Tur Toko Buku London

“Sudah pernah ke Housmans?”

Saya menggeleng sambil tanya: itu apa, Mas?

“Toko buku radikal gitu.”

Mas Eric Sasono, salah satu kritikus film paling dihormati di Indonesia dan baru saja menuntaskan doktoral bidang film di Nottingham, menanyakan perihal Housmans sekitar dua malam lalu. Pangkalnya, kami ngobrol soal buku bekas dan beberapa buku bekas yang saya beli di eBay.

Karena saya belum pernah ke Housmans, maka Mas Eric menawarkan diri untuk memandu saya ke beberapa toko buku. Saya tentu saja menerima tawaran itu dengan riang gembira. Turut ikut: Mbak Shinta, mahasiswa PhD yang juga tinggal di Wisma Siswa Merdeka sekaligus teman baik Mas Eric.

Hari ini kami akhirnya tur toko buku. Karena Mas Eric harus balik ke Nottingham sore harinya, maka hari ini cukup dua toko yang kami sambangi: Housmans dan Judd. Keduanya terletak di Bloomsbury, kawasan dengan banyak kampus dan lekat dengan tradisi literasi yang kuat. Distrik ini pula yang mengilhami lahirnya penerbit Bloomsbury.

Dari luar, Housmans sudah menampakkan identitasnya dengan tegas: toko buku radikal. Di pintu kaca depan, tertulis jelas: Radical book seller since 1945.

Loud and proud, Cuk!

Ketika masuk dan melihat aneka judul buku di rak, wuih, ini tipikal buku yang akan membuat kawan-kawan saya macam Windu Jusuf atau Rio Apinino betah dan ingin menginap di sini. Ada rak soal buruh, komunisme, sosialisme, anarkisme, juga sejarah Rusia. Yang cukup beda: food.

Namun di rak ini, buku makanannya juga senapas dan senada dengan rak lain: banyak buku-buku tentang politik pangan, termasuk buku laris Eating Animals-nya Jonathan Safran Foer dan The Way We Eat Now-nya Bee Wilson.

Tahu saya adalah periset dengan uang saku terbatas, Mas Eric mengajak ke lantai bawah yang banyak berisi buku-buku obralan seharga 1 Pounds.

“Juga ada buku-buku musik di sana,” katanya.

Wah ini!

Benar saja, saya betah sekali di lantai bawah ini. Ada seksi khusus anak-anak yang menghadirkan buku-buku bergambar, pun juga ada buku semacam ini:

Di ruangan khusus buku 1-3 Pounds, saya menemukan beberapa buku menarik. Kumpulan tulisan Bruce Chatwin (dia penulis In Patagonia yang kerap dianggap sebagai salah satu buku perjalanan terbaik sepanjang masa), bunga rampai Nigel Slater tentang kuliner Inggris (dih!), dan In Siberia-nya Colin Thubron, akhirnya berpindah tangan dan siap dibawa ke Indonesia. Hehe.

Di rak musik, buku-bukunya banyak bicara soal punk rock (apa lagi?). Di sudut, juga ada satu rak khusus yang memajang aneka macam zine dengan berbagai jenis tema. Mulai punk, LGBTQ, sampai kesehatan mental. Di bagian bawah rak, ada peringatan yang bikin ketawa kecil: hipster take a bashing! Anti-gentrification zine oppose!

Sebelum keluar, saya juga sempat menyambar sebungkus kopi produk Zapatista untuk beberapa teman di Indonesia. Pasti ini kopi rasa perjuangan.

TOKO BUKU kedua yang kami sambangi adalah Judd, hanya sepuluh menit jalan kaki dari Housmans. Beda dengan toko buku sebelumnya, Judd toko buku umum yang menyediakan berbagai jenis tema. Mulai arsitektur sampai musik. Dari sastra sampai buku kritik film. Harganya pun tidak mahal, berkisar 3 Pounds hingga puluhan Pounds. Ada buku baru, ada pula yang bekas. Sama seperti Housmans, ada banyak buku yang diobral seharga 1 Pounds.

Di rak musik, ada banyak sekali buku tentang jazz, rap, dan hip-hop. Bahkan ada satu rak khusus buku musik klasik. Saya cuma menyambar satu buku saja, Uncommon People: The Rise and Fall of the Rock Stars yang dibanderol 3 Pounds.

Buku David Hepworth ini menarik karena membahas soal fenomena bintang rock dari masa ke masa, sejak Little Richard hingga Kurt Cobain, yang tragedi meninggalnya disebut-sebut sebagai lonceng kepunahan spesies langka bernama rock stars. Tak hanya itu, tadi sekilas saya baca pengantarnya, buku ini juga memberikan konteks perubahan industri musik dan kenapa hal itu (mungkin) membuat bintang rock tak lagi relevan (dan mungkin memang seharusnya begitu?).

Tur buku hari ini diakhiri dengan ngopi sore, sebelum kami berpisah. Mas Eric kembali ke Nottingham, Mbak Shinta lanjut kuliah, dan saya ke British Library buat kerja.

Hari yang menyenangkan!

2 thoughts on “Tur Toko Buku London

Leave a Reply

Your email address will not be published.