Dobel

Satu waktu, aku pernah membeli komik dalam jumlah banyak dari sebuah rental yang tutup di Jember. Agar menghemat ruang di rumah yang luasnya terbatas itu, aku menaruh sebagian besar komik itu di kantor.

Kesalahan besar.

Entah siapa yang jadi pelaku, sebab maling tak ada yang mau mengaku, sebagian komik itu lenyap. Yang paling bikin sebal: salah satu yang diciak adalah satu set Monster karya Naoki Urasawa. Itu komik langka yang sampai sekarang tak pernah dicetak ulang di Indonesia.

Tahu kabar itu, Mas Zen yang amat menghargai buku sekaligus kuncen di kantor, ngamuk bukan kepalang. Dia sampai menumpahkan kemarahan itu di grup kantor. Marahnya melebihi omelan kalau reporter luput menulis berita penting. Tak ada yang berani merespons tentu saja.

Kalau maling ngaku, penjara bakal penuh.

Pengalaman buruk itu kemudian menanamkan satu paham yang mengakar di alam bawa sadar. Sampai sekarang.

Kalau ada rejeki, bolehlah punya buku/ komik bagus dobel.

Sebelum pengalaman Monster yang raib itu, aku hampir tak pernah punya buku/ komik dobel. Buat apa? Pemborosan sekaligus mubazir, toh yang dibaca hanya satu. Meski mungkin sampulnya bisa berbeda, hampir pasti isinya sama.

Dari sana pelan-pelan aku mengumpulkan buku atau komik dobelan. Tentu tak semua akan kudobel. Kriteria paling penting: kelangkaan. Kalau buku atau komik itu mudah ditemui di lapak offline maupun online, kupikir tak perlu didobel.

Kriteria penting kedua: harga. Ada buku atau komik langka yang layak untuk kudobel karena langka, tapi sering kuurungkan karena harganya menembus langit.

Ambil contoh: Master Keaton. Ini komik favoritku sepanjang masa. Punyaku adalah warisan dari ayah, dibeli di medio 90-an, kini masih dalam kondisi baik dan layak baca, tapi dengan sobek dan lecek di sana-sini karena keseringan dibaca.

Untuk beli dobelannya, aku masih enggan. Harga pasaran satu set Master Keaton berisi 10 jilid bisa lebih dari Rp800 ribu. Kalau dalam kondisi ekstra prima, bisa lebih dari Rp1 juta. Aku masih belum mau menebusnya dengan harga segitu, lebih baik kupakai untuk membeli komik lain.

Kebiasaan mencari dobelan ini kemudian membawa aku menekuni hobi baru: mengetik nama penulis/ pengarang favoritku di Tokopedia. Hampir tiap hari itu aku lakukan. Hasilnya menakjubkan, sih. Kadang aku nemu buku atau komik yang tak kupikir ada, kadang dapat buku atau komik untuk dobelan yang harganya murah.

Seperti buku langka Di Etalase karya Ugoran Prasad, vokalis Melancholic Bitch yang kharismatik itu. Dulu aku dapat eksemplar pertamaku dengan cara yang terbilang ajaib: ia terserak begitu saja di satu tumpukan sebuah pameran buku murah di Jogja. Hanya satu eksemplar, tak ada yang lain. Langsung aku sambar. Harganya: Rp10 ribu.

Nasib baik menaungi buku itu. Sebab meski ada beberapa klepto buku yang main ke kontrakanku dan mengincar buku itu, tak ada yang benar-benar mengambilnya. Buku itu sekarang ada di Jember bersama buku-buku yang kukirim dari Jogja waktu aku selesai kuliah.

Beberapa hari lalu, sembari menunggu kantuk, aku iseng mengetik Ugoran Prasad di bilah pencarian. Selain buku Kumpulan Budak Setan yang beberapa kali dicetak ulang itu, mataku menumbuk Di Etalase. Hanya ada dua eksemplar Di Etalase di seluruh penjuru Tokopedia (aku sering mengandaikan lokapasar berwarna hijau itu sebagai toko buku yang luas dan besar, mungkin seperti kumpulan Waterstones di satu tempat).

Satu penjual membanderolnya Rp200 ribu. Satu lagi, seperlimanya.

Dalam waktu kurang dari 2 menit, buku itu sudah aku bayar. Sehari kemudian, ia sampai. Asli, baru, masih segel.

Di hari bersamaan, aku juga mengetik Sri Owen, salah satu pandit yang mula-mula mengenalkan kuliner Indonesia ke dunia dari era 1970-an. Bukunya yang paling legendaris adalah Indonesian Regional Food & Cookery, pertama terbit pada 1980 (kalau gak salah).

Lha, ternyata ada. Harganya murah pula, jauh di bawah Rp100 ribu. Aku kemudian langsung menebusnya tanpa perlu pikir panjang. Sekarang ada dua judul itu di rak kami.

Anggap saja ini langkah pencegahan, juga jaga-jaga kalau ada alap-alap buku yang mengintai dan menggondolnya diam-diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.