ini diputar berulang-ulang hingga kami meringis bosan.</p>
<p>&#8220;Mungkin kalau negara kita menganut sosialisme, tayangan televisi kita ya kayak gini ya?&#8221; kata Yandri setengah bertanya.</p>
<p>Kami bertiga belum pernah ke Korea Utara. Namun bayangan tentang upaya keras-namun-terhuyung sosialisme untuk bertahan di sana, begitu menarik hati. Saya rasa kami tak sendiri. Manusia selalu diberkahi rasa ingin tahu. Kadang terlampau besar. Korea Utara yang berselimut misteri, tentu memancing rasa penasaran banyak orang. Pelancong, <em>flaneur</em>, antropolog, jurnalis, pecinta sosialisme, ataupun pemuja kapitalisme yang ingin menemukan bukti tak terbantahkan bahwa sosialisme sudah bangkrut.</p>
<p>Ryan Nee mungkin salah satunya. Dia pelancong asal Amerika Serikat. Kerja di sebuah lembaga yang bergerak di bidang inovasi sumber daya manusia. Sebagai orang yang punya ketertarikan ganjil terhadap daerah-daerah yang asing, wajar kalau Korea Utara adalah salah satu destinasi impiannya.</p>
<p>Maka pada musim panas 2014 lalu, Ryan, dengan dibantu biro travel Young Pioneer asal China, pergi ke Korea Utara. Pendiri Young Pioneer adalah Gareth, warga negara Inggris yang hingga dua tahun lalu sudah berpergian ke Korut hingga 46 kali. Sebagai biro perjalanan, mereka mengambil ceruk yang hanya berisi sedikit pemain: tur Korea Utara. Biro yang sudah berdiri sejak 2008 ini menjual berbagai paket wisata ke Korut dengan berbagai varian harga.</p>
<p>Ada paket bujet seharga 400-an Euro, hingga paket 10 hari 9 malam yang dibanderol 1495 Euro. Ada pula paket tur mengunjungi Rason, daerah timur laut Korea Utara yang berbatasan dengan Rusia dan Cina. Ini adalah kawasan perdagangan bebas, karenanya punya privilese mendirikan kasino (satu dari hanya dua kasino di seluruh Korut).</p>
<p>Jangan salah. Peminat ke sana cukup banyak. Seperti yang sudah saya bilang tadi, manusia memang selalu punya rasa ingin tahu. Setiap tahun, ada setidaknya 1.000 turis Barat yang datang ke Korea Utara. Sekitar 20 persennya berasal dari Amerika Serikat, negara yang Presidennya pernah menjuluki Korut sebagai negara iblis.</p>
<p>Meski keinginan melancong ke Korea Utara sudah diprotes keras oleh teman dan saudaranya &#8211;nyaris semua orang Amerika akan melakukannya&#8211; toh Ryan tetap berangkat.</p>
<p>&#8220;Kami mendarat di bandara yang berselimut halimun, membuat saya kesusahan melihat apa yang ada di luar jendela. Di antrian keluar pesawat, kami menggumam, campuran antara rasa senang dan grogi karena akan menginjak kawasan yang asing. Aku menengok menara pengawas penerbangan yang catnya pudar dan sudah bobrok, dan melihat segerombolan tentara mengenakan pakaian berwarna hijau zaitun dan memegang senapan. Ini nyata. <em>Holy</em>&#8230; <em>shit</em>&#8230; Aku ada di Korea Utara.&#8221;</p>
<p>Begitu kesaksiannya ketika pesawat yang ditumpanginya mendarat dengan keras di bandara Pyongyang.</p>
<p>Apa yang diceritakan oleh Ryan selanjutnya mungkin nyaris sama seperti apa yang ada di bayangan saya, Panjul, maupun Yandri. Korut itu tidak hitam putih. Warga sana ya sama saja dengan manusia lain di belahan dunia manapun. Butuh makan. Tidur. Juga berak. Senang bercanda. Bisa menangis. Dan selalu penasaran jika melihat orang asing.</p>
<p>Khusus bagi Panjul, perempuan Korut punya paras yang menarik, sama saja dengan perempuan manapun. Berkali-kali dia mencuri pandang ke seorang pelayan perempuan bertubuh sintal, dengan rambut dikucir kuda. Menjelang pulang, Panjul sempat merayunya untuk foto bersama. Tentu saja ditolak. Sebelum Panjul sempat menangis, saya sudah menariknya keluar restoran.</p>
<p>Selagi menunggu menu utama datang, para pelayan menyodorkan beberapa hidangan pembuka gratis yang disajikan dalam piring kecil. Selain kimchi sawi yang sudah populer &#8211;dan rasanya nyaris tak berbeda dengan kimchi ala Selatan, hidangan menarik lainnya adalah kimchi mangga. Mangga berusia muda yang sekal dan masam, dipotong <em>julienne</em>, kemudian dibalur dengan <em>gochujang</em> (pasta cabai merah). Menghadirkan rasa asam yang bercampur dengan pedas sedikit menyengat. Hidangan asam pedas macam ini sukses menghadirkan nafsu makan. Yang unik, ada pula kerupuk dan beberapa kerat ikan asin.</p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_172214.jpg" rel="attachment wp-att-3659"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3659 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_172214.jpg" alt="IMG_20160419_172214" width="800" height="600" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_172214.jpg 800w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_172214-300x225.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_172214-768x576.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_172214-80x60.jpg 80w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_172214-265x198.jpg 265w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_172214-696x522.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_172214-560x420.jpg 560w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></a></p>
<p>Setelah menunggu sekitar 15 menit, <em>raengmyeon</em> datang dalam mangkuk besi berukuran besar. Mi-nya berukuran panjang, konturnya lurus. Cerminan dari filosofi umur panjang dan kemakmuran yang mengiringi. Di atas gulungan mi, ada tumpukan helai kimchi sawi, gochujang, potongan daging, timun, dan setengah butir telur rebus.</p>
<p>Kuahnya segar. Kaldunya ringan. Bagi orang yang terbiasa dengan ledakan rasa yang kaya atau rasa kuat dari MSG, <em>raengmyeon</em> ini akan terasa hambar. Namun bagi mereka yang suka rasa alami, kaldunya bisa bersinonim dengan kebahagiaan. Mi-nya berwarna pucat, bertekstur lebih kenyal ketimbang mi biasa. Maklum, ada campuran kentang yang membuat mi lebih liat.</p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_173826-011.jpeg" rel="attachment wp-att-3660"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3660 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_173826-011.jpeg" alt="IMG_20160419_173826-01(1)" width="576" height="700" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_173826-011.jpeg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_173826-011-247x300.jpeg 247w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_173826-011-346x420.jpeg 346w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></a></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174412-01.jpeg" rel="attachment wp-att-3662"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3662 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174412-01.jpeg" alt="IMG_20160419_174412-01" width="700" height="525" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174412-01.jpeg 700w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174412-01-300x225.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174412-01-80x60.jpeg 80w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174412-01-265x198.jpeg 265w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174412-01-696x522.jpeg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/IMG_20160419_174412-01-560x420.jpeg 560w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a></p>
<p>Tak banyak pilihan minuman di sana. Yang standar adalah teh dingin Korea Utara, tak jauh berbeda dengan teh dingin yang disajikan di restoran Korea Selatan atau di restoran Jepang. Ada juga bir ala Korut. Yang mungkin tak akan kamu duga, di lemari pendingin dekat kasir ada jejeran kaleng Coca Cola.</p>
<p>Meski Pyongyang dikelola oleh negara, mungkin kebijakannya tak selalu melambangkan haluan politiknya. Jika Korut selama ini tampak berhati-hati terhadap Amerika Serikat, toh mereka jelas tak memusuhi produknya. Kalau ideologi Korea Utara bersebrangan dengan Amerika Serikat, dalam urusan boga mereka bisa saja akur.</p>
