Orange Skies

Langit yang berwarna oranye selalu mengingatkan saya waktu kami pergi ke Bali. Berdua saja. Dengan motor, selepas lebaran.

Saya suka pantai. Tapi tidak di siang hari. Apalagi pantai di negara tropis macam Indonesia. Rani yang jarang pergi ke Bali selalu bersemangat mengajak keluar. Tak peduli matahari serasa mencakar muka. Saya enggan. Malas. Berkali-kali cari alasan untuk tidak pergi. Tapi toh akhirnya saya menyerah.

Akhirnya kami pergi ke Jimbaran. Pukul 1 siang. Mata saya mengerjap berkali-kali. Dipicingkan agar tidak terlalu perih. Rani tetap bersemangat, saya berkali-kali mendecak kesal.

“Ke pantai itu sore kek, enak sambil minum bir.”

“Ya masa ke Bali tidur terus di hotel.”

“Bukannya itu ya tujuan bulan madu? Bikin anak?”

Kami sampai. Saya menyuruh Rani jalan menyusuri pantai sendirian. “Aku di sini saja,” kataku sembari duduk di gazebo. Sudah ada rencana memesan es kelapa muda. Biarlah Rani yang memakai baju hitam itu merasakan jahatnya matahari pada pukul 1 siang. Saya sih ogah dipanggang. Tapi ternyata Rani juga enggan jalan sendirian. Matanya menyipit. Pasti kepanasan, kata saya dalam hati. Ingin saya ledek, tapi kasihan. Salah sendiri tak percaya.

Akhirnya setelah 10 menit foto-foto, Rani mau diajak pulang ke hotel. Dengan iming-iming cari tempat belanja yang ada diskon. Perempuan mana yang tak suka belanja barang diskonan. Kami mampir ke gerai Volcom dan Rip Curl yang memajang tanda diskon besar-besar di pinggir jalan. Tapi hasilnya nihil. Tak ada yang kami bawa pulang.

Di hotel kami istirahat. Tidak bercinta. Sudah kecapaian kena panggang matahari. Hanya tidur bergulingan sembari menonton televisi dan berkomentar tentang apapun. Saya menjanjikan Rani pergi ke Kuta sore hari.

Saya selalu suka suasana Kuta di sore hari. Sewaktu remaja, saya mengagumi perempuan-perempuan Kaukasian dengan bikini dua helai. Saya tak pernah melihat yang seperti itu di Arjasa. Menginjak lepas 20-an, saya lebih suka bengong sembari melihat langit. Kadang bermodal sebotol bir, atau kadang soda. Kalau ada teman, ya ngobrol ngalor ngidul.

Seperti itulah kami menghabiskan waktu kemudian. Rani membawa sehelai kain Bali. Dijadikan alas. Saya memesan dua botol bir berperisa jeruk. Di depan, ada puluhan orang yang asyik bermain air. Saya malas basah-basahan. Kami mulai ngobrol tanpa arah. Perkara cinta, masa lalu, masa depan, dan makanan yang akan kami santap. Sepele memang.

Kemudian matahari perlahan tergelincir. Orang-orang mulai mentas dari air laut. Beberapa ada yang duduk-duduk. Lainnya beralih membilas badan. Ada yang memesan bakso dan kelapa muda. Langit jadi oranye, Kuta jadi mirip karnaval. Sama seperti yang ditulis Arthur Lee di lagu “Orange Skies”.

Saya beberapa kali mencuri pandang ke arah Rani. Perempuan ini sering membuat saya pusing kepala dan marah. Tapi tak terhitung berapa kali dia membuat saya tertawa dan menjadikan hidup saya lebih tenang dan menyenangkan. Saya menenggak porsi terakhir bir saya, mengajak Rani pulang dengan menggamit tangannya. Kami bersihkan pasir yang menempel di kain Bali dan kaki. Kemudian kami beranjak pulang.

Saya bahagia. Semoga Rani juga, walau saya benci pergi ke pantai pada pukul 12 siang dan akan selamanya begitu. Tapi semoga kami selalu bahagia.

You make me happy
Laughing, glad, and full of glee
And you dont have to try, girl
For you it comes so naturally
Right here in my arms

Leave a Reply

Your email address will not be published.