Di seruas jalan Brick Lane, yang banyak diisi hipster dan barang-barang vintage berharga menyundul langit, ada dua penjual beigel yang masyhur: Beigel Shop dan Beigel Bake. Keduanya hanya dipisah dua toko dan sama-sama punya hidangan andalan salt beef beigel.
Nama yang pertama lebih dulu ada, sejak 1855! Sedangkan nama kedua, konon masih sanak saudara pendiri Beigel Shop yang akhirnya memutuskan membuka kedai beigelnya sendiri pada 1974 (ada yang bilang 1976). Belakangan, nama kedua ini yang lebih populer.
Oh ya, saya sempat nanya kenapa beigel, bukan bagel. Karena, katanya, kata bagel adalah bentuk Amerikanisasi. Yah, walaupun terma bagel juga dikenal luas di Inggris, sih. Tapi untuk menjaga akarnya, dua kedai ini tetap pakai istilah beigel.
Meski begitu, keduanya sama-sama punya penggemar berat. Itu sama seperti Soto Sukri atau Soto Ayu atau Soto Dahlok; Pecel Walisongo atau Pecel Bu Darum atau Pecel Lumintu; Lawless Burger atau Byurger. Semua punya penggemar masing-masing.
Pada akhirnya, saya memilih Beigel Bake. Tak ada alasan khusus, sih. Hanya penasaran saja.
Di Beigel Bake ada berbagai jenis roti, pastry, dan beigel. Ada yang polosan, ada yang isian. Yang polosan dibanderol 0,30 Pounds. Yang isian harganya mulai 0,40 (pakai selai kacang), hingga 2,20 yang isiannya salmon asap dan krim keju. Tapi pusaka dari kedai beigel ini adalah: salt beef beigel. Harganya pun beda, 4,50 Pounds.
Antriannya panjang, tapi sangkil. Pelayan akan menanyakan pesanan, dijawab, lalu mereka akan memasukkan pesanan ke dalam kantong kertas coklat, dan pembeli tinggal bayar di kasir. Beigel dengan isian populer macam salmon asap, sudah disiapkan terlebih dulu.
Tak ada tempat duduk di sini. Pengunjung yang ingin makan di tempat hanya disediakan meja panjang. Makannya ya sambil berdiri.
Saya pesan dua jenis beigel: salmon asap dan krim keju, dan salt beef. Rencananya saya mau makan yang salmon dulu. Namun wangi daging sapi dan acar yang menguar dari kantong kertas itu akhirnya bikin saya menyerah dan memutuskan mengganyang beigel sapi asin itu.
Seporsi salt beef beigel berupa satu potong beigel yang dibelah tengah, diisi setumpuk irisan tebal sandung lamur yang lemaknya meneteskan kaldu nan gurih, empat helai acar timun, dan seoles mustard Inggris yang lebih tajam dan menyodok hidung.
Juaranya tentu daging sapinya. Warisan boga bangsa Yahudi ini menunjukkan betapa daging yang dimasak sederhana bisa hadir dengan rasa yang kaya. Kalau baca berbagai resep salt beef, nyaris tak ada rempah macam-macam untuk memasak salt beef. Hanya garam, daun salam, wortel, bawang, dan merica. Serupa membuat sop daging, minus rempah yang kaya.
Tapi cara masak berbumbu sederhana ini yang akhirnya mempersilakan daging menunjukkan rasa aslinya. Penuh saripati yang terperangkap dalam daging, dan lemaknya itu… Aduh. Aduh. Aduh.
Pulang dari Beigel Bake, senyum saya lebar sekali. Yah, walaupun kalau ingat sambal terasi jadinya kangen lagi. Hhh.