<p>Di Pyongnyang, restoran dengan renik peninggalan perang dingin berupa siaran televisi resolusi rendah, kamu bisa menyaksikan sisi lain Korut. Di sana kamu bisa menyaksikan Korut berjejeran dengan Korsel, lengkap dengan hadirnya Amerika Serikat dan kapitalisme dalam wujud sekaleng Coca Cola.[]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/sekaleng-cola-di-restoran-pyongyang/">Sekaleng Cola di Pyongyang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/sekaleng-cola-di-restoran-pyongyang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3657</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Waktu (Memang Bisa) Terbang</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/waktu-memang-bisa-terbang/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/waktu-memang-bisa-terbang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 May 2016 08:08:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3650</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu saya dikirimi foto oleh Nyen. Dua foto berbeda waktu yang ditumpuk atas bawah. Saya meringis. Foto itu menunjukkan bahwa waktu memang bisa terbang. Foto pertama diambil, kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/waktu-memang-bisa-terbang/">Waktu (Memang Bisa) Terbang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu saya dikirimi foto oleh Nyen. Dua foto berbeda waktu yang ditumpuk atas bawah. Saya meringis. Foto itu menunjukkan bahwa waktu memang bisa terbang.</p>
<p>Foto pertama diambil, kalau saya tak silap, tahun 2010. Penandanya jelas. Rambut saya masih gondrong. Saya memotong rambut panjang itu pada sebuah hari di Desember, salah satu hari yang membuat saya berduka bukan buatan. Tempat foto itu adalah Sempu. Kami naik motor ke sana. Waktu itu Ade akan pindah kerja ke Mojokerto. Menyadari bahwa dia akan berpisah cukup lama dengan kawan-kawan, maka dia mengajak kami untuk piknik. Entah kenapa Sempu yang dipilih.</p>
<p>Perjalanan berlangsung dengan lancar dan layak dikenang. Saya dan Ade kecelakaan. Yang nyetir siapa lagi kalau bukan Ade, lelaki yang tampaknya ditakdirkan tak pernah berjodoh dengan keselamatan di jalan, dan lucunya kerja di jalan. Saya ingat tertawa keras ketika kami rebah di atas tanah, dengan gerimis menyiram, dan Ade mengerang karena ketiban motor.</p>
<p>Kami menginap semalam di sana. Hanya kami berempat. Suasana syahdu. Kami bercakap tentang apa saja. Tapi tidak masa depan. Bagi kami dulu, masa depan terasa sangat jauh dan terlalu berat untuk dipikir.</p>
<p>Siang menjelang pulang kami menyempatkan diri berfoto. Fahmi paling kiri, kemudian Ade yang memakai bandana, di sebelahnya ada Nyen, dan saya. Perjalanan ke peradaban terasa berat. Lelah, lama tak melatih fisik. Ketika sampai, segelas besar Cola campur susu jadi penawar capai. Segar sekali.</p>
<p>Kemudian kami berpencar. Tahun 2011 saya pindah ke Jogja. Fahmi ke Sulawesi, lalu ke Kalimantan. Ade di Mojokerto. Sedangkan Nyen menjaga Jember bersama Nova.</p>
<p>Hitung maju hingga 2016. Saya tinggal di Jakarta sejak dua tahun lalu. Fahmi kerja di Grobogan. Ade masih di Mojokerto, mendapat jodoh gadis lokal, dan sudah punya satu anak laki-laki yang menggemaskan. Sedang Nyen masih teguh menjadi penjaga kearifan lokal di Jember bersama Nova.</p>
<p>Di antara waktu yang sempit dan jarak yang berjauhan, kami masih menyempatkan diri untuk bertemu di Jember. Kemudian melancong ke Bondowoso. Silaturahmi ke rumah Andes, teman SMA yang membuka usaha warung makan <a href="https://www.instagram.com/bebek_korek/">bebek korek</a> di Bondowoso.</p>
<figure id="attachment_3652" aria-describedby="caption-attachment-3652" style="width: 360px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/f88700a9-1119-4656-8f2a-d8ebcd9683cd.jpg" rel="attachment wp-att-3652"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3652" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/f88700a9-1119-4656-8f2a-d8ebcd9683cd.jpg" alt="Andes, Saya, Zhyza istri Ade yang menggendong Gavin, Ade, Nyen, dan Fahmi" width="360" height="480" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/f88700a9-1119-4656-8f2a-d8ebcd9683cd.jpg 360w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/f88700a9-1119-4656-8f2a-d8ebcd9683cd-225x300.jpg 225w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/f88700a9-1119-4656-8f2a-d8ebcd9683cd-315x420.jpg 315w" sizes="(max-width: 360px) 100vw, 360px" /></a><figcaption id="caption-attachment-3652" class="wp-caption-text">Andes, Saya, Zhyza istri Ade yang menggendong Gavin, Ade, Nyen, dan Fahmi</figcaption></figure>
<p>Kemudian lanjut ke Kawah Wurung, yang terletak tak jauh dari Kawah Ijen. Kami tak berempat. Ade membawa serta istri dan anaknya. Lalu tanpa direncanakan, kami berfoto bareng lagi. Dengan posisi yang tidak sama. Kalau ingat foto bareng kala di Sempu, pasti kami mengatur posisi. Satu-satunya yang sama di sana cuma posisi dan gaya foto saya. Kayaknya saya gak bakat jadi model, gaya di foto gitu-gitu mulu.</p>
<p>Kemarin saya lihat foto ini lagi. Mendadak ingat lagu &#8220;Times They Are A Changin&#8221; milik Bob Dylan. Betapa waktu berubah, seperti terbang. Kita, manusia, gelagapan mengejarnya. Berusaha ikut berubah agar tak tertelan.</p>
<p><em>Come gather &#8217;round people</em><br />
<em>Wherever you roam</em><br />
<em>And admit that the waters</em><br />
<em>Around you have grown</em></p>
<p><em>If your time to you</em><br />
<em>Is worth savin&#8217;</em><br />
<em>Then you better start swimmin&#8217;</em><br />
<em>Or you&#8217;ll sink like a stone</em><br />
<em>For the times they are a-changin&#8217;</em></p>
<p>Saya tak lagi gondrong. Perut sudah terlapisi lemak. Sedangkan Fahmi masih tetap setia menjadi pengembara, pergi ke daerah-daerah terpencil. Nyen juga berusaha keras untuk bertahan, dan menabalkan diri untuk tak mudah galau seperti dulu. Ade masih tetap menghabiskan waktu kerjanya di jalan. Perubahan terbesarnya mungkin kini dia sudah jadi suami dan bapak. Perubahan yang drastis, dan saya pikir tak akan mudah menjalaninya.</p>
<p>Mungkin dalam 10 atau 15 tahun lagi Ade, atau kami semua, akan bengong dengan segala perubahan yang terjadi. Semoga kami jadi orang tua yang terhindar dari golongan klise. Golongan yang hanya bisa merepet dan mengkotbahi anak-anak, tentang sesuatu yang tidak kami ketahui. Tentang zaman yang sudah lama meninggalkan kami.</p>
<p><em>Come mothers and fathers</em><br />
<em>Throughout the land</em><br />
<em>And don&#8217;t criticize</em><br />
<em>What you can&#8217;t understand</em><br />
<em>Your sons and your daughters</em><br />
<em>Are beyond your command</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/waktu-memang-bisa-terbang/">Waktu (Memang Bisa) Terbang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/waktu-memang-bisa-terbang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3650</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pariwisata Musik: Servis</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 May 2016 12:18:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3639</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang membuat pariwisata musik, dalam hal ini festival musik, jadi menarik, selain tentu saja perkara musik? Salah satunya adalah servis. Dalam festival musik, menurut Connel dan Gibson yang dianggap [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/">Pariwisata Musik: Servis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang membuat pariwisata musik, dalam hal ini festival musik, jadi menarik, selain tentu saja perkara musik? Salah satunya adalah servis. Dalam festival musik, menurut Connel dan Gibson yang dianggap sebagai mbah soal pariwisata musik, servis bisa mencakup jadwal pertunjukan, peta lokasi, hingga tersedianya booth makanan dan minuman di dalam lokasi acara.</p>
<p>Banyak festival musik kelas dunia yang menggabungkan atraksi musik dan kuliner. Misalkan Opera in the Otways yang menggabungkan antara festival opera, makanan enak, wine, dan bir buatan rumah. Begitu pula dengan Mildura Jazz, Food, and Wine Festival yang sudah berlangsung selama 30 tahun. Pengeluaran penonton festival musik pun kebanyakan ya untuk makanan, minuman, juga merchandise.</p>
<p>Di luar negeri, penjualan makanan dalam festival musik adalah kesempatan untuk mencari laba yang besar. Di Venice Festival of Contemporary Music, harga tiketnya gratis. Namun harga makanan dan minuman selalu lebih mahal dibandingkan dengan hari biasa. Makanan yang beranekaragam juga berperan untuk membuat para penonton betah. Karena sifat festival yang berlangsung dalam waktu yang panjang, makanan dan minuman adalah faktor penting yang menahan penonton untuk tetap berada dalam tempat acara.</p>
<p>Berapa jumlah pengeluaran yang dihabiskan oleh pengunjung untuk makanan dan minuman? Sayangnya, hal ini susah dijawab secara akurat. Sebabnya, pengunjung biasanya menjawab rentang pengeluaran, bukan jumlah pasti. Dan biasanya pengeluaran yang disebutkan oleh pengunjung lebih kecil dibandingkan pengeluaran sebenarnya. Dari penonton yang saya wawancara, rata-rata menghabiskan pengeluaran Rp200 ribu dalam sehari.</p>
