24

114

“Umur 24, kalau udah tahu mau kemana, you should avoid that guy. Because he/she doesn’t know what life is. Most of them that I know, end up in a boring life.”

(Rizal Shidiq)

***

Dini hari menjelang. Saya menengok jam digital. Nyaris jam 3 pagi. Mata belum bisa terpejam. Tiba-tiba suara chat facebook berbunyi. Mas Rizal Shidiq yang menyapa.

Mas Rizal adalah salah satu penulis yang saya kenal dari Jakartabeat. Tulisannya keren. Ia gape menulis musik, politik, sosiologi, maupun ekonomi. Serba bisa. Kalau menulis soal musik, ia bisa menjadi sangat menjiwai. Seperti meniupkan ruh, dan membiarkan tulisannya menari dengan romantis, jenaka, maupun kombinasi keduanya.

Pria yang sekarang sedang menempuh program doktoral di Boston ini menanyakan apakah saya jadi melanjutkan sekolah. Saya jawab iya, tapi sementara ini cukup di dalam negeri saja.

Beberapa kali kami chatting, ia selalu mendorong saya untuk mencari beasiswa ke luar negeri. Saya terharu dengan “keisengan” ini. Berkali-kali ia memberi tips dan trik bagaimana cara biar bisa sekolah di luar negeri. Ia juga memberikan link-link beasiswa.

Malam ini saya lantas mengungkapkan kegalauan saya mengenai minat studi. Selama ini minat saya seperti seorang playboy tengik. Ia tak bisa bertahan di satu hati. Selalu ada dua, atau bahkan lebih, bidang yang menarik ulur minat saya. Untuk saat ini, minat saya terbagi dalam dua hal: traveling dan musik.

Karena alasan seneng traveling itu pula, saya mengambil jurusan Kajian Pariwisata. Ditambah, sementara ini, di Indonesia masih belum ada jurusan penulisan musik. Kalau jurusan itu ada, maka saya pasti akan makin pusing.

Saya bercerita ke mas Rizal kalau saya bingung mengenai minat studi yang harus saya ambil. Saya juga bilang, saya umur 24 dan belum menemukan apa minat dan bakat saya. Tampak sangat menyedihkan bukan?

Tapi mas Rizal lantas mengatakan kalimat yang bisa jadi tak akan saya lupakan seumur hidup kelak. Iya, kalimat yang saya kutip diatas. Itu kalimat yang sangat menggugah. Ia berkata bahwa ia mengalami hal yang sama dengan saya ketika berumur 24 tahun.  Penggemar jazz ini lantas melanjutkan kalau patokan kita untuk bisa menemukan minat dan bakat adalah di umur 27 tahun. Ia juga berkata “kita yang bisa bertahan hidup melewati umur 27, hanya sekedar menunda kekalahan”. Saya tak bisa lebih setuju.

Saya jadi agak lega. Mengetahui bahwa saya tak sendirian dalam menghadapi kegalauan ini. When I realized that everybody have been through the same phase(s) as mine, it is so relieving.

Thanks for the words sir 🙂

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

6 KOMENTAR

  1. it is so relieving, kali.
    yg pasti walaupun umur 24 elu udah sarjana sastra keminggris, you need to work more on the grammar. it sucks to ndemak.

    *benerin kutang… eh, kacamata*

  2. Art: mungkin patokannya adalah club of 27, alias para pesohor yang mati di umur 27. Bagi beberapa orang, adalah kebanggaan untuk bisa mati di umur 27 🙂

    Kak Pito: Iya kak, sangat sangat perlu belajar lagi. Ajarin yaaaak 😀 oke, langsung aku edit ya grammarnya :)) makasih koreksinya 🙂

    Yudi: Hehehe, nanti liku2nya makin kerasa kalau udah lulus kuliah. Semangat terus ya 🙂

  3. mas nuran, quote di awalnya ngena banget deh. kebetulan siangnya lagi galau karena teman2 udah pada apply2 kerjaan sementara aku masih sibuk bikin plan taun depan traveling kemana. hahaha. kalau saya sih percaya, hidup udah ada yang ngatur. kesuksesan tiap orang tidak sama, tapi rejeki nggak akan kemana 🙂
    mas tapi kan 27 tu emang angka yang wajar ya buat umur kemapanan cowok. kalo cewe, 27 tu dah umurnya panik buat kawin. hahahaha :))

  4. Kinkin: Hehehe, iya, quote-nya nendang banget tuh 😀 betul itu, kata orang jaman dulu, “kalau kita takut gak bisa makan dan gak bisa ngasih keluarga kita makan, itu artinya kita meremehkan tuhan” 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR