Kenapa Fuji Rock?
Jawabannya punya dua kata kunci yang saling bertaut: pengalaman dan reputasi.
Kata kunci pertama: pengalaman.
Umumnya, motivasi terbesar orang datang ke festival musik tentu saja adalah musik/ bintang tamu, seperti yang pernah ditulis Bowen dan Daniels (2005). Tapi buatku dan jutaan orang yang pernah mengunjungi Fuji Rock, festival yang sudah diadakan sejak 1997 ini sudah melampaui soal bintang tamu dan perkara musik. Fuji Rock berhasil memadukan keasyikan kemping, keindahan alam, ramah anak dan keluarga, dan tentu saja kuratorial musik yang jarang gagal. Mau cerah, mau hujan, mau badai, semua menghasilkan cerita seru. Hasilnya: pengalaman dan kenangan yang menyenangkan.
Kata kunci kedua: reputasi.
Ini yang agak tricky. Di banyak buku manajemen, petuahnya jelas: membangun itu mudah, menjaga lebih susah. Ini berhasil dijalankan oleh Fuji Rock. Berjalan nyaris tiga dekade, Fuji Rock berhasil menjaga reputasi sebagai festival musik yang inklusif, ramah anak dan lansia, rapi, juga teratur. Ini pada akhirnya saya saksikan sendiri, mulai dari akses yang mudah, pilihan genre musik yang beragam, dan yang juga mengesankan: kebersihan dan keteraturannya.
Dengan kata lain: Fuji Rock berhasil membangun (dan menjaga) reputasinya secara gemilang. Hasilnya berkelindan dengan kata kunci pertama, bahwa orang akan tertarik datang karena reputasi baik Fuji Rock akan menjamin pengalaman yang mengasyikkan.
***
Ketika aku menelusuri riwayat percakapan di WhatsApp, keinginan untuk pergi ke Fuji Rock sudah tertanam bahkan sejak 2019 silam. Seperti biasa, orang yang paling sering kurongrong adalah Rani. Tapi dia juga orang paling realistis soal rencana-rencanaku yang kerap kali lebih mirip khayalan, atau bahkan igauan siang bolong, ketimbang rencana yang diperam hingga matang.
Seiring aku yang semakin sering ngoceh soal Fuji Rock ke Rani di malam-malam jelang kami tertidur, semakin kuat keinginanku. Maka, pada 2023, aku mencanangkan: aku mau pergi ke Fuji Rock 2025, entah sendiri, atau bareng Rani, atau bareng kawan lain.
Ketika akhirnya memutuskan akan pergi di 2025, aku tak peduli siapa yang akan jadi penampil. Waktu membuat tabungan di awal 2024, tentu saja belum ada pengumuman line up untuk 2025. Reputasi Fuji Rock membuatku percaya ini adalah festival yang layak disambangi kalau mampu, terlepas dari siapa yang bermain.
Tentu saja, akan selalu ada orang yang mau saja menyambut ajakan bodoh, sama seperti di film-film buddies atau coming of age. Dan dalam kasus ini, kawan yang dengan senang hati mau ikut petualangan kurang akal ini adalah Faisal Irfani. Nanti kapan-kapan kuceritakan soal Ical –panggilan kesayangan kawan-kawannya untuk pria tetangga Jokowi ini.
Mulai Pondasi
Pondasi dari semua rencana ini adalah uang. Dalam skema yang kubuat, ada tiga komponen utama perjalanan ini:
- Transportasi
- Fuji Rock
- Tokyo Stay
Dari sana aku memastikan jumlah hari, dan ketemulah hitungan kasarnya. Kira-kira waktu itu aku dan Ical menganggarkan seperti ini:
1. Transportasi:
Waktu itu sedang ada promo akhir tahun. Jadi kami beli tiket di Desember 2024, dapat Garuda Indonesia, direct flight berangkat Rabu 23 Juli 2025 dan kepulangan Kamis 31 Juli 2025, dengan harga Rp6,2 juta.
Ini harga yang menurut kami terjangkau. Sebagai perbandingan, di akhir 2022 aku dan Rani sempat membeli tiket ke Tokyo, dapat Singapore Airlines, transit di Singapura, dengan harga Rp7,5 juta.