<p>Kalau berdasar rumus dari Connel dan Gibson, cara mudah menghitung pengeluaran untuk makanan dan minuman adalah dengan mengambil rata-rata pengeluaran dikalikan jumlah pengunjung. Itu kenapa statistik jumlah penonton sangat penting.</p>
<p>Pada tahun 2015, Java Jazz diperkirakan ditonton oleh 110.000 orang selama tiga hari. Semisal tiap penonton menghabiskan Rp200 ribu, maka jumlah pengeluaran untuk makanan dan minuman adalah Rp22 miliar. Hanya dari makanan dan minuman saja. Andai nominal itu menyetor pajak 10 persen saja, maka paling tidak Pemprov DKI mendapatkan Rp2,2 miliar hanya dari satu acara.</p>
<p>Selain makanan dan minuman, suvenir juga menjadi pemasukan yang menguntungkan bagi penyelenggara festival. Namun sayang penyelenggara Java Jazz membatasi jumlah suvenir yang diproduksi. Salah satu suvenir paling popular di Java Jazz adalah kaos. Pada 2015, penyelenggara memproduksi kaos sebanyak 6.000 helai dengan harga Rp150 ribu. Kaos itu selalu terjual habis. Ini artinya ada pemasukan Rp900.000.000 dari kaos.</p>
<p>Menurut Americans for the Arts (2002), pengeluaran terbesar wisatawan budaya adalah untuk biaya servis. Biaya servis terbesar adalah makanan dan minuman, kemudian diikuti oleh suvenir. Ini artinya, sebuah festival musik yang potensial menjadi wisata musik (dan menjadi bagian dari wisata budaya), perlu memperhatikan sektor servis.</p>
<p><em>Post scriptum: ini nukilan tesis saya yang membicarakan tentang pariwisata musik dengan contoh kasus Java Jazz. Kalau sudah selesai ujian, bentuk pdf-nya akan saya sebar gratis. </em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/">Pariwisata Musik: Servis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3639</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cinta yang Diam-Diam</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/cinta-yang-diam-diam/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/cinta-yang-diam-diam/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 May 2016 00:11:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3634</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta adalah kota yang aneh dan juga kasihan. Kita kerap mengutuknya dengan keras. Memakinya dengan lantang. Membencinya hingga ubun-ubun. Tapi toh kita kerap mencintainya diam-diam. Tentu saja begitu, sebab siapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/cinta-yang-diam-diam/">Cinta yang Diam-Diam</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><iframe loading="lazy" class="youtube-player" width="790" height="445" src="https://www.youtube.com/embed/QW6azbUNCRg?version=3&#038;rel=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;fs=1&#038;hl=en-US&#038;autohide=2&#038;wmode=transparent" allowfullscreen="true" style="border:0;" sandbox="allow-scripts allow-same-origin allow-popups allow-presentation"></iframe></p>
<p>Jakarta adalah kota yang aneh dan juga kasihan. Kita kerap mengutuknya dengan keras. Memakinya dengan lantang. Membencinya hingga ubun-ubun. Tapi toh kita kerap mencintainya diam-diam. Tentu saja begitu, sebab siapa yang mau dengan senang hati dan sukarela mencintai kota yang teramat buruk rupa macamnya.</p>
<p>Kalau Jakarta dianggap sebagai iblis buruk rupa, maka Jogja adalah malaikat. Kota ini adalah kesayangan semua orang. Tak ada orang yang membencinya. Ya mungkin ada satu dua sih. Namun tentu jumlahnya minor belaka. Jogja kerap dipuji sebagai kota yang istimewa. Yang bisa membuatmu jatuh cinta sekali pandang. Dan jika kau pernah tinggal di sana, wassalam, kamu tak akan pernah benar-benar bisa lepas darinya.</p>
<p>Saya mengalami itu. Tiga tahun tinggal di Jogja, membuat saya cinta setengah mati padanya. Dan betapa bergidiknya saya ketika harus pindah ke Jakarta. Dari taman firdaus pindah ke neraka.</p>
<p>Tapi toh akhirnya benar. Cinta bisa datang karena kebiasaan. Tapi tentu saja cinta pada Jakarta adalah hal yang berbeda. Kamu pasti jarang menemui orang yang terang-terangan bilang cinta Jakarta. Kecuali C&#8217;mon Lennon, tentu saja. Kalau orang cinta Jogja, dia akan mendeklamasikannya terang-terang. Kalau cinta Jakarta, cukup dipendam dalam hati saja. Cinta yang diam-diam.</p>
<p>Tapi itulah. Sekarang masih Sabtu pagi, saya duduk di lantai Stasiun Tugu. Di sebelah saya adalah satu kantong kresek berisi sekotak nasi gudeg Yu Djum, dengan lauk telur dan ayam suwir. Masih hangat, baru saya beli beberapa menit jelang stasiun. Tapi saya tak bisa memakannya sekarang. Perut saya terlatih tak sarapan. Kalau itu dilanggar, sakit perut bertamu.</p>
<p>Sepagi ini Tugu sudah hiruk pikuk. Penumpang datang dan pergi. Tapi tentu kamu tak bisa melihat sepasang kekasih yang saling berpelukan setelah lama tak jumpa. Nihil pula orang tua yang menjemput atau mengantar anaknya. Stasiun kini sudah tak sudi menyediakan romantika macam itu. Tempat yang dulu kerap dijadikan latar perpisahan yang bikin jeri, kini tak lebih dari bangunan bertiang baja dan beralas tegel. Dingin. Tanpa nyawa. Begitulah.</p>
<p>Saya memaksa untuk pulang ke Jakarta. Padahal sekarang masih hari libur. Saya mungkin rindu Jakarta. Walau satu dari sedikit alasan saya merindukan kota itu sedang tak ada di tempat. Saya mungkin merindukan kemacetannya. Caci maki di jalan. Wajah-wajah para pekerja keras.</p>
<p>Tapi saya bohong.</p>
<p>Saya tak rindu Jakarta. Lagipula siapa yang begitu tolol mendahulukan Jakarta ketimbang Jogja. Alasan saya pulang buru-buru adalah karena motor saya terparkir di Stasiun Senen. Sudah empat hari. Di luar perkiraan. Semakin lama saya meninggalkannya di sana, semakin mahal pula tiket parkir saya tebus.</p>
<p>Sekarang tanggal tua. Dan saya tentu tak rela menghabiskan ratusan ribu untuk parkir belaka.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/cinta-yang-diam-diam/">Cinta yang Diam-Diam</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/cinta-yang-diam-diam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3634</post-id>	</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s A Sad World After All</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/its-a-sad-world-afterall/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/its-a-sad-world-afterall/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 May 2016 13:36:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<category><![CDATA[It's A Sad World Afterall]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3630</guid>

					<description><![CDATA[<p>It&#8217;s A Sad World After All. Kesedihan itu hal umum di Jakarta. Kalau sedang berada di jalan pada malam hari, tengoklah ke kanan kiri. Ada banyak kesedihan yang bisa kamu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/its-a-sad-world-afterall/">It&#8217;s A Sad World After All</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>It&#8217;s A Sad World After All.</em></p>
<p>Kesedihan itu hal umum di Jakarta.</p>
<p>Kalau sedang berada di jalan pada malam hari, tengoklah ke kanan kiri. Ada banyak kesedihan yang bisa kamu temukan. Di Jakarta. Penjual gorengan yang dagangannya tak laku. Bapak tua penjual cuanki yang berjalan dengan tertatih. Anak-anak kecil berwajah kantuk yang berdiri di lampu merah sembari memegang berbungkus-bungkus tisu untuk dijual.</p>
<p>Beberapa hari lalu saya membeli makan. Ayam bakar. Hujan kemudian turun. Deras. Saya melihat seorang pegawai mulai memasukkan dagangan ke tas kresek. Ada ayam, sate usus, sate rempelo ati, sate ceker, tempe, tahu. Sudah mau tutup mas, tanya saya. Dia mengangguk sembari tersenyum kecut.</p>
<p>Sudah jualan mulai pagi. Kalau hujan gini, apalagi tengah malam, sudah gak bakal ada yang beli. Dia bilang itu sembari terus memasukkan dagangannya yang tak laku. Seorang kawannya tetap membakar ayam yang saya pesan.</p>
<p>Saya menengok jam di pergelangan tangan. Sudah menjelang 12 malam.</p>
<p>Di perjalanan pulang, saya menyaksikan seorang bapak yang berdiri di perempatan ujung jalan Ampera Raya, di seberang Cilandak. Dugaan saya dia mau ke terminal Kampung Rambutan, untuk kemudian entah ke mana lagi. Saya sekilas menengok wajahnya. Lelah.</p>
<p>Seringkali saya, mungkin juga kamu dan semua orang di dunia ini, merasa sedih karena melihat orang sedih. Membayangkan betapa berat hidup sialan ini.</p>
<p>Saat awal hidup di Jakarta, saya berusaha benar bertahan melihat segala rupa kepiluan. Lama kelamaan mungkin saya terbiasa. Saya jadi ketakutan sendiri. Takut bahwa nanti saya bisa jadi kebal. Kemudian kehilangan rasa empati.</p>
<p>Saya tak mau itu.</p>
<p>Agar tak terlampau sering menjumpai raut-raut wajah kusut, saya menghindari pulang pada jam normal. Pada jam itu, kamu akan melihat wajah-wajah yang terdiri dari berbagai rupa: capek, lelah, marah, kesal, kosong, gemas. Segala macam rupa ada di jalan. Saya tak mau melihat wajah-wajah seperti itu. Belum lagi kalau kamu ke stasiun kereta dan menyaksikan ribuan orang menuju rumah masing-masing.</p>
<p>Tapi ternyata meski saya pulang semalam apapun, bahkan dini hari sekalipun, wajah-wajah seperti itu masih bisa saya temui. Lama-lama, saya tak berusaha terlalu keras untuk menghindarinya. Wajah-wajah itu seakan bilang: the more you ignore me, the closer I get.</p>
<p>Mereka, para manusia berwajah sedih itu, kemudian melatih saya untuk tetap tegar. Melatih agar tidak melulu mengeluh atau berkeluh kesah. Mengajarkan untuk selalu bersyukur. Klise memang. Tapi manjur, setidaknya untuk diri sendiri.</p>
<p>Saya tak mau jadi seperti banyak kawan yang hobi menggerutu di status media sosial. Merutuk, mengutuk, menyumpah, seperti tak ada lagi sisa kebahagiaan dalam dirinya. Seperti tak ada lagi energi tersisa untuk berkisah tentang hal kecil yang membuatnya merasa senang. Hanya bersisa marah dan marah dan marah. Seakan-akan hanya dia seorang yang punya hak eksklusif atas kekecewaan, kesedihan, juga kemarahan.</p>
<p>Padahal, siapa di dunia ini yang tak pernah kecewa dan sedih, atau marah?</p>
<p>Kalau kacamata kita perbesar, sepertinya kita tinggal di negara yang bersinonim dengan kesedihan. Juga kemarahan. Ditambah kekecewaan. Buku dibakar. Diskusi dibubarkan. Anak sekolah diperkosa ramai-ramai kemudian dibunuh. Tanah leluhur dirampas atas nama pembangunan. Bapak menghamili anak kandungnya. Anak memutilasi ibu yang melahirkannya. Yang mayoritas menghantam yang lebih sedikit. Negara brengsek ini seperti terbakar pelan-pelan, dan banyak dari kita tak bisa berbuat apa-apa selain mengutuk dan bersedih. Negara bajingan ini menjelma menjadi tempat yang sudah tak punya lagi kisah-kisah bajik, seperti yang dulu didongengkan oleh Nenek pada cucunya.</p>
<p>Coba tengok lagi dunia dengan suryakanta. Lebih kacau lagi. Orang beda keyakinan dibunuh. Bocah kecil tewas tenggelam. Penonton konser diberondong tembakan. Rumah sakit dibom. Saking terlalu banyak tragedi, susah untuk mengingatnya satu-satu. Mereka kemudian akan kita ingat satu dua minggu, untuk kemudian tergantikan oleh tragedi yang lain.</p>
<p>Tadi malam saya pulang agak cepat. Sekira jam 9 sudah sampai kontrakan. Di pagar, saya melihat sebuah gembok tergantung. Heran. Biasanya tak ada gembok. Kemudian Mas Arif, tetangga dari kamar nomor dua menghampiri. Menyerahkan satu kunci gembok.</p>
<p>&#8220;Hari Sabtu kemarin motor Mas Jay hilang,&#8221; katanya.</p>
<p>Saya nggumun. Hari Sabtu itu saya menonton Java Jazz. Baru sampai rumah sekitar pukul 2 dini hari. Kata Mas Arif, motor hilang diperkirakan pukul 3-4 pagi. Saat itu sedang hujan. Semua penghuni kontrakan sedang terlelap.</p>
<p>Kemudian saya membayangkan wajah Mas Jay. Pasti dia sedih. Kehilangan. Bisa jadi motor itu punya banyak kenangan bagi Mas Jay dan istrinya. Motor merek V berwarna putih itu tetap dia pakai ke mana-mana meski dia sudah punya mobil.</p>
<p>Tapi tadi malam, setelah menerima kunci gembok, saya tak sempat ketemu Mas Jay. Pintu kontrakannya tutup. Mungkin sudah istirahat. Lagi-lagi terbayang raut muka sedih Mas Jay, juga mereka yang kehilangan, apapun itu.</p>
<p>Saya masuk kamar. Melepas celana panjang. Menghidupkan lampu dapur. Memotong tomat kecil-kecil. Juga acar timun. Menuang mayonaise. Memberinya susu kental manis. Saya mengambil lemon dari kulkas. Menyerut sedikit kulitnya. Memotong sedikit bagian, kemudian memeras sarinya. Saya mengolesnya pada dua tangkup roti tawar. Juga membuat telur mata sapi. Saya menyantapnya sembari memutar Ash Wednesday.</p>
<p><em>I am in the mood of grey and blue tonight</em>.</p>
<p>Elvis Perkins pun mengingatkan saya akan fitrah dunia ini. &#8220;It&#8217;s a sad world after all,&#8221; katanya. Murung. Kelabu. Muram. Sialan. Saya benci menjadi sedih. Tapi apa boleh buat. It&#8217;s a sad world after all. Suka tidak suka, diakui atau tak diakui, kesedihan memang bukan barang langka di dunia ini.</p>
<p>Apalagi di Jakarta. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/its-a-sad-world-afterall/">It&#8217;s A Sad World After All</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/its-a-sad-world-afterall/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3630</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Rumah Bernama Yu Djum</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/rumah-bernama-yu-djum/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/rumah-bernama-yu-djum/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2016 11:03:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<category><![CDATA[Gudeg Yu Djum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3627</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gudeg Yu Djum adalah rumah. Tak peduli seberapa jauh kamu mengembara, kamu akan kembali. Tak peduli seberapa banyak penjual gudeg di Jogja, ke sana kamu akan berlabuh pulang. Ke Yu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/rumah-bernama-yu-djum/">Rumah Bernama Yu Djum</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr">Gudeg Yu Djum adalah rumah. Tak peduli seberapa jauh kamu mengembara, kamu akan kembali. Tak peduli seberapa banyak penjual gudeg di Jogja, ke sana kamu akan berlabuh pulang. Ke Yu Djum.</p>
<p dir="ltr">Kamu tentu boleh berdebat seperti apa gudeg yang enak dan ideal. Beberapa suka gudeg yang tak terlalu manis. Beberapa suka gudeg dari manggar. Tapi tentu saja, gudeg harus legit. Di sana esensi gudeg. Entah ini benar atau tidak, mungkin kelakar saja, gudeg yang manis itu simbol. Bahwa hidup sudah pahit, seharusnya dibuat manis. Perihal ada areh yang berasa gurih atau krecek pedas, anggap aja itu Yin bagi Yang.</p>
<p dir="ltr">Yu Djum adalah perwujudan ideal sepiring gudeg Jogja. Hampir semua unsurnya bercitarasa manis. Bahkan arehnya sekalipun. Kreceknya lembut. Pedas dengan campuran lumatan tempe, membuatnya jadi penyeimbang yang baik. Dan yang paling istimewa adalah telurnya. Telur bebek, dimasak bersama bumbu dalam waktu yang ultra lama. Menghasilkan telur dengan warna luar yang cokelat tua, gelap segelap hati Nody yang sekarang sedang galau. Belahlah, kamu akan menemukan putih dan kuning telur yang solid.</p>
<p dir="ltr">Karena butuh waktu masak yang lama, sangat jarang kamu menemukan telur yang seperti ini. Tak banyak penjual gudeg yang mau repot-repot membakar banyak gelondongan kayu atau membuang berkubik-kubik gas guna memasak telur seperti buatan Yu Djum&#8211;atau sekarang, penerusnya.</p>
<p dir="ltr">Apapun yang dimakan pertama akan selalu membekas. Gudeg Yu Djum, yang merupakan pengalaman pertamaa say memakan gudeg, akan selalu membekas. Di hati ia bersemayam. Tak peduli lidah sudah mencecap banyak gudeg lain. Tak peduli orang bilang ada banyak gudeg yang lebih enak.</p>
<p dir="ltr">Tetap ke sana aku kan kembali. Ke  Yu Djum.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/rumah-bernama-yu-djum/">Rumah Bernama Yu Djum</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/rumah-bernama-yu-djum/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3627</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Beli Mobil ya di Achmad Zacky</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/beli-mobil-ya-di-kiki/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/beli-mobil-ya-di-kiki/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2016 10:49:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3620</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya sudah pernah cerita soal abang saya ndak sih? Namanya Achmad Zacky, tapi panggilan akrabnya Kiki. Sewaktu kecil, kami akrab sekaligus sering berantem. Badannya lebih kecil ketimbang saya. Makanya ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/beli-mobil-ya-di-kiki/">Beli Mobil ya di Achmad Zacky</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah pernah cerita soal abang saya ndak sih?</p>
<p>Namanya Achmad Zacky, tapi panggilan akrabnya Kiki. Sewaktu kecil, kami akrab sekaligus sering berantem. Badannya lebih kecil ketimbang saya. Makanya ada banyak foto di mana saya sering mengusili dia. Mulai memegang kepalanya, hingga mencekik lehernya. Dan dia nangis, tentu saja. Tapi saya kualat. Selepas SMP, badannya menjulang tinggi. Sekitar 175 centimeter. Sementara saya tetap mandeg di 165 centimeter. Asu tenan.</p>
