Bodoh

Karakter fiktif yang selalu bikin aku selalu ngikik adalah Thomson dan Thompson, duo detektif inkompeten –aku lebih suka menyebut mereka bodoh– dalam komik Tintin.

Aku tak pernah menyangka kalau bisa ketemu dengan karakter non fiksi yang sedikit banyak mirip duo Thom itu.

Perkenalkan, Rio Tantomo dan Rio Jo Werry.

Aku memanggil mereka Rio 1 dan Rio 2. Kadang Bodoh 1 dan Bodoh 2.

Bodoh 1, alias Tantomo, sudah lama dikenal di dunia jurnalisme, terutama jurnalisme musik. Dia pernah kerja di majalah Trax, MRA, dan jadi kontributor berbagai media sejak 2008/ 2009 silam. Bayangkan, aku masih kuliah si Sarjana Hukum ini sudah jadi wartawan.

Bodoh 2 lebih muda. Dulu bercita-cita mengubah dunia pakai tulisan. Sekarang dia bilang cita-cita itu bodoh. Dia gak sadar kalau masih bodoh sampai sekarang. Kadang dia menyesal jadi wartawan, susah sejahtera katanya. Padahal dulu Ibunya menyuruhnya jadi akuntan. Itulah nasib Malin Kundang modern.

Bodoh yang kupakai untuk mereka kadang harfiah, kadang kiasan. Sebab, meski mereka tak sedungu Thom bersaudara, kelakuannya kadang-kadang bikin aku ngakak.

Tantomo, misalkan. Kapan hari keluar bareng aku, dan kami parkir di sebuah gedung di Sudirman. Melihat gedung yang lagi dibangun, tiba-tiba saja dia nyeletuk, “Busettt, pembangunan.”

Wkwkwk. Dia bilang itu dengan nada kagum seperti orang yang baru pertama datang ke Jakarta. Padahal dia dari lahir sampai sekarang, ya ada di Jakarta.

Nasib membawa kami berteman. Kami sepertinya cocok dalam hal melakukan banyak kebodohan, dan kesediaan menertawakan ini dan itu, terutama yang paling sepele.

Kemarin aku jadi ikutan bodoh kayak mereka.

Jadi Bodoh 1 kapan hari kasih kabar: IFI, lembaga kebudayaan Prancis – Indonesia akan bagi-bagi buku. Gratis, diambil di perpustakaan mereka.

“Let’s go kawan, kita gerogoti perpustakaan IFI,” kata Bodoh 1.

“Yuk lah!” sahut Bodoh 2.

“Jangan disebar lagi lah nih berita biar gak banyak saingan,” ujar Bodoh 1.

“Leeee, lihat leee, sifat Chairil-nya muncul Leeee,” kata Bodoh 2 ke aku yang cuma ketawa-ketawa saja.

Singkat kata, baru dua hari kemudian kami berangkat ke sana. Aku jemput Tantomo, dan Jo Werry naik motor dari kantornya.

Sebenarnya sebelum berangkat aku sudah agak curiga. Perpustakaan Prancis seharusnya banyak berisi buku-buku Bahasa Prancis, kan? Sebab aku pernah main ke Goethe Institute, dan isinya ya 95 persen buku Bahasa Jerman. Tapi agar tak mematahkan semangat Chairil Muda itu, aku diam saja.

Kami masuk IFI, dan ditunjukkan perpustakaan di lantai 2. Di luar, hujan mulai turun rintik. Kami khawatir Jo Werry yang sudah di jalan akan kehujanan. Tapi biar lah.

Ketika sampai di perpustakaannya, ada beberapa orang yang lagi belajar Bahasa Prancis. Firasatku memburuk. Bodoh 1 menuju meja informasi, bertanya di mana buku yang dibagikan gratis. Resepsionis perpustakaan menunjuk bagian kanan kami.

“Yang ada di meja itu ya, Mas.”

Kami jalan ke sana, dan melihat meja yang dibentuk melingkar. Di atasnya ada beberapa buku, tabloid, dan majalah.

Semuanya tentu saja…

Berbahasa Prancis.

Cuk. Sudah kuduga, batinku.

Aku resmi menjadi Si Bodoh 3. Kami berdua tertawa-tawa mengutuki kepolosan dan keserakahan kami.

“Jo Werry gimana nih, perlu kita kasih tahu gak kalau buku-bukunya Bahasa Prancis?” tanyaku.”

“Gak usah, lah. Bilang aja bukunya bagus-bagus.”

Dan di luar hujan makin deras.

Leave a Reply

Your email address will not be published.