Selain tiket pesawat Jakarta-Tokyo, komponen transportasi yang harganya cukup tinggi adalah kereta Shinkansen dari Stasiun Tokyo menuju Echigo Yuzawa, stasiun terdekat dari venue Fuji Rock di Naeba. Tiket ini bisa dibeli di aplikasi Klooks, harga sekali jalan sekitar 6.900 Yen, atau sekitar Rp750 ribu ditambah pajak dll. Jadi PP sekitar Rp1,5 juta. Dari Echigo Yuzawa, transportasi menuju venue adalah shuttle bus yang harganya 2.000 yen PP, atau sekitar Rp215 ribu.
Selain itu, komponen transportasi yang juga harus dianggarkan adalah transportasi lokal. Aku membeli Tokyo Subway Ticket 72 Hour Pass di Klook, harganya sekitar Rp320 ribuan.
2. Fuji Rock
Dua pengeluaran utama untuk Fuji Rock adalah tiket dan campsite. Fuji Rock menjual tiket harian dan juga 3 day pass. Aku dan Ical sempat gundah, apakah cukup menonton hari Jumat-Sabtu, atau Sabtu-Minggu, atau mau sekalian tiga hari. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memilih 3 day pass, tapi praktiknya kami sudah ada di venue sejak hari Kamis dan menonton pesta pembukaannya.
Harga tiket 3 day pass Fuji Rock 2025 adalah 59.400 Yen, sudah termasuk pajak dan segala tetek bengeknya. Ketika itu kurs Rupiah cukup membaik, 1 yen ada di kisaran Rp105 hingga Rp107. Jadi kalau diambil patokan Rp107, harga tiket 3 day pass adalah Rp6.355.800.
Lalu untuk campsite, banderolnya adalah 5.500 Yen atau sekitar Rp588 ribu. Dengan tiket ini, aku bisa masuk ke area kemping sejak hari Kamis untuk mendirikan tenda (sekaligus bisa nonton pesta pembukaannya) sampai dengan maksimal hari Senin siang (total 5 hari 4 malam). Campsite adalah pilihan menginap yang harganya paling terjangkau sekaligus yang memberi pengalaman khas Fuji Rock. Di luar kemping, ada pilihan hotel di sekitar venue atau di sekitar Echigo Yuzawa. Tapi harganya lumayan ngamplengi raimu.
Di luar itu, ada biaya merch, dan FnB (ini yang ternyata anggarannya melar. Aku meremehkan rasa lapar yang timbul berkali-kali karena jalan kaki seharian).
3. Tokyo Stay
Aku dan Ical sepakat menghabiskan waktu 4 hari 3 malam di Tokyo setelah selesai Fuji Rock. Komponen terbesar di part ini adalah penginapan. Yang menarik dari Tokyo adalah, meski kota ini adalah salah satu kota termahal di dunia, termasuk perkara menginapnya, kalau pesan jauh-jauh hari via aplikasi (aku pakai Agoda), harganya bisa cukup terjangkau.
Booking pada Desember 2024 selama 5 hari 4 malam untuk akhir Juli 2025, aku dapat harga Rp3,7 juta di hotel APA Hotel Roppongi Six atau sekitar Rp740 ribuan per hari, atau Rp370 ribu per orang. APA adalah jaringan hotel cukup populer di Jepang, dan biasanya berlokasi di kawasan turis, jadi dekat dengan stasiun kereta atau bus, dan tentu saja aneka konbini dan tempat makan.
Kenapa aku booking 5 hari? Ini karena dari linimasa, aku beli hotel terlebih dulu, ketika masih gundah mau nonton Fuji Rock 2 hari atau 3 hari. Jadi kami booking check in hari Minggu, dan check out hari Kamis. Kenyataannya, kami baru check in hari Senin. Tapi lagi-lagi, untuk ukuran hotel di kawasan strategis Tokyo, Rp370 ribu per orang ini bisa dibilang murah. Di luar penginapan, komponen Tokyo Stay juga mencakup Food and Drinks.
Setelah mendapat anggaran kasar itu, aku berhitung. Jika mulai menabung bulan Februari atau Maret 2024, aku ada waktu 17 bulan sebelum berangkat. Dari sana aku bisa melakukan kalkulasi berapa dana yang harus kutabung setiap bulan, atau target akhir agar bisa berangkat dengan nyaman.
Dengan target di kepala yang terasa begitu jauh dan bikin aku mbatin piye carane, aku mulai menaruh beberapa ratus ribu yang kuambil dari uang saku bulananku. Aku membuat rekening bLu, lalu membuka dompet yang dinamakan Fuji Rock 2025. Jalan masih panjang. []
Baca juga Catatan #1