<p>Satu yang paling menggambarkan abang saya adalah kesulitannya berbicara di depan orang umum. Pernah ada pengalaman ketika kami ikut pelatihan metodologi penelitian yang diadakan oleh Pelajar Islam Indonesia (Ya, kami dulu ikut organisasi ini waktu SMP), Kiki sama sekali diam sewaktu harus presentasi hasil penelitian. Diam, sama sekali ndak bisa ngomong.</p>
<p>Makanya saya kaget sewaktu dia memutuskan untuk bekerja jadi sales mobil di Honda. Sewaktu masih kuliah, hingga beberapa tahun selepas lulus, Kiki masih menggeluti profesi atlet. Dia atlet anggar andalan Jawa Timur. Beberapa kali dapat medali emas. Pernah juga jadi pelatih tim Sidoarjo, mengantar tim ini jadi juara di kejuaraan Nasional.</p>
<p>Tapi sepertinya dia bosan, atau entah alasan apa, Kiki memilih kerja kantoran saja. Jadi sales mobil itu. Saya membayangkan Kiki bakal kesusahan ngomong di depan kliennya. Pasti hari-harinya bakal berat.</p>
<p>Lha kok perkiraan saya salah, sama seperti waktu dulu saya berpikir kalau Kiki bakal terus pendek dan akan terus saya risak selamanya.</p>
<p>Ternyata Kiki berperforma bagus. Rekornya: menjual 4 mobil dalam satu bulan. Bajingan bener. Saya yang jago ngedabrus aja belum tentu bisa menjual mobil. Lha ini kakak saya yang pendiam bisa menjual mobil dengan cepat, dalam keadaan ekonomi Indonesia yang lagi terpuruk. Hebat. Karena performanya yang bagus itu, Kiki akan dikirim untuk lomba antar sales regional Jawa Timur.</p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/13133346_597700297070772_6208292303274626729_n.jpg" rel="attachment wp-att-3624"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3624 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/13133346_597700297070772_6208292303274626729_n.jpg" alt="13133346_597700297070772_6208292303274626729_n" width="540" height="960" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/13133346_597700297070772_6208292303274626729_n.jpg 540w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/13133346_597700297070772_6208292303274626729_n-169x300.jpg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/13133346_597700297070772_6208292303274626729_n-236x420.jpg 236w" sizes="(max-width: 540px) 100vw, 540px" /></a></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/2621dd66-6043-4a3b-bee6-e0f6768468e7.jpg" rel="attachment wp-att-3622"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3622 alignnone" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/2621dd66-6043-4a3b-bee6-e0f6768468e7.jpg" alt="2621dd66-6043-4a3b-bee6-e0f6768468e7" width="720" height="1280" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/2621dd66-6043-4a3b-bee6-e0f6768468e7.jpg 720w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/2621dd66-6043-4a3b-bee6-e0f6768468e7-169x300.jpg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/2621dd66-6043-4a3b-bee6-e0f6768468e7-576x1024.jpg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/2621dd66-6043-4a3b-bee6-e0f6768468e7-696x1237.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2016/05/2621dd66-6043-4a3b-bee6-e0f6768468e7-236x420.jpg 236w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></a></p>
<p>Saya bangga dengan Kiki, selalu. Baik sebagai mahasiswa 7 tahun, sebagai atlet, sebagai pelatih anggar, maupun sebagai penjual mobil. Dia lelaki hebat, dan pekerja keras. Karena itu, meski mungkin di awal kerjanya dia harus berlatih ngomong, dia pasti bakal jadi sales yang hebat.</p>
<p>Oh ya, tulisan ini sekaligus mempromosikan Kiki. Kalau kamu ada di daerah Tapal Kuda, terutama Jember, saya rekomendasikan untuk membeli mobil padanya. Saya pastikan kalau servis dan pelayanannya bagus. Nomor kontaknya sudah saya cantumkan di foto atas maupun foto kedua.</p>
<p>Semangat cuk!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/beli-mobil-ya-di-kiki/">Beli Mobil ya di Achmad Zacky</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/beli-mobil-ya-di-kiki/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3620</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perempuan yang Tak Bisa Hidup Tanpa Tomat</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/perempuan-yang-tak-bisa-hidup-tanpa-tomat/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/perempuan-yang-tak-bisa-hidup-tanpa-tomat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 May 2016 12:37:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<category><![CDATA[Little Forest]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3608</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari lalu saya usai menyaksikan film Little Forest. Ini film Jepang yang diambil dari manga Ritoru Foresuto karya Daisuke Igarashi. Terdiri dari empat bagian, yang mengambil nama musim. Film [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/perempuan-yang-tak-bisa-hidup-tanpa-tomat/">Perempuan yang Tak Bisa Hidup Tanpa Tomat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari lalu saya usai menyaksikan film <em>Little Forest</em>. Ini film Jepang yang diambil dari manga <em>Ritoru Foresuto</em> karya Daisuke Igarashi. Terdiri dari empat bagian, yang mengambil nama musim. Film pertama dirilis pada 2014, terbagi atas <em>Summer</em> dan <em>Autumn</em>. Duologinya rilis setahun kemudian, <em>Winter</em> dan <em>Spring</em>.</p>
<p>Kisahnya sederhana. Tentang kehidupan seorang gadis bernama Ichiko di Komori, sebuah desa yang terletak di bawah kaki gunung di kawasan Tohoku. Sewaktu beranjak remaja, selepas SMA, Ichiko pindah ke kota besar. Namun akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.</p>
<p>Film ini menarik karena beberapa hal. Pertama karena menghadirkan pemandangan desa Komori yang indah. Kedua, karena menghadirkan masakan yang diambil dari bahan lokal. Dalam tiap musim, Ichiko memasak beberapa masakan yang kerap disesuaikan dengan musim. Misalkan ketika musim salju datang, Ichiko membuat sup kacang merah yang dipadukan dengan mochi dan natto (fermentasi kacang kedelai). Atau ketika musim semi yang hangat berkunjung, dia membuat bakke miso, makanan klasik Jepang berbahan bunga fukinotou yang selalu tumbuh di tanah ketika musim semi.</p>
<p>Hal menarik lain adalah karena film ini berhasil menghadirkan, apa ya, semacam imaji bahwa hidup di desa itu menyenangkan. Kamu bisa makan dari hasil alam. Makan nasi yang diambil dari lahan sendiri. Memancing ikan di kolam yang kamu isi sendiri. Memetik wortel dari kebun sendiri. Di negara maju seperti Jepang, gaya hidup seperti ini mulai ditinggalkan tapi sekaligus dirindukan. Ichiko tak pelak mengalami hal yang sama.</p>
<p>Suatu ketika, saat buah tomat mulai memerah dan siap panen, seorang nenek di desa itu menasehati Ichiko untuk membuat rumah kaca bagi tomat-tomatnya. Sebab tomat rawan rusak kalau terkena air. Ichiko tak mau melaksanakan saran itu. Dengan <em>gumun</em> dia berkata dalam hati, &#8220;Kalau aku membangun rumah kaca untuk tanaman-tanamanku, ini artinya aku harus tinggal di sini selamanya.&#8221;</p>
<p>Rumah kaca dianggap sebagai pengikat bagi Ichiko yang sebenarnya juga masih gamang untuk tinggal di Komori dalam kurun yang lama. Di sana memang menyenangkan. Suasana desa yang alami, makanan tinggal ambil. Namun di sisi lain, penduduk mudanya merasa teralienasi.</p>
<p>Di Komori, penduduk mayoritas adalah mereka yang berusia sepuh. Anak-anak muda seperti Ichiko maupun Yuta dan Kikko &#8212; dua kawan Ichiko sedari kecil&#8211; adalah kelompok minoritas. Yuta pernah tinggal di kota besar juga, namun memutuskan untuk kembali dan hidup di kampung halamannya.</p>
<p>&#8220;Di kota banyak orang bermulut besar. Mereka ngomong apa yang tak mereka ketahui. Di Komori, orang ngomong apa yang mereka tahu saja. Ketika aku pergi dari sini dan bertemu orang-orang di kota, aku jadi sadar kalau orang-orang Komori sangat pantas aku hormati,&#8221; kata Yuta.</p>
<p>Karena tulisan ini tak dimaksudkan untuk jadi resensi, maka saya cukupkan ceritanya sampai di sini saja. Babagan tentang resensi film ini akan saya tulis lebih panjang kalau sedang senggang nanti. Sekarang saya cuma mau cerita salah satu adegan favorit saya, ketika Ichiko bicara soal tomat.</p>
