Rasa atau Rupa?

Masakan Indonesia itu unik. Banyak sekali masakan kita yang buruk rupa tapi sedap rasa. Kamu sebut saja: dari rendang hingga rawon; rujak cingur sampai ayam tangkap; cumi hitam hingga gabus pucung. Tentu ada masakan Nusantara yang elok dipandang. Tapi masakan-masakan yang saya sebut tadi adalah salah satu bukti bahwa masakan kita lebih mengutamakan rasa ketimbang penampilan.

Kalau misal dibandingkan dengan kultur masakan negara lain, sebut saja Jepang atau Prancis atau Inggris, mereka lebih mengutamakan bentuk dan tidak begitu menguatkan perkara rasa. Makanya banyak masakan di negara yang saya sebut tadi, kadang begitu cantik dilihat. Tapi perihal rasa, mereka tak terlalu menonjol. Bumbu minimalis.

Di Indonesia, ada banyak sekali makanan yang terasa lebih nikmat ketika diaduk dan dicampur sedemikian rupa. Gado-gado misalkan. Makanan ini bisa dibilang representasi sempurna dari kesatuan. Coba makan gado-gado tanpa dicampur. Lontong yang hambar, sayuran yang juga sonder rasa, atau bumbu kacang yang tentu tak cocok dikudap begitu saja. Tapi coba campur. Semua rasa terikat jadi satu. Begitu pula rujak cingur. Coba makan satu-satu tanpa diaduk. Pasti aneh.

Baik gado-gado maupun rujak memiliki satu kesamaan: ketika diaduk mereka tak lagi mengandalkan kecantikan. Melainkan rasa yang akan memanjakan lidah.

Baru saja saya lihat foto di Twitter. Dari akun Instagram sebuah institusi pariwisata di Makassar. Mereka menampilkan gado-gado ala gastronomi. Disusun sedemikian rupa hingga terlihat kenes dan menggoda. Dari segi plating, nyaris sempurna.

Lontong dipotong persegi, dijejer dua. Di atasnya ada taburan bawang goreng. Tiga kerat tempe yang digoreng hingga kecokelatan dijejer. Tahu dijejer dengan sayuran yang dibungkus oleh kulit lumpia. Saus kacang ditaruh di gelas kecil, dengan telur di depan. Cantik.

Tapi bagaimana cara makannya?

Kalau dicampur, tentu akan menghancurkan semua presentasi yang dibuat dengan susah payah. Tapi kalau tidak dicampur, ya pasti rasanya aneh. Sebab gado-gado adalah makanan yang dibuat untuk dicampur. Apa mau makan lontong dulu yang dicocol ke saus kacang. Baru beralih menggigit tempe, tahu, dan sayurannya?

Mungkin saja itu masakan yang disajikan untuk para tamu asing yang kemungkinan kehilangan nafsu makan melihat penyajian gado-gado yang biasa. Mereka pula tak akan tahu kalau gado-gado lebih enak dimakan ketika semua bahan dicampur jadi satu dan jadi buruk rupa. Tapi buat orang Indonesia yang terbiasa makan gado-gado, alis akan tersambung dan dahi akan mengernyit.

Pada akhirnya, masakan Indonesia membuktikan kebenaran istilah: jangan menilai sesuatu dari tampilannya saja. []

Leave a Reply

Your email address will not be published.