Oleh: Rick Bragg
Aku selalu bertanya-tanya dari mana keajaiban itu berasal. Keajaiban itu ada di resep kentang tumbuk ibuku. Dulu aku menganggap keajaiban itu adalah cinta.
Aku pernah makan ribuan kentang tumbuk yang disajikan pada steak murah meriah, yang ditaningi pelayan perempuan dengan jaring rambut dan sepatu kesehatan. Aku juga pernah menyantap ribuan kentang tumbuk di bistro mewah, yang kentangnya ditaburi cacahan parsley atau remahan keju parmesan.
Tapi tak ada yang seenak yang dibikin ibuku, yang dibuat dalam periuk, di hutan pinus Alabama.
Aku pernah menanyakan rahasia supaya kentang tumbuk bisa seenak buatannya.
“Hanya mentega, susu, garam, dan merica,” katanya berbohong.
Aku tahu dia berbohong karena aku pernah membuatnya, didorong rasa rindu, saat tinggal di New York, Los Angeles, Miami, dan tempat lain. Aku pernah hampir membakar Cambridge, hanya karena kesal tak bisa meniru rasa kentang tumbuk buatan ibuku.
Aku selalu berusaha meniru cara membuatnya. Tapi ketika sudah selesai, rasanya biasa saja. Semenjana.
Kentang tumbuk buatan ibuku itu creamy, sempurna, dengan mentega beneran yang teksturnya menyatu. Kentang tumbuk yang menggumpal itu hanya untuk turis. Kentang tumbuk yang masih menyisakan kulit itu hanya untuk mereka para tuna citarasa.
Kalau kentang tumbuk buatan ibuku, ini mungkin terdengar klise, meleleh di lidah, dengan samar-samar rasa… apa ya? Itu dia yang aku tak tahu. Aku tahu semua resepnya, kecuali rasa misterius itu.
Kemudian pada hari Thanksgiving, aku menyelinap ke luar dapur dan mengintai ibuku membuat kentang tumbuk. Saat itulah aku menyaksikan rahasia keajaiban yang dibuat ibuku. Ternyata bukan berasal dari rempah rahasia atau jantur kuno.
Keajaiban itu ternyata berasal dari kondimen. Sialan.
Jadi, setelah menumbuk kentang, memberinya garam, merica, dan menambahkan susu murni serta sekitar dua ratus gram mentega, ibuku membuka kulkas dan mengambil buli-buli berisi mayonaise.
Dia mengambil satu sendok penuh mayonaise untuk sekitar 3,5 kilogram kentang dan mencampurnya perlahan dan teliti, sehingga rasa mayonaisenya bercampur dengan baik dan terasa hanya samar belaka.
Aku kemudian pergi dari tempatku mengintip, meninggalkan ibuku yang masih berpikir kalau dia berhasil menyimpan rahasia itu dengan baik.
Harusnya aku tahu rahasia itu sejak lama.
Hanya mayonaise. Dan dengan naifnya aku mengira rahasia itu bernama cinta.
***
Ini adalah kisah romansa tragis.
Aku mencintai mayonaise seperti Odyssey mencintai Penelope, Samson mencintai Delilah, Lancelot mencintai Guivevere. Aku tahu, mereka semua juga tahu, kalau cinta ini tak akan berakhir dengan bahagia. Tapi bodo amat.
Saat aku sekarat nanti, mungkin karena kolestrol tinggi sialan yang setia menemaniku sepanjang hidup, aku berharap seseorang akan memberi sesaset mayonaise Hellman, Kraft, Duke, atau Bama, sehingga aku bisa menyelipkannya di bawah bantal seperti sobekan Kitab Suci atau foto keluarga. Hal itu akan membuatku nyaman saat aku akhirnya nanti mati. Kalau tak boleh begitu, bolehlah diganti dengan setangkup sandwich.
***
Istriku, orang yang tahu segalanya, bilang kalau ada dua jenis orang di dunia ini. Pertama, ada orang seperti dia, orang-orang yang menyukai mustard. Orang mustard.
Mereka adalah jenis orang yang akan bangun pagi dan berlari lima kilometer, atau kalau sudah tak sekuat itu, mereka akan ngoceh kalau mereka dulu sering berlari lima kilo. Mereka mengenakan pakaian dari katalog baju para petualang, yang iklannya menampilkan gambar orang naik gunung, memancing, atau mendayung kano, dan di sampingnya ada anakan anjing Labrador.