<p>&#8220;Tomat itu tanaman yang kuat. Bahkan ketika bijinya disebar begitu saja, mereka akan berkecambah dan tumbuh di tahun berikutnya. Kalau kamu mengabaikannya saja, dahannya akan terus tumbuh. Seperti hutan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tomat yang didinginkan pada musim panas itu sangat menyegarkan. Tomat juga sangat penting bagi masak memasak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku memanen tomat yang sudah matang, mengupasnya lalu merebusnya. Kemudian aku masukkan tomat itu ke dalam toples, kembali direbus agar steril. Dan tomat siap disimpan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pada musim dingin, aku memasukkan tomat itu ke dalam kari dan spaghetti. Aku juga memasukkan tomat ke dalam kulkas dan kadang aku makan langsung. Enak sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tak bisa membayangkan hidup tanpa tomat.&#8221;</p>
<p>Ketika Ichiko mengucapkan kalimat terakhir itu, saya langsung mendadak ingat sambal terasi yang dibuat dari tomat ataupun ranti yang dipetik dari kebun kecil di depan rumah. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/perempuan-yang-tak-bisa-hidup-tanpa-tomat/">Perempuan yang Tak Bisa Hidup Tanpa Tomat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/perempuan-yang-tak-bisa-hidup-tanpa-tomat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3608</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perginya Sang Pangeran</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/perginya-sang-pangeran/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/perginya-sang-pangeran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 May 2016 11:40:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<category><![CDATA[Prince]]></category>
		<category><![CDATA[Prince Meninggal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3604</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suatu hari, gitaris Eric Clapton ditanya oleh seorang reporter. &#8220;Bagaimana rasanya menjadi gitaris terbaik dunia?&#8221; Eric diam sebentar. Lalu menjawab, &#8220;Entahlah, tanyakan itu ke Prince.&#8221; Clapton tak sedang sarkas atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/perginya-sang-pangeran/">Perginya Sang Pangeran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari, gitaris Eric Clapton ditanya oleh seorang reporter.</p>
<p>&#8220;Bagaimana rasanya menjadi gitaris terbaik dunia?&#8221;</p>
<p>Eric diam sebentar. Lalu menjawab, &#8220;Entahlah, tanyakan itu ke Prince.&#8221;</p>
<p>Clapton tak sedang sarkas atau membual. Seluruh orang boleh punya gitaris terbaik versi masing-masing. Johnson. Hendrix. Krieger. Barret. Richards. Van Halen. Slash. DeMartini. Vai. Malmsteen. Satriani. Nuno. Iommi. Page. Harrison. May. Dan tentu saja Clapton.</p>
<p>Namun maaf-maaf saja nih, Bung. Prince menempati ceruk khusus. Ia bermain seperti gabungan antara Little Richards dan Hendrix. Prince adalah seorang virtuoso yang menjadikan gitar sebagai bagian dari tubuhnya. Tak berhenti sampai di sana, ia juga berhasil menarik permainan gitar dan segala kemagisannya ke ranah yang dianggap asing dari tanah rock n roll: RnB.</p>
<p>Nama Prince memang sering terlupa kalau bicara tentang gitar. Bisa jadi karena Prince terlalu &#8220;melebar&#8221;. Dia tidak sekadar bermain gitar. Dia seorang multi-instrumentalis. Dalam album For You, album debut yang dirilis pada 1978, dia memainkan 27 instrumen, alias semua alat musik di album itu. Mulai gitar, minimoog, bongo, conga, clarinet, hingga fuzz bass. Tak cukup hanya bermain alat musik, dia mahir bernyanyi, joget, bahkan bermain film. Mungkin karena itu dia tak dianggap sebagai pendekar gitar.</p>
<p><strong>Pangeran yang Sangat Produktif</strong></p>
<p>Sebagai musisi, Prince sangatlah produktif. Pria bernama asli Prince Rogers Nelson ini baru berumur 18 tahun saat meneken kontrak rekaman dengan Warner Bros. Records pada 1977. Hingga 2015, Prince sudah merilis 39 album studio, 4 live album, dan 6 album kompilasi. Bahkan dalam beberapa kali kesempatan, Prince merilis dua album dalam setahun. Semisal <em>Come</em> dan <em>The Black Album</em> yang dirilis pada 1994, <em>Chaos and Disorder</em> dan <em>Emancipation</em> pada 1996, hingga T<em>he Vault: Old Friends 4 Sale</em> dan <em>Raven Un2 the Joy Fantastic</em> yang dirilis pada 1999.</p>
<p>Bahkan pernah pada 2004, Prince merilis tiga album sekaligus. Tak cukup hanya double album, tapi triple album. Yakni <em>Musicology</em>, <em>The Chocolate Invasion</em>, dan <em>The Slaughterhouse</em>. Prince juga menulis lagu lebih banyak ketimbang The Beatles. Katalog lagu yang dia tulis mencapai lebih dari 600 lagu. Beberapa di antaranya dinyanyikan ulang oleh generasi setelahnya, seperti “Nothing Compares 2 You” yang dipopulerkan kembali oleh Sinnead O’Connor.</p>
<p>Dari semua albumnya, mungkin tak ada yang memiliki pengaruh sebesar album ke enamnya, <em>Purple Rain</em>. Di album ini, Prince pertama kalinya mengenalkan band pengiringnya: The Revolution. Formasi ini membawa pengaruh besar. Musik Prince lebih terasa unsur band-nya. Drum, gitar, bahkan synth sama-sama menonjol. Prince juga menampilkan permainan gitar gila-gilaan, sesuatu yang membuatnya dijuluki virtuoso. Kemampuan yang membuat Clapton &#8211;kerap dijuluki sebagai dewa gitar&#8211; menyebut Prince sebagai gitaris terbaik dunia.</p>
<p>Ada banyak cerita tentang lagu-lagu di album ini. Tentang &#8220;Darling Nikki&#8221;, misalkan. Lagu ini yang membuat Tipper Gore &#8211;istri mantan Wakil Presiden Al Gore&#8211; membentuk Parents Music Resource Center gara-gara anaknya yang berumur 12 tahun kala itu mendengarkan &#8220;Darling Nikki&#8221; yang bermuatan seksual. Lembaga ini kemudian memaksa industri musik untuk menaruh label peringatan &#8220;Parental Advisory: Explicit Lyics&#8221; bagi album-album yang mempunyai konten lirik &#8220;berbahaya&#8221; dan tidak cocok untuk anak-anak. Kasus ini menjadi besar dan heboh. Beberapa musisi seperti Frank Zappa, Dee Snider, dan John Denver menolak keras usulan ini.</p>
<p>Lagu termegah di album ini, sekaligus yang terbesar sepanjang karir Prince adalah &#8220;Purple Rain&#8221;, sebuah balada agung yang aslinya berdurasi 11 menit, kemudian dipotong hingga jadi 8 menit 41 detik. Prince awalnya meminta musisi Stevie Nicks untuk menulis liriknya. Tapi setelah mendengar musiknya, Nicks menolak.</p>
<p>&#8220;Itu lagu yang luhur sekali&#8230; aku mendengarkannya dan jadi ketakutan. Aku telepon Prince dan bilang kalau aku tak bisa bikin liriknya. Lagu ini terlalu besar untukku,&#8221; kata Nicks yang merupakan anggota grup Fleetwood Mac.</p>
<p>Akhirnya Prince sendiri yang menulis liriknya. Tentang kisah cinta yang kandas. Tentang persahabatan yang hancur. Musiknya perpaduan antara rock, blues, pop, dan gospel. Lagu ini menjadi sebuah simbol, setidaknya bagi para penggemarnya. Prince menampakkan sisi romantis dan melankolisnya. Tapi jangan salah, solo gitar lagu ini begitu garang sekaligus indah.</p>
<p>Lagu kudus ini masuk dalam peringkat 143 dalam senarai 500 Lagu Terbaik Sepanjang Masa versi majalah musik Rolling Stone. Majalah Q menempatkan lagu ini di nomor 40 dalam 100 Lagu Gitar Terbaik. Sedangkan situs musik Pitchfork menasbihkannya sebagai lagu terbaik dari dekade 1980-an.</p>
<p>Secara album, pencapaiannya juga teramat dahsyat. Dianggap sebagai magnum opus Prince, album ini berada dalam peringkat 15 Album Terbaik Sepanjang Masa versi majalah Time. Dalam daftar 500 Album Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone, album ini menempati peringkat 76. Prince memenangkan dua Grammy Awards pada 1985 berkat album ini.</p>
<p>Album ini juga dijadikan <em>soundtrack</em> untuk film berjudul sama, dibintangi oleh Prince sendiri, dan juga sukses besar. Dengan modal hanya USD7 juta, film ini berhasil meraup pendapatan hingga USD68 juta.</p>
<p>Album Purple Rain juga mendapat Oscar untuk kategori Best Original Song Score. Pada tahun 2012, album ini dimasukkan ke dalam daftar National Recording Registry oleh Library of Congress, sebuah daftar untuk album yang &#8220;&#8230;penting secara kultural, historikal, dan estetikal.&#8221; Secara penjualan, album ini terjual sebanyak 22 juta keping di seluruh dunia.<br />
<strong>Pangeran yang Nyentrik</strong></p>
<p>Siapapun pasti akan setuju kalau Prince adalah musisi yang nyentrik. Kadang kelakuannya suka bikin geleng-geleng kepala. Seperti misal ketika dia mengambil alih seluruh alat musik untuk membuat album debutnya. Atau kisah sewaktu tur Britania Raya pada 1987. Saat itu Prince tak bisa memasukkan piano ke hotel tempat tinggalnya. Maka dia menyewa crane guna mengangkat piano itu untuk kemudian dimasukkan melalui jendela kamarnya.</p>
