Hari Jumat lalu, saya dan Rani pergi menonton Mad Max: Fury Road. Saya awalnya mengira akan menonton sendiri saja. Karena Rani kurang suka film dengan latar belakang post apocalyptic, atau film yang pemainnya dandan aneh-aneh.
Tapi ternyata Rani girang pas diajak nonton. Tentu alasannya karena Tom Hardy yang berperan jadi Max. Dia memang fans berat Tom Hardy. Padahal menurut saya, si Tom aktingnya belum ada yang menonjol. Cuma ham hem ham hem aja. Karakternya juga kebanyakan gitu-gitu