Mereka makan sayuran yang bentuk dan rasanya seperti makanan kuda, dan bersumpah kalau itu enak. Mereka juga tak akan membiarkan susu murni masuk dalam perut, bahkan sekadar lewat bibir pun tidak. Mereka tak pernah kena darah tinggi, kecuali saat curhat. Mereka tak pernah kena encok atau rematik walau sering ngomong soal itu. Mereka juga bisa makan setengah kilogram cokelat murni, tanpa harus memeriksa kadar gula. Kalau ditanya alasannya kok bisa makan cokelat sebanyak: kadang mereka gak sadar kalau sedang makan cokelat.
Orang-orang mustard akan membuat dokter mereka senang, karena pembuluh darah mereka licin dan bersih seperti bagian dalam sedotan. Tapi mereka akan membuat anak-anak mereka sengsara karena dengan semena-mena menaruh potongan wortel di kotak makan.
Mereka suka berlibur di Colorado dan Wyoming, juga tempat-tempat suci bagi para orang mustard: Portland, Oregon, atau tempat manapun yang berbukit sehingga mereka bisa mendaki atau bersepeda gunung. Mereka suka salmon asap, tuna mentah, dan kalkun (mereka yang membuat populasi kalkun di Amerika Serikat jadi normal, setelah sebelumnya jumlah kalkun di Amerika sangat berlebih). Mereka juga suka makan sandwich gandum yang tentu saja dioles mustard.
Jenis orang kedua, sisanya, adalah kita. Aku dan kalian.
Kita bangun pagi dan menyetir 6 kilometer untuk makan pancakes. Kalau sedang lupa, makanan kita tak akan mengandung mayonaise. Kita suka baju dari katalog L.L Bean, tapi itu karena sebagian besar ukuran baju mereka adalah XXL. Kita juga suka sepatu lari, yang kita pakai untuk pergi ke Popeye’s –restoran masakan Amerika bagian Selatan–, atau berjalan ke kotak surat kalau tak terlalu jauh.
Kita tidak akan pernah mau dekat-dekat dengan kano, bahkan misal sedang terjadi badai besar dan hanya benda itu yang tersisa untuk berlindung. Kita suka berlibur di New Orleans, di mana jalanannya yang datar berisikan warung-warung yang menyajikan hidangan udang remoulade (kondimen Perancis berbahan dasar mayonaise), terong goreng yang dicucuri saus bearnaise (juga berbahan dasar mayonaise), atau sandwich po’ boys berisi kerang goreng yang berlumur… kamu tahu sendiri lah.
Di rumah, kita suka semua jenis ikan yang didampingi dengan saus tartar (lagi-lagi berbahan dasar mayonaise). Isian sandwich favorit kita adalah daging sapi panggang dengan keju dan bawang. Kita tak masalah kalau sandwich itu dikasih selada, tomat, atau bawang pedas ala Spanyol, selama semua sayuran itu disertai dengan gunungan keripik kentang Zapp’s Hotter ‘n Hot Jalapeno, dan dihidangkan bersama seperempat liter root ber Barq atau es teh manis. Kita juga membolehkan sandwich kita dioles mustard, asal dicampur dengan mayonaise.
Karena kita tidak membenci orang-orang jenis mustard, ya setidaknya tak sebanyak kebencian mereka pada kita.
Para orang mustard itu membuat kita merasa seperti orang-orang rendahan, dan menganggap kecintaan kita terhadap mayo adalah keputusan hidup yang buruk, seolah kita mengencani penari telanjang dengan tato Voldemort.
Setiap kali aku memegang botol mayo, istriku melihatku dengan tatapan yang mendekati rasa jijik.
“Kenapa sih kamu gak makan mustard aja?” tanyanya, dengan nada yang seolah berarti, siapa kamu dan apa yang telah kamu perbuat pada suamiku yang dulu?
“Aku gak mau mustard,” balasku, dengan nada seperti anak berumur 4 tahun.
Lalu dia berdiri di sampingku, untuk mengawasi jumlah mayo yang akan kuoleskan. Saking sedikitnya yang dibolehkan, bahkan aroma mayonya saja tak tercium. Dan dia bahagia karena aku tak senang.
“Tapi kamu boleh makan mustard sebanyak apapun,” katanya di balik punggungku dengan nada mengejek. Mendadak dalam kepalaku ada suara-suara yang menyuruh melakukan hal buruk pada istriku.
Kemudian aku berpikir akan seberat apa hukuman yang diberikan hakim di pengadilan nanti.
Dan menurutmu, bakal seberat apa hukumanku kalau ternyata si hakim itu orang mustard juga?
***
Aku rasa kecintaanku pada mayo itu adalah kelemahan, dosa, seperti Kemalasan atau Dengki dalam 7 Dosa Besar. Tapi sama seperti sebagian besar orang-orang Selatan yang gemar melakukan hal buruk, aku akan menimpakan dosa itu pada warisan leluhur kami.