<p>Kisah nyentrik lain adalah betapa Prince benci dengan dunia digital. Pada 2008, Prince tampil di festival musik Coachella. Dia sempat membawakan lagu &#8220;Creep&#8221; milik band Inggris Radiohead. Tapi Prince melarang orang untuk mengunggah video itu ke Youtube. Tapi akhirnya video itu toh diunggah juga karena Thom Yorke, vokalis Radiohead, memberi izin. &#8220;Lagipula itu kan laguku,&#8221; kata Yorke. Kemudian pada 2014, Prince menuntut 22 orang yang mengunggah penampilan Prince ke Youtube. Ketidaksukaan Prince pada internet dan dunia digital memang sudah bukan rahasia.</p>
<p>&#8220;Internet akan berakhir. Seperti MTV, dalam suatu masa MTV pernah berjaya. Tapi kemudian jadi ketinggalan zaman. Lagipula, semua komputer dan gawai digital ini sama sekali tidak bagus. Mereka hanya mengisi kepalamu dengan nomor dan angka, dan itu jelas tak bagus untukmu,&#8221; kata Prince pada 2010.</p>
<p>Ironisnya, juga sekaligus lucu, Prince malah punya akun Twitter. Tak hanya itu, dia juga punya Instagram. Nama akunnya? Princestagram.</p>
<p>Kisah lucu lainnya adalah, Prince juga suatu hari pernah direncanakan berduet dengan Michael Jackson di lagu &#8220;Bad&#8221;. Tapi membaca lirik awalnya, Prince tak sreg dan kemudian membatalkan kontribusinya.</p>
<p>&#8220;Pantatmu itu milikku,&#8221; kata Prince menirukan kalimat awal lagu &#8220;Bad&#8221;. &#8220;Itu siapa yang bernyanyi untuk siapa? Karena jelas pantatku bukan untukmu.&#8221;</p>
<p>Tapi kisah-kisah absurd dan lucu itu belum seberapa.</p>
<p>Pada 1987, Prince merilis berencana merilis album ke enam belasnya, <em>The Black Album</em>. Tak ada judul di sampul depan, tak ada liner notes. Benar-benar hanya menampilkan warna hitam. Namun saat Warner baru selesai mencetak 500.000 keping, Prince menarik album ini dan memaksa label untuk tidak mengedarkannya. Alasannya? Prince mendapat mimpi kalau album ini adalah roh jahat, perwujudan setan. Prince kemudian memilih masuk studio dan merekam <em>Love Sexy</em> dalam waktu 8 minggu saja. Warner tak bisa apa-apa selain menuruti Prince, dan baru menjual <em>The Black Album</em> secara terbatas pada 1994.</p>
<p>Kalau itu belum cukup nyentrik, coba dengar kisah Prince pada 1993. Di tahun itu, Prince mendadak emoh memakai namanya sendiri. Dia mengganti namanya dengan simbol . Jelas tidak bisa diucapkan. Prince menyebutnya sebagai simbol Love. Ini adalah perpaduan antara simbol lelaki dan perempuan. Selain David Bowie, Prince memang dikenal sebagai musisi yang menabrak sekaligus menghancurkan batas gender.</p>
<p>Akhirnya untuk kemudahan, orang-orang dekatnya menyebutnya sebagai Love, atau Bung, kadang Bung Love. Yang kerepotan adalah pihak Warner. Karena mereka harus menyediakan ribuan disket berisi simbol khusus itu untuk keperluan media cetak dan promosi.</p>
<p>Media massa kemudian menyebut si Bung Love ini sebagai TAFKAP, kependekan dari The Artist Formerly Known as Prince. Dan entah dapat wangsit apalagi, si Bung ini kemudian ingin memakai nama Prince lagi beberapa tahun kemudian. Maka media kerap meledeknya sebagai&#8230;</p>
<p>The Artist Formerly Known as &#8216;The Artist Formerly Known as Prince&#8217;.</p>
<p>Mantap, Bung.</p>
<p><strong>Sampai Jumpa Lagi, Pangeran!</strong></p>
<p>Pada 21 April 2016 pukul 9.43 pagi, Kepolisian Carver County mendapat panggilan darurat dari Paisley Park, tempat tinggal dan studio rekaman milik Prince. Mereka kemudian pergi ke lokasi dan menemukan Prince tergeletak di elevator, dalam kondisi tak sadar. Polisi dan tim medis kemudian memberikan pertolongan pertama, tapi Prince tak kunjung sadar. Polisi kemudian merilis berita resmi: Prince meninggal di lokasi pada pukul 10.07 pagi.</p>
<p>Sebelum meninggal, Prince diketahui beberapa kali mengunjungi rumah sakit. Pada 20 April, dia berobat ke Rumah Sakit Twin Cities. Setelah diperiksa, dia diperbolehkan pulang. Media infotainment TMZ melaporkan di hari itu, Prince membeli obat di Apotek Walgreens. Itu adalah kunjungan keempat kali dalam seminggu, yang kemudian jadi indikator kalau kesehatan Prince memang memburuk.</p>
<p>Sebelumnya, Prince memang menderita flu selama berminggu-minggu. Hal itu mengakibatkan Prince membatalkan konser pada 7 April. Tapi Prince membuat konser pengganti pada Sabtu, 16 April. Bertempat di Paisley Park, konser itu hanya diumumkan via Twitter pada pagi harinya, dan tiketnya cuma USD10.</p>
<p>&#8220;Tunggu beberapa hari lagi sebelum kalian memanjatkan doa,&#8221; kata Prince di tengah konser itu.</p>
<p>Bisa jadi ucapan Prince adalah firasat bahwa dia akan mangkat tak lama lagi. Benar saja, lima hari berselang dia ditemukan meninggal dunia.</p>
<p>Banyak orang yang kaget dengan kematian mendadak ini. Tahun 2016 tampaknya memang akan jadi tahun menyebalkan bagi dunia musik. Setelah Bowie meninggal, sekarang Prince yang ikut dipanggil.</p>
<p>&#8220;Mungkin ini adalah rencana Tuhan untuk konser besar di akhirat sana,&#8221; kata Reza Aslan, sejarawan sekaligus penggemar Prince.</p>
<p>&#8220;Ini adalah kehilangan besar. Seperti tak nyata. Aku gak bisa percaya kabar ini. Prince adalah manusia langka, cuma ada satu di dunia ini,&#8221; kata musisi legendaris Aretha Franklin.</p>
<p>&#8220;Hari ini, dunia kehilangan ikon kreativitas. Michelle dan aku bergabung bersama jutaan penggemar dari seluruh dunia, ikut berduka atas kematian mendadak Prince. Hanya sedikit artis yang bisa mempengaruhi sound dan musik pop secara luas, juga menyentuh banyak orang dengan bakatnya. Sebagai salah satu musisi paling hebat dan berbakat, Prince melakukan semuanya. Funk, R&amp;B, rock n roll,&#8221; kata Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.</p>
<p>&#8220;Prince pernah berkata suatu ketika, &#8216;jiwa yang kuat selalu melampaui aturan dan batasan&#8217;. Dan tak ada jiwa yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih kreatif ketimbang Prince,&#8221; kata Obama lagi.</p>
<p>Prince meninggal, tapi sepertinya dia tak mau orang lain berduka. Sekadar mengingatkan, tema kematian bukan tema yang baru untuk dia. Alih-alih meratap dan bersedih, Prince mengajak kita untuk menjalani hidup sebaiknya, dengan penuh seluruh. Seperti di lagu “Let’s Go Crazy”:</p>
<p><em>We’re all excited</em><br />
<em>But we don’t know why</em><br />
<em>Maybe it’s ’cause</em><br />
<em>We’re all gonna die</em><br />
<em>And when we do</em><br />
<em>What’s it all for?</em><br />
<em>You better live now</em><br />
<em>Before the grim reaper come knocking on your door</em></p>
<p>Selamat tinggal Pangeran!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/perginya-sang-pangeran/">Perginya Sang Pangeran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/perginya-sang-pangeran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3604</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Big Bad Wolf yang Membuat Dompet Melolong Lemah</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/big-bad-wolf-yang-membuat-dompet-melolong-lemah/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/big-bad-wolf-yang-membuat-dompet-melolong-lemah/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 May 2016 11:28:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<category><![CDATA[Big Bad Wolf]]></category>
		<category><![CDATA[Big Bad Wolf Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3600</guid>

					<description><![CDATA[<p>Senin depan akan jadi hari terakhir ajang bazaar buku Big Bad Wolf. Apa yang bisa diceritakan selain ajang ini membuat, mengutip Beni Satrio, dompet mengeluarkan lolongan serigala ketika dibuka? Saya [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/big-bad-wolf-yang-membuat-dompet-melolong-lemah/">Big Bad Wolf yang Membuat Dompet Melolong Lemah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Senin depan akan jadi hari terakhir ajang bazaar buku Big Bad Wolf. Apa yang bisa diceritakan selain ajang ini membuat, mengutip Beni Satrio, dompet mengeluarkan lolongan serigala ketika dibuka?</p>
<p>Saya datang pada hari kedua acara bazaar buku yang bermula di Malaysia ini. Awalnya saya mencoba meneguhkan diri untuk tak ke sana. Awal Mei ada libur panjang. Saya ingin menyempatkan diri untuk pulang ke Jember. Dan untuk itu jelas butuh biaya. Namun seorang teman mengirimkan foto buku Anthony Bourdain yang didapat dari acara itu, dengan harga yang sangat miring. Jingan.</p>
<p>Dengan impulsif, tanpa mandi hanya sikat gigi dan cuci muka, saya langsung naik kereta menuju Serpong. Dari Pasar Minggu, ganti kereta di Tanah Abang, lalu turun di Serpong. Setelah sampai Serpong, dua kali memesan ojek online, dan dua-duanya menolak karena mereka terlalu jauh. Lah ngapain order diterima yak?</p>
