Kemarin waktu membersihkan kotak surel, saya menemukan surel dari Fahmi. Isinya adalah pindaian buku kelulusan SMA. Saya lupa pernah dikirimi email ini. Setelah saya unduh, saya buka satu-satu. Bikin tertawa kecil, sekaligus meringis geli. Isi buku itu adalah definisi kenorakan masa muda yang memalukan.
Saya menghabiskan 3 tahun masa SMA di SMA Arjasa. Biasa disingkat Smaja. Arjasa adalah salah satu nama kecamatan di Jember. Letaknya berbatasan dengan Bondowoso. Karena itu pula, Smaja kerap diledek sebagai SMA pinggiran. Letak sekolah ini tepat di depan terminal Arjasa, dan bersebelahan dengan lapangan Arjasa yang luas bukan buatan itu. Kalau sering diledek sebagai SMA pinggiran, kami sering membalas: SMA kami punya terminal dan lapangan sendiri. Mana ada SMA lain di Jember yang punya fasilitas semewah itu?
Pertimbangan saya memilih SMA ini sederhana saja: dekat dari rumah. Saya cukup berjalan kaki sekitar 10-15 menit. Sudah bosan sejak TK sekolah saya jauh terus. Bersekolah di Smaja, artinya saya bisa bangun lebih siang dan tak perlu terburu-buru.
Secara prestasi akademik, Smaja berada di peringkat tengah. Semenjana. Ia jelas bukan jujugan bagi siswa berprestasi akademis. Namun sejak awal berdiri di tahun 1990-an, Smaja dikenal sebagai sekolah yang unggul di bidang ekstra kurikuler. Kami punya tim basket kuat, tim sepak bola yang tangguh, para pendaki gunung pemberani, anggota paskibra yang sudah sampai tingkat nasional (hingga sekarang, Santi Dwi Setyaningrum, adalah siswa Jember pertama dan satu-satunya, yang menjadi paskibraka Nasional. Santi menjadi paskibraka nasional tahun 1996), dan tim bridge yang disegani.
Saya masuk Smaja tahun 2002, lulus 2005. Bagi yang belum tahu, untuk SMA tahun angkatan diambil dari tahun kelulusan. Sedangkan di kuliah, tahun angkatan adalah tahun masuk. Di kelas 1, saya duduk di kelas 1.2, setahun berikutnya duduk di kelas 2.1, dan saat kelas 3 saya masuk ke IPS 2. Sewaktu memilih jurusan di kelas 3, kami, para siswa, diharuskan mengisi pilihan 1 dan 2. Untuk pilihan 1, saya jelas mengisi IPS. Pilihan ke 2? Tetap IPS. Ngotot puol.
Jurusan IPS memang jadi primadona, terutama bagi anak-anak bandel yang biasanya langsung migrain kalau kena hantam rumus Fisika atau Kimia atau Matematika. Kelas IPS juga dianggap lebih santai ketimbang IPA, yang suasananya tampak seperti kamp tawanan perang. Karena cuma ada 2 kelas IPS, maka kuotanya terbatas. Saya sampai sekarang tidak tahu bagaimana para guru mengambil keputusan siapa yang harus masuk IPS dan siapa yang masuk IPA.
Pilihan masuk IPS ini sempat ditentang oleh, siapa lagi kalau bukan, ayah. Menurutnya, masuk IPS jadi mempersempit pilihan kuliah. Dengan kata lain: anak IPS nyaris mustahil masuk kuliah jurusan Biologi, atau Kimia, atau Kedokteran. Sedangkan kalau masuk IPA, kamu bisa memilih jurusan mana pun, termasuk Ekonomi atau Ilmu Sosial dan Politik atau Sejarah atau manapun.
Tapi perdebatan itu usai setelah saya bilang: saya tidak tertarik jurusan lain selain pariwisata dan sastra. Ayah pun menurut, mengingat ia paham betul anaknya ini imbisil dalam hal hitung-hitungan.
Di kelas 3 IPS 2 itu saya menemukan kebahagiaan. Tentu ada cerita sedih dan tak enak. Tapi semua tertutup oleh rasa senang. Kalau diceritakan, wah bisa panjang sekali. Mulai dari hobi lompat tembok sekolah, naik gunung, mengirim salam lewat radio (ketahuan umurnya), sampai gelut rame-rame melawan angkatan adik kelas di lapangan basket. Benar kata orang, masa SMA itu masa paling menyenangkan.
Tahun 2005 saya lulus dari Smaja. Mengejutkannya, nilai Ujian Nasional saya cukup baik. Terutama di mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Setelah lulus, saya masuk ke jurusan Sastra Inggris Universitas Jember. Kuliah di sana menyenangkan, dengan aneka jenis kawan baru. Dengan tingkat tekanan yang lebih berat ketimbang SMA. Makanya saya lulus 6 tahun. Hehe.
Kemarin malam saya baca-baca ulang buku alumni. Cita-cita saya adalah jadi orang sukses dan petualang seperti Indiana Jones. Yang pertama belum kesampaian, yang kedua jelas tidak bakal kesampaian. Di buku itu, tukang desain salah menuliskan nama saya. Harusnya Aunurrahman, jadi Ainurahman. Kampret. Dulu saya sering dipanggil Spiderman karena jago meloncat tembok sekolah yang tinggi itu. Mungkin karena badan saya dulu kurus dan mungil, jadi lebih ergonomis. Kalau sekarang disuruh manjat tembok, mungkin saya mati duluan.
Kesan dan pesan saya jelas tak penting. Cenderung bikin geli. Sebenarnya kesan pesan saya lumayang panjang, tapi ruangnya tak cukup. Yang saya ingat adalah: janganlah kamu nonton VCD porno, karena kualitas gambarnya jelek. Mending DVD saja, kualitas dan resolusinya lebih apik! Jelas saja kalimat itu tak lolos sensor.
Beberapa kawan, seperti Ade Defrizal, dikerjai. Di pertengahan Caturwulan kelas 3, Ia mengalami kecelakaan. Menabrak mobil box yang parkir di pinggir jalan. Giginya rontok beberapa butir. Sejak itu Ade dipanggil Bogang, menemani julukan Keceng yang selama ini sudah melekat karena badannya yang kurus. Di buku alumni itu, Ia menulis pesan, “Tolong carikan gigi saya yang hilang, saya siap menerima sedot lemak.” Tentu saja itu bukan Ade yang menulis. Saat Ade akhirnya tahu, Ia tak bisa apa-apa kecuali lemas dan misuh-misuh.
Sudah 12 tahun sejak saya lulus SMA. Iya, tua. Ada banyak perubahan yang terjadi pada kami, juga sekolah. Sekarang Smaja jadi Sekolah Standar Nasional. Sangar kan? Prestasi akademis mereka bagus, begitu pula ekstra kurikulernya. Mereka tak lagi menyandang julukan sekolah pinggiran. Tentu saja ada banyak yang dikorbankan. Para muridnya harus lebih disiplin. Hobi lompat tembok, bolos, dan kegiatan negatif-tapi-amat-membahagiakan itu sudah harus hilang. Apa boleh buat tak ada yang abadi kecuali perubahan.
Tapi waktu di buku alumni tak akan berubah. Ia seperti membekukan kami di tahun 2005. Di dunia nyata, sudah ada di antara kami yang meninggal. Tapi di buku alumni, kami kekal, tak bertambah tua. Benar kata Pram, apa yang tertulis akan abadi. Ia takkan padam ditelan angin. Begitu pula catatan di buku alumni. Ia akan terus hadir. Senantiasa jadi pengingat betapa norak dan memalukannya kita dulu.