Aku tumbuh di dataran tinggi Alabama, di antara para kelas pekerja Southerners yang tak pernah dekat dengan kaum ningrat kecuali sebagai pekerja. Budaya kami adalah mencintai mayonaise, juga mencintai sinar bulan, kerja keras, football, balapan, dan gereja lokal. Orang-orang bilang kalau di nadiku mengalir wiski yang dibuat oleh kakekku di bukit yang selalu diselimuti halimun. Tapi dokterku bilang nadiku dialiri oleh mayonaise, dengan sedikit lemak bacon.
Aku tahu kalau mayonaise punya sejarah yang panjang, dan disantap dengan cara yang berbeda-beda. Orang-orang di Fargo suka mayonaise yang dicampur dengan pir kalengan, dan di Perancis orang suka menaruh mayo di atas kentang goreng. Aku pernah mencoba mayo di Addis Ababa, di bandara Amsterdam, dan dalam sandwich ayam di Islamabad.
Ada banyak teori tentang asal usul mayo, misalkan cerita warga Romawi dan Mesir yang mencampur minyak dan telur untuk menyamarkan rasa masakan yang tak enak. Yang paling populer tentu saja adalah cerita bahwa mayo dibuat oleh orang-orang Perancis. Namun tak seperti celana ketat dan sepatu runcing mereka yang buruk rupa dan aneh, kali ini mereka membuat sesuatu yang benar.
Dipercaya kalau mayonaise dibuat di kota Mahon, Menorca, Spanyol pada titimangsa 1756, setelah Louis-Francous-Arman du Plessis de Richelieu mengalahkan batalion Inggris. Saus mahonesa dalam bahasa Spanyol kemudian disulih menjadi mayonaise. Hingga sekarang, para sejarawan makanan masih bertengkar soal asal-usul ini.
Orang Perancis boleh saja mengklaim kalau mayonaise itu buatan leluhurnya, tapi kami percaya bahwa orang Selatan yang membuat mayonaise, tentu dengan berkah dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Besar.
***
Pada masa Depresi Besar, mayo melimpah dan lebih murah bagi orang-orang Appalachians ketimbang lemak babi atau minyak goreng lain. Nenekku yang berasal dari Rome, Georgia, selalu memasak ayam goreng dengan menggunakan mayonaise. Rasanya juara satu. Coba kalau dimasak dengan mustard, kamu akan menyumpah serapah sepuasnya.
Istriku, seorang gadis muda yang tumbuh besar di Memphis pada dekade 1920-an… maksudku 1970-an, adalah tipikal orang yang memakai mayonaise sebagai kondisioner rambut. Mayo membuat rambutnya jadi kinclong, tapi selama berhari-hari rambutnya beraroma salad telur. Aku rasa karena itulah dia jadi orang mustard sekarang, tapi dia tak mengaku. Menurutnya, dia tak mau makan mayonaise karena neneknya berpesan kalau mayo itu harus ditaruh di suhu ruangan. Padahal suhu ruangan di Memphis saat musim panas bisa sampai 51 derajat celcius.
“Ibuku bilang, apapun yang terjadi, jangan makan mayo,” kata istriku.
Menurutku, rasa takut itu akan membuatmu takut mencoba apapun.
Saat aku masih kecil, ibuku menggunakan mayonaise untuk mengobati luka bakar, atau untuk meringankan kulit lepuh akibat sengatan matahari. Para perempuan lain menggunakan mayo untuk membunuh kutu, terutama setelah mereka mengeriting rambut dengan Dippity Doo. Karena minyak rambut itu membuat rambut jadi kutuan.
Tapi seringnya, kami ya memakan mayonaise. Kami makan mayonaise di cole slaw (salad yang terbuat dari cacahan kubis dan sayur lain, kemudian dicampur dengan mayonaise dan cuka), atau di salad kentang, atau mengolesnya di atas agar-agar yang dijual di Kafe Morrison.
Kami mengoles mayo di roti tawar putih, karena cuma roti jenis itu yang kami tahu. Lantas kami membuat sandwich berisi irisan tomat, garam, dan lada. Atau kami menaruh mayo di antara irisan pisang.
Hingga hari ini, aku merasa kalau kudapan sederhana seperti itu yang disertai dengan segenggam keripik kentang Golden Flake dan segelas susu, adalah makanan yang teramat enak. Aku bisa bertahan hidup hanya dengan memakan itu. Dan aku selalu memakan penganan itu setiap saat. Maksudku, saat istriku sedang kerja.
Tanpa mayonaise, kita tak akan kenal sandwich BLT (bacon, lettuce, tomato), tak ada keju pimento (bahan olesan sandwich yang berbahan campuran keju dan mayonaise) , tak ada deviled eggs (adonan telur dan mayonaise). Salad ayam, salad udang, salad kepiting, lobster rolls, semua akan disajikan dengan menyedihkan, polos, dan pasti tak enak.
Bahkan istriku, sang diktator mustard, mau makan mayonaise untuk hidangan-hidangan itu.
Istriku suka salad ayam, tapi dia selalu bertanya dulu pada sang pelayan, “Apakah mayonaisenya asli?”
Aku ingin gantung diri.
***
Pada akhirnya, aku pikir istriku yang menang.
Pernah dalam suatu masa, aku bisa membuat cole slaw terbaik di dunia. Caranya sederhana. Tips pertama, gunakan kubis merah segar dan wortel berkualitas baik. Aku menggunakan mayonaise asli, tapi dicampur dengan merica hitam, dan bawang putih, serta sedikit taburan garam rasa bawang bombay. Rasanya lezat kalau ditambah dengan kacang pinto dan ham, atau disantap dengan iga sapi, kentang dan bawang bombay; atau dengan beberapa wafer dan segelas teh.
Tapi itu dulu. Ya setidaknya dulu aku pernah membuat salad kubis terbaik.
Istriku bersikeras kalau sekarang aku hanya boleh mengonsumsi mayo rendah lemak, dan tentu saja itu ide gila. Rasanya beda, bahkan hasil masakannya pun akan berbeda. Sejak saat itu, rasanya seperti tak ada kebahagiaan lagi.
Aku sadar kalau mayonaise rendah lemak pada cole slaw dan salad akan lebih aman bagi pria berumur 51 tahun. Tapi rasanya kok absurd ya, memakai mayo rendah lemak pada sandwich ham dan keju, atau di Philly cheese steak, atau di sandwich telur. Itu rasanya seperti makan dua Whopper Keju, tapi memesan diet Coke agar lebih sehat.
Orang-orang bilang aku harus dewasa. Mereka bilang aku harus melupakan cara bersantapku yang dulu, dan jalani saja masa ini. Aku sudah mencoba. Benar-benar mencoba.
Beberapa hari lalu, aku berdiri di depan rak supermarket yang memajang jejeran toples mayonaise.
Aku ingin memilih satu jenis mayo, tapi aku bingung. Dulu rasanya bahagia sekali melihat pajangan botol-botol mayonaise bermerek Miracle Whip. Sekarang ada banyak sekali mayo, beraneka merek dan rasa. Ada yang berlabel Hot and Spicy, Rendah Lemak dengan Minyak Zaitun, juga dengan rasa Chipotle, Dijon Lobak (yang dibuat dari mustard), Basil Pesto, Cabai Manis, dan ya tuhan… Wasabi.
Wasabi.
Aku berbaik sangka dengan menganggap semua rasanya enak, dan sebagian besarnya adalah mayo rendah lemak.
Aku rasa orang mayo akan suka.
Aku bahkan mikir kalau sebagian orang mustard juga akan menyukainya.
Tapi aku pergi dengan sedikit sedih.
Bibiku Edna, yang meninggal tahun lalu, adalah pembuat kue jagung yang paling enak di dunia. Bentuknya tebal, tapi ringan dan lembab, tidak kering, sedikit rapuh, tapi sempurna.
Aku pernah mendengar cerita kalau dia mencampur sedikit mayonaise dalam adonan kuenya.
Cerita itu mungkin saja tidak benar.
Tapi kalau itu memang tidak benar, aku tak mau tahu.
***
Aku dengar Elvis suka mayonaise, suka banget malah. Terutama kalau dicampur dengan hamburger yang diberi irisan keju Velveeta. Tentu saja kita tahu apa yang terjadi padanya. Tapi aku tetap saja tak bisa jadi orang mustard, dan aku tak bisa terus berpura-pura menyukai mayonaise rendah lemak ini.
Gara-gara ini, aku sempat berencana pindah ke Perancis. Soalnya istriku bilang dia bakal mengizinkanku makan mayonaise kalau kami pindah ke Perancis. Sama seperti semua orang mustard menyebalkan yang lain, dia memang suka melontarkan lawakan khasnya (baca: yang tentu saja tak lucu). Tapi gimana lagi, aku tak punya teman di Perancis.
Yang bisa aku lakukan agar bisa makan mayonaise, ya menunggu istriku pergi ke luar kota. []
Rick Bragg adalah penulis buku laris All Over but the Shouting’, Ava’s Man, The Prince of Frogtown, dan buku-buku lain. Rick yang juga merupakan pemenang Pulitzer adalah pengampu mata kuliah Menulis di Universitas Alabama. Tulisan ini diterjemahkan semaunya dari tulisan ini.