<p>Begitu saya sampai, alamak antrian sudah lumayan panjang. Tapi ternyata beberapa hari kemudian, antrian yang saya alami tidak seberapa. Saya antri hanya kurang dari 10 menit.</p>
<p>Begitu masuk, saya menghembuskan nafas panjang-panjang. Ajang ini benar-benar akan menguras dompet. Habis-habisan. Di depan saya terhampar ratusan ribu eksemplar buku beraneka judul. Dengan penempatan rak yang rapi. Menurut panitia, mereka menyediakan 2 juta eksemplar buku.</p>
<p>Sebelum berangkat saya sempat berjanji pada diri sendiri, bujet maksimal untuk acara ini adalah Rp500 ribu. Tak boleh lebih. Agar saya tetap bisa pulang ke Jember.</p>
<p>Baru saja berjalan sekira lima langkah, di rak Biografi, saya menemukan buku <em>No Regrets</em>, biografi gitaris Kiss Ace Frehley. Saya pernah melihat buku ini, entah di Kinokuniya atau Periplus, dibanderol Rp210 ribu. Di BBW harganya jadi&#8230; Rp45 ribu. Cuk.</p>
<p>Selanjutnya adalah hawa nafsu yang berbicara. Otak sudah nyaris tak berfungsi. Pilek dan batuk yang saya derita sejak beberapa hari lalu, mendadak hilang begitu saja. Digantikan gairah yang meluap-luap. Ambil ini. Ambil itu. Sikat buku ini. Sikat buku yang itu.</p>
<p>Tanpa kemudian saya sadar, sudah ada sekitar 13 buku yang ada di keranjang. Saya panik. Ini pasti lebih dari bujet yang saya buat sendiri. Saya harus mengurangi belanjaan ini. Setelah saya coba sortir, tak ada buku yang benar-benar layak dipinggirkan. Ah persetan sudah. Lanjut.</p>
<p>Rak musik adalah rak yang paling menarik. Saya dapat buku tebal, full colour, kertas deluxe, berjudul <em>British Invasion</em>. Sesuai judulnya, buku ini berkisah &#8211;dan juga menggambarkan&#8211; tentang gerakan kultural dari Britania Raya yang kemudian menginvasi dunia. Dari Stones, Beatles, Zeppelin, Sex Pistols, Def Leppard, hingga Oasis dan Blur.</p>
<p>Buku <em>Inside Out</em>, biografi Pink Floyd yang ditulis oleh Nick Mason hadir dalam dua jenis. Yang pertama berukuran normal. Yang kedua berukuran <em>coffee table book</em>, dengan lebih banyak gambar. Saya memilih yang kedua.</p>
<p>Melihat Jimmy Page menyandang gitar Les Paul dan tangan kanan diangkat, sontak membuat &#8220;Whole Lotta Love&#8221; langsung berputar di kepala. Kover depan buku biografi Led Zeppelin yang saya lihat itu ditulis Mick Wall, jurnalis legendaris dari majalah musik Kerrang! Dia pernah menulis banyak biografi band, mulai Guns N Roses &#8211;namanya disebut di lagu &#8220;Get in the Ring&#8221; yang memang ditulis Axl untuk ngajak gelut para wartawan&#8211; Iron Maiden, Metallica, dan The Doors.</p>
<p>Buku kuliner juga menarik minat saya. Tapi apa yang saya ambil cukup tersebar, ada di rak Cooking, ada pula yang di rak Traveling. Di rak Cooking, saya menyabet <em>The Food Book</em> keluaran Lonely Planet. Buku setebal 887 halaman dan penuh warna ini cuma dibanderol Rp130 ribu. Saya juga membeli <em>The Food Lover Companion</em>, dengan harga yang sama miring.</p>
<p>Di rak Traveling, buku masak yang saya sabet adalah <em>Kitchen Confidential</em> dan <em>A Cook&#8217;s Tour</em>, dua-duanya buku Anthony Bourdain. Buku ini melengkapi beberapa judul buku Bourdain yang lain. Saya suka Anthony Bourdain dalam beberapa aspek.</p>
<p>Untuk buku memoar juru masak, karya yang paling berkesan buat saya adalah <em>White Heat</em> (1990) yang ditulis oleh Marco Pierre White. Dia adalah pembuka jalan bagi kultur baru juru masak. Tak sekadar menjadi dirijen di dapur, White membawa profesi juru masak ke ranah yang lebih tinggi. Seorang rock star, seorang super star, seorang badung, dan membuktikan kalau profesi juru masak bisa membuatnya memacari model manapun, tak kalah dengan para rock star betulan. Buku <em>White Heat</em> ditulis dengan jujur dan sangat personal, membuka mata kita bagaimana dapur adalah dunia yang berbeda dengan dunia nyata.</p>
<p>Nah <em>Kitchen Confidential</em> ini dalam beberapa titik, nyaris sama derajatnya dengan <em>White Heat.</em> Ditulis dengan jujur dan personal. Siapa yang menyangka kalau Bourdain ingin jadi juru masak bukan karena cinta pada masakan. Melainkan karena ingin ngewe dengan grupis.</p>
<p>Secara kemampuan dan pengaruh, mungkin Bourdain ada satu level di bawah White. Tapi Bourdain menjulang dengan caranya sendiri. Setelah malang melintang jadi juru masak di berbagai restoran terkenal, dia gantung apron dan memutuskan untuk bertualang untuk belajar khazanah gastronomi di berbagai penjuru dunia. Dia juga membuat acara televisi, rutin menulis kolom, dan masih produktif menulis buku. Karena itu Bourdain jadi sangat keren, sekaligus jadi alasan kenapa <em>Kitchen Confidential</em> ini begitu penting.</p>
<p>Selain itu saya melihat beberapa judul buku Bill Bryson. Dia salah satu penulis favorit saya. Lucu, cerdas, dan kadang selera humornya recehan, yang tentu saja sangat saya suka. Tapi saya cuma mengambil At Home. Saya sempat tergoda untuk membeli <em>Notes from Small Island</em> juga <em>A Walk in The Woods</em>. Saya sudah punya dua judul itu (bersama dengan <em>The Lost Continent</em> dan <em>A Short History of Nearly Everything</em>, semuanya saya dapat di bursa buku bekas Blok M). Menarik juga mengoleksi buku dengan judul sama, dan mungkin bisa saya jual. Tapi setelah saya pikir-pikir, mending uangnya dibuat untuk beli buku yang lain.</p>
<p>Menjelang kasir, saya sempat membongkar ulang dan menghitung berapa pengeluaran saya. Di saat itulah, terdengar pengumuman kalau pembayaran tidak bisa dilakukan dengan kartu debit bank B. Jinguk. Padahal di dompet saya cuma bawa uang Rp500 ribu. Akhirya saya terpaksa keluar dulu untuk ambil duit. Ini merepotkan, tentu saja.</p>
<p>Untuk membayar, saya antri sekira 40 menit. Lumayan lama. Tapi tetap saja tak selama di hari-hari berikutnya. Sewaktu membayar, batuk dan pilek yang tadi minggat mendadak balik lagi. Melebihi bujet. Ketika dompet dibuka, lolongan serigalanya sudah lemah. Hal ini membuat saya yakin kalau di pertengahan bulan hingga gajian saya hanya sanggup makan mie instan. Dan sudah pasti, saya tak akan pulang kampung. Tapi tak apalah. Berlibur di rumah sembari membaca buku tak kalah asyik.</p>
<p>Bazaar BBW ini membuat saya yakin kalau sebenarnya tingkat minat baca orang Indonesia ini tinggi. Beberapa waktu lalu sebuah penelitian bilang kalau minat baca warga Indonesia ini adalah salah satu yang terendah di dunia. Apa benar begitu?</p>
<p>Sama seperti kemiskinan yang lahir karena sistem yang salah, minat baca yang rendah pun demikian. Di Indonesia, buku jadi barang mewah. Pajaknya tinggi. Aksesnya sulit. Toko buku besar &#8211;dan nyaris jadi pemain tunggal&#8211; memajaki penerbit buku dengan marjin yang besar. Maka harga buku melambung.</p>
<p>Belum lagi distribusi yang tak merata. Buku hanya mudah didapat &#8211;meski harganya juga mahal&#8211; di Pulau Jawa, atau kota-kota besar macam Denpasar, Makassar, atau Medan. Gita Wiryawan, kawan saya yang dulu sempat tinggal di Bangko, Jambi, sampai harus nitip buku ke kawan yang ada di Jogja. Karena di sana sama sekali tak ada toko buku. Ini baru ngomong soal infrastruktur buku lho, belum lagi kalau bicara soal kualitas. Bahkan kita sepertinya masih belum bisa banyak bicara soal kualitas, karena kuantitas terbitan buku kita juga masih rendah.</p>
<p>Saya optimis kalau ajang seperti ini dibuat di kota-kota lain, pasti akan sukses. Sebab sebenarnya masyarakat kita haus bacaan. Hanya saja aksesnya masih sangat terbatas.</p>
<p>BBW membuat saya senang, bahkan jika hanya melihatnya. Anak-anak kecil khusyuk membaca buku dengan banyak gambar, sementara orang tuanya juga sibuk mencari buku. Pemandangan macam ini agak sukar didapatkan, bukan? Di hari-hari terakhir BBF, para penyuka buku rela berdesakan. Antri di kasir selama berjam-jam. Ada yang memilih datang subuh (di empat hari terakhir, acara ini memang dibuka 24 jam) agar tak berdesakan. Bahkan saking membeludaknya pengunjung, harus diberlakukan sistem buka-tutup pintu masuk. Edan kan?</p>
<p>Semoga tahun depan ajang seperti ini hadir lagi di Indonesia. Kalau bisa malah merata di berbagai kota, tak hanya di Jawa saja. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/big-bad-wolf-yang-membuat-dompet-melolong-lemah/">Big Bad Wolf yang Membuat Dompet Melolong Lemah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/big-bad-wolf-yang-membuat-dompet-melolong-lemah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3600</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
