BAB 3
Pada September 1984, aku pergi ke arah selatan dengan Ford Maverick 1971 milikku dan 360 dolar di saku. Aku berusia 20 tahun saat itu.
Hijrah dari kampung halaman, aku merasakan sensasi menjunjung nama baik Seattle di bahuku. Perasaan berlebihan itu muncul karena aku baru saja lepas dari masa remaja. Dan sama seperti remaja manapun, khayalan dan mimpi itu sepertinya lebih berkuasa ketimbang realita. Tapi aku adalah anak ajaib di kancah musik Seattle kala itu. Bocah kelas 2 SMP yang bermain dengan orang-orang berusia 20-an, bocah yang bisa memainkan semua instrumen –gitar, bass, drum, ya walaupun tak mahir-mahir amat, tapi cukup baik lah untuk bermain dalam band. Sekarang, dengan pandangan tertuju ke Los Angeles dan Space Needle* berada di belakangku, aku merasa seolah-olah semua orang mengandalkanku untuk jadi the guy, pemusik berhasil. Mungkin tekanan itu hanya perasaanku saja, tapi orang-orang mulai bertaruh selepas aku pergi. Apakah aku akan berhasil di L.A ataukah aku akan merangkak pulang ke Seattle.
Pemberhentian pertamaku adalah San Francisco. Niat: menginap semalam di tempat kawan punk-ku. Kenyataan: aku menumpang seminggu. Apa boleh buat, ada seorang gadis di sana, Bung. Lagipula aku kenal dan menyenangi beberapa orang di kancah punk Bay Arena. Tapi tetap saja, aku tak tertarik bergabung dengan band di sana dan memainkan musik yang itu-itu saja.
Saat aku akhirnya pergi dari San Francisco, 360 dolarku sudah menyusut jadi 60 dolar. Suasananya jadi bikin gentar. Dari telepon koin di sebuah pom bensin, aku menelpon abangku, Matt, yang saat itu sedang kuliah di Cal State Northridge.
“Bang, kamu tahu kan kalau aku menuju ke Los Angeles?”
“Iya, aku denger kabar itu,” katanya. “Memang tujuanmu mau ke mana?”
“Gak tahu, mungkin ke Hollywood. Ada lowongan gak di Black Angus?”
Matt memang membayar biaya sekolahnya dengan bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran steak, di belakang lembah Hollywood. Dia bisa bermain trombon, dan bercita-cita jadi guru musik.
“Mungkin,” katanya.
“Aku punya surat rekomendasi dari Kafe Lake Union,” kataku. Itu adalah restoran tempatku bekerja selama 2 tahun ketika tinggal di Seattle.
“Mungkin aku bisa mencarikanmu pekerjaan,” ujar Matt.
“Gimana caraku menuju ke sana?”
“Ambil jalan 5 hingga 405, dan keluar di Roscoe Boulevard. Pergi ke arah barat menuju Roscoe hingga kamu ketemu Corbin Avenue. Lalu belok kanan. Restorannya ada di 9145 Corbin.”
Aku kemudian langsung menuju sana dan langsung menjadi asisten juru masak malam itu juga, 14 September 1984. Di akhir jam kerja, aku ingin menengok rumah baruku: Hollywood. Aku menanyakan arah menuju ke sana.
“Yaaaa, sekitar 40 kilometer lah dari sini…”
Hah? Lha aku ini berada di planet mana? Aku pikir ini di Los Angeles.
“Kamu tinggal menuruni Ventura dan belok kiri. Ikuti saja jalan menuju ngarai Laurel, ada di atas gunung…”
Heh? Ngarai di atas gunung? Piye iku mbut?
Aku toh akhirnya pergi juga. Mencari apapun yang berbentuk seperti gunung. Aku melihat banyak bukit, tapi tak ada gunung. Hingga aku akhirnya sampai di Ngarai Laurel –sebuah jalan yang membelah naik lembah, lalu… Los Angeles! Dari atas bukit aku bisa melihat pusat kota L.A yang tak lebih besar ketimbang Seattle. Tapi pendar cahaya dari padatnya perumahan murah itu seperti tak ada ujungnya. Sepanjang mata memandang, sepanjang itu pula kota terbentang.
