EFG London Jazz Festival

Mencari festival musik di Inggris pada November itu adalah pekerjaan yang bisa dibilang terlambat. Karena kebanyakan festival musik di sini berlangsung pada musim panas, berawal sekitar bulan Mei, dan biasanya berakhir sekitar bulan Agustus.

Tapi apa sama sekali tak ada festival setelah itu? Ada, tapi tak banyak. Dua dari yang sedikit itu antara lain London Jazz Festival (LJF)dan London Roots Festival. Yang ingin saya ceritakan kali ini adalah festival pertama.

Tahun ini, LJF diadakan pada 15 November sampai 24 November. EFG adalah nama bank besar yang jadi sponsor utama sejak 2013, makanya jadi title name. Mirip bank BNI yang jadi sponsor Java Jazz gitu lah.

Konsep festival ini tidak terpusat di satu venue, melainkan menyebar di beberapa lokasi. Dari gedung besar macam London Barbican (kapasitas 1.100-an kursi), Southbank Centre (kapasitas 900-an kursi), hingga di pub atau bar atau klub kecil seperti Pizza Express Jazz Club, Ronnie Scott’s, hingga Karamel, sebuah bar, galeri seni, dan kafe vegetarian di pinggiran London Utara.

Konsep festival dengan panggung menyebar ini sebenarnya bukan hal baru. Festival Camden, yang merupakan cikal bakal LJF, sudah melakukannya sejak era 1970-an.

Saya pertama kali dengar konsep seperti ini malah dari Wok the Rock, pendiri Yes No Wave, pada 2013 silam. Saat itu, kami ngobrol soal Lockstock Festival yang berakhir tragis. Obrolan itu kemudian melebar ke soal festival musik, dan keinginan Wok untuk bikin festival dengan venue yang tersebar di beberapa titik. Waktu itu, kawasan yang dianggap bisa menampung beberapa panggung adalah sekitar Malioboro hingga ke arah Prawirotaman.

Waktu itu saya tidak membayangkan konsep itu bisa terlaksana di Jakarta, hingga Archipelago Festival bikin konsep seperti itu. Dengan cerdik, penyelenggara mengokupansi kawasan Kemang, Jakarta Selatan, dan bikin gigs di beberapa lokasi.

Balik lagi ke LJF. Tahun ini bintang tamu utamanya adalah Herbie Hancock dan Corinne Bailey Rae. Saya sempat ingin menonton Corinne, tapi tiketnya terjual habis cepat sekali. Hadah.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ada banyak penampilan gratis. Saya lantas menonton beberapa secara acak, yang jamnya sesuai saja. Oh ya, beberapa konser diadakan pas jam makan siang, terutama yang lokasinya ada di restoran.

Saya sempat menonton kuartet asal Jerman yang dipimpin pianis Julia Hulsmann di Southbank Centre. Suasanaya hangat. Beberapa orang usia lanjut menonton di bagian depan sembari memegang segelas wine.

Saya juga sempat menonton O-Janna dan Hubby Horse, duo musisi asal Italia. Mereka main di Barbican Centre. Sama seperti di South Bank, suasanya selo. Bangku dijejer, penonton menyimak sambil menyesap wine atau menenggak bir. Musik duo ini agak campur aduk, ada bossa nova, jazz, bahkan techno. Saya gak begitu mudeng. Haha.

Tapi saya lebih gak mudeng lagi musik yang dimainkan Numb Mob, duo musisi elektronik, atau lebih tepatnya seniman audio visual. Jadi konsep konser mereka adalah perpaduan musik dan video. Mereka tidak main berdua, melainkan dibantu beberapa orang personel tambahan, termasuk yang main drum dan terompet.

Ketika mereka mulai bermain, diputarlah video di dua layar yang terletak di kanan-kiri panggung. Gambarnya berganti tiap beberapa detik. Ikan mati. Pabrik. Lapangan. Sutet. Matahari. Video itu panjangnya 24 menit, untuk menggambarkan siklus satu hari: dari matahari terbit sampai terbit lagi, alias 24 jam.

Saya bengong, juga ngantuk banget, mendengarkan komposisi elektronik selama 24 menit itu. Bingung juga gimana mau menikmatinya. Haha.

Lalu barusan, alias 20 November malam, saya pergi ke Karamel untuk menonton Noah Stoneman, pianis jazz muda. Dia juga rutin manggung dan bikin jam session di Karamel tiap hari Senin.

Usai kerja di British Library, saya pergi ke Utara London, alias ke kawasan Wood Green yang terletak di Zona 3. Kalau dari pusat kota, waktu tempuhnya cukup 30 menit. Tapi kalau dari kawasan saya tinggal di Willesden Green, butuh waktu satu jam.

Stoneman, mantan finalis BBC Young Musician of the Year, mengajak tiga orang kawannya: satu drummer, satu bassist, dan satu vokalis. Stoneman sempat mengenalkan personelnya, tapi karena logatnya seperti kumur-kumur, saya tak bisa menghapalnya. Yang saya ingat adalah, vokalisnya mirip Alexandra Daddario, hehe.

Mereka memainkan beberapa lagu jazz, lengkap pakai improvisasi dan solo. Yang saya tahu cuma “Autumn in New York” yang pernah disenandungkan Billie Holiday.

Konser intim ini berakhir setelah 50 menit. Setelah membayar cider kiwi dan salted caramel cheesecake yang enak sekali, saya bergegas pulang agar tak kemalaman.

Festival jazz ini masih akan berlangsung hingga 24 November. Harus jaga kesehatan.

One thought on “EFG London Jazz Festival

  1. Hadir. Karena kesibukan baru bisa buka blog ini mas. Tapi kayake kok belum telat. Soale tgl 22-25 belum ada yg dipost. Hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published.