Selama minggu-minggu pertama, aku tinggal beberapa malam di tempat kakakku. Tapi tempatnya terlalu jauh dari Hollywood, yang, menurut orang asing sepertiku, adalah pusat dari kancah musik L.A. Ditambah dengan durasi tempuh dari tempat abangku dan Black Angus, sama saja dengan perjalanan antar kota. Lagipula, aku tak bisa ujug-ujug muncul dan tinggal di tempatnya.
Jadi aku sering tidur dalam mobil yang kuparkir di Hollywood Hills. Polisi tidak pernah patroli di jalanan penuh pepohonan menuju Franklin Avenue ini. Saat itu keriangan Olimpiade musim panas sudah usai, dan polisi hanya hadir di pusat Hollywood. Ini membuat banyak penjahat, bromocorah, dan preman membanjiri kawasan yang tak diawasi. Obat bius dijual bebas di Hollywood. Aku tinggal di tengah-tengah itu semua, dengan sebuah bass yang masih belajar aku mainkan.
Namun aku tetap pede dengan kemampuanku bersosialisasi dan bahwa aku punya banyak hal untuk ditawarkan. Aku merasa punk rock sudah menjelang sakaratul maut pada 1984. Dua gelombang pertama sudah usai –band punk orisinil dan kemudian band hardcore. Apapun yang akan terjadi pada genre ini, orang-orang seumuranku –yang sudah melewati periode punk dan sedang mencari arah baru– adalah yang akan melakukannya. Masa depan terletak di pundak kami. Aku mencari orang lain sepertiku, yang tertarik membuat paradigma baru. Aku yakin aku akan memainkan peranan penting dan vital dalam inovasi musik apapun di masa depan.
Dengan semua yang berkecamuk dalam kepala, mataku menumbuk iklan di koran lokal gratisan bernama The Recycler. Itu adalah iklan sebuah band yang sedang mencari pemain bass. Orang yang harus dihubungi bernama Slash. Dengan nama sesangar itu, aku berasumsi kalau dia adalah seorang lelaki punk rock sepertiku. Dan jika kami punya latar belakang musik yang sama, mungkin visi kami akan sama pula.
Seingatku, tidak ada yang menarik di kancah musik Los Angeles pada musim gugur 1984. Hanya beberapa sisa band punk, dan gerakan heavy metal yang tumbuh subur tapi kualitasnya buruk, dan sesuatu yang disebut sebagai “cow punk”. Aliran itu pada dasarnya berisikan lelaki berpenampilan punk rock mengenakan hem kotak-kotak mencoba memainkan lagu-lagu Patsy Clines dengan latar belakang suara nyanyian pacar gendut mereka.
Iklan yang dipasang Slash menyebut pengaruh musiknya adalah Alice Cooper, Aerosmith, dan Motorhead. Itu paling lumayan sejauh yang pernah aku temui di L.A. Lagipula aku cuma ingin cari kawan baru.
Aku menelpon Slash dan ngobrol. Suaranya lembut, tetap sama hingga sekarang. Saat dia menyebut nama bandnya, aku mendengar Rodker. Wah, batinku, itu nama yang aneh untuk sebuah band. Kemudian aku berencana kopi darat dengan Slash dan kawan drummernya, Steven Adler, di sebuah resto 24 jam bernama Canter’s yang berada di kawasan Fairfax.
“Aku akan pastikan kami duduk di meja pertama di sebelah kiri,” katanya.
Aku bilang padanya kalau rambutku berwarna biru dan akan mengenakan mantel kulit panjang berwarna hitam dan merah.
“Dengan ciri seperti itu, kayaknya aku gak bakal salah mengenalimu deh,” katanya.
Satu hal yang sudah aku sadari: orang-orang dari Seattle terlihat amat berbeda kala itu. Saat band seperti Black Flag atau Dead Kennedys bermain di Seattle, mereka selalu berkomentar betapa berbedanya penonton di sana. Tapi aku baru kepikiran waktu sudah pindah ke L.A sih. Di sini, aku memutuskan akan tetap berpenampilan berbeda untuk meyakinkan pemeriksa KTP di bar bahwa aku tak berasal dari Amerika Serikat dan karenanya tak bisa berbahasa Inggris. Saat mereka minta KTP-ku, aku akan mengangkat kacamata dan memasang tatapan bingung. Mereka mungkin mengira aku dari Swedia dan sekitarnya. Dan benar: cara ini amat ampuh menipu mereka.
Aku pergi ke Canter dengan mantel germo seperti janjiku: sehelai mantel kulit hitam yang panjangnya menyentuh kaki, dengan hiasan samping warna merah. Sebenarnya ada huruf A merah –logo Anarki– di bagian punggung, tapi aku menindasnya dengan spidol hitam begitu bandku di Seattle bubar. Band itu bernama The Fartz, dan logo kami menyertakan logo A anarkis itu.
Saat aku masuk dan menengok ke arah kiri, aku seperti melihat bongkahan rambut. Bagaimanapun aku mengharapkan pria yang berpenampilan seperti personel Social Distortion. Ternyata, meski mereka seumuranku, para personel Rodker ini berambut gondrong dan punya pacar yang berdandan sama.
Dandanan dua rocker gondrong dari Hollywood cukup bikin aku terkejut, dan aku jelas bingung bagaimana memulai pembicaraan. Namun sama saja, dengan dandananku yang berambut biru lengkap dengan mantel panjang, aku pasti terlihat seperti alien bagi mereka. Kami sama-sama lumayan terkejut dan penasaran satu sama lain.
Di balik rambut gondrong Slash, tersembunyi sebuah pribadi introvert yang pemalu. Dia keren, sih. Ia menyembunyikan sebotol vodka di bawah meja. Ia dan Steven belum genap berusia 21 tahun, cuma vodka yang bisa ia beli. Kami minum vodka dan menyantap sup gandum kacang polong ala Canter. Hingga sekarang aku masih menyukai sup itu.
Bukan cuma tukang pukul klub yang heran dengan dandanan punk Seatlle-ku. Pacar Slash juga amat kaget. Ia mencondongkan badannya padaku dan bertanya, “Apakah kamu gay?”
“Aku bukan gay,” kataku sembari tertawa.
“Rambutmu pendek. Kurasa kamu gay. Gak papa kok, kamu bisa jujur padaku. Kamu punya pacar gak?”
“Belum,” ujarku. “Aku baru saja pindah ke sini.”
“Santai saja. Kami akan carikan pacar untukmu.”
Steven Adler amat ramah dan ekspresif, dengan antusiasme yang serupa bocah kecil.
Dia bilang, “Dengar, kita akan jadi hebat. Akan membuat kaki menghentak dan tangan bertepuk.”
Ia masih mengatakan kalimat itu hingga sekarang, saat mulai duduk di balik perangkat drum dan merasa bersemangat: membuat kaki menghentak dan tangan bertepuk.
Kami kemudian pulang ke rumah Slash –dia tinggal bersama ibunya. Malam itu aku melihat dengan jelas: Slash adalah pemain gitar yang istimewa meski hanya memainkan gitar akustik. Aku terkejut oleh kekuatan emosi mentah dan liar yang begitu mudah ia uarkan. Slash sudah berada di kelompok pemain gitar hebat, dan menontonnya menggenjreng gitar adalah momen “Iki sangar cuk”.
Meski begitu, aku khawatir dia dan Steven punya pengaruh musikal yang berbeda denganku. Ketakutan itu berakar pada pengalaman di Seattle, bahwa orang gondrong cenderung kuno dan ketinggalan zaman. Rambut gondrong di Seattle berarti orang ndeso, atau petani, atau penebang pohon. Rambut gondrong berarti heavy metal. Kami yang berada di kancah punk memanggil orang-orang seperti itu dengan sebutan “hesher”**. Kami adalah orang kota. Kami menganggap diri sendiri sebagai orang modern, gaul. Tentu saja ketakutanku itu juga berdasarkan pengalaman langsung: Slash dan Steven masih sering memainkan lagu Anvil, “Metal on Metal”. Dan ternyata nama band mereka adalah Road Crew, bukan Rodker.
Terlepas dari itu semua, semakin sering kami nongkrong, ngobrol, dan mendengarkan musik, semakin banyak kemiripan di antara kami. Slash juga menunjukkan beberapa gambarnya malam itu. Tentu saja waktu itu aku gak kepikiran kalau tak sampai setahun kemudian dia akan menggambar logo band kami: dua pistol dengan batang mawar berduri yang merambati selongsong peluru.
Slash adalah pria eksentrik. Dia punya ular di kamarnya.
“Dia amat manis,” katanya.
Aku cuma diam. Tapi dalam hati, aku mikir. Ular? Manis? Matamu suwek.
Tapi dia tetap orang yang keren dan kalem. Dia juga seorang pemain gitar jenius, dan aku menyukainya. Dan yang paling penting, aku tahu di mana Slash tinggal dan aku tahu cara menuju ke sana. Karena itu, hubungan perkawanan kami awet. Aku tak punya kawan di kota baru ini. Tahu di mana rumah Slash, aku bisa datang kapan saja, dan karenanya perkawanan kami jadi awet.
Dan sebagai bonus tambahan, aku menyukai Ola, ibunya. Ia amat baik. Bahkan dia menelpon ibuku, mengabari kalau aku baik-baik saja. Juga menelpon Black Angus untuk mengabari hal yang sama. Ola menjadi ibu angkatku selama awal-awal minggu di L.A (dia tetap jadi ibu angkatku selama bertahun-tahun sih).
Slash, Steven, dan aku mulai ngejam di studio di ujung Highland dan Selam. Sewa studio ini 5 dolar per jam, 15 dolar kalau kamu ingin PA. Aku menghabiskan semingguan ngejam dengan mereka selagi aku tinggal di mobilku.
Pada akhirnya, aku merasa tak cocok bermain dengan mereka. Meskipun Slash amat berbakat, arah musiknya dan Steven bukanlah tujuanku. Lagu yang mereka punya, suara gitar, drum double-kick Steven lengkap dengan tom-tom dan simbal, semua terlalu konvensional. Musik mereka masih mencari bentuk, sekaligus terpaku pada pakem lama. Sedangkan aku mencari orang-orang yang siap membuat pakem musik baru.
Selain itu band kami tak punya vokalis. Kami seperti band SMA, tapi lengkap dengan gitaris hebat. Sudah berada di lusinan band dan bermain dengan musisi profesional yang tak terhitung jumlahnya, aku menganggap diriku adalah musisi veteran. Aku merasa kalau Slash dan Steven punya cita-cita, mereka ingin lebih dari ini, walau mereka belum tahu musiknya akan seperti apa. Aku tak pergi ke Los Angeles untuk bermain bersama orang-orang yang belum tahu mau ngapain.
Setelah seminggu, aku bilang ke mereka, “Aku gak cocok ngeband bareng kalian, tapi aku masih ingin berkawan.”
“Oh, oke,” kata mereka.
Di umur segitu, tak ada kecanggungan. Menjadi blak-blakan adalah hal biasa. Aku mencintai Slash dan Steven, tapi saat itu Road Crew bukanlah band yang aku cari.
Kami masih tetap nongkrong bareng. Beberapa minggu kemudian, di bulan Oktober, Slash dan Steven mengajakku ke konser di Troubadour, klub malam di bilangan West Hollywood, untuk menonton band bernama L.A Guns. Slash dan Steven pernah bermain berasma vokalisnya, Axl Roses, dalam band bernama Hollywood Rose, yang sekarang sudah bubar. Sekarang Axl berada di band lain, yang mengambil nama gitarisnya, Tracii Guns. Ternyata Tracii adalah pahlawan lokal. Dia satu SMA dengan Slash dan band mereka adalah rival.
Troubadour adalah klub rock sejati, dan ini adalah pertama kalinya aku pergi ke klub rock. Konser punk di Seattle biasa dihelat di tempat yang jauh berbeda –di tanah lapang, gudang bawah tanah di rumah, atau aula milik veteran perang yang disewa semalam. Jelas berbeda dengan di L.A. []
* Space Needle adalah bangunan ikonik di Seattle yang berbentuk seperti kendaraan luar angkasa. Ikoniknya bangunan ini mirip dengan Monas bagi Jakarta.
** Hesher adalah istilah slang bagi orang yang masih tampak terjebak di era 80-an: berambut mulet, mengenakan sepatu Reebok hi-top, mengenakan kaus Judas Priest, dan masih tinggal bersama orang tuanya.
Ditunggu lanjutannya, mas,
Doh jd pengen pinjem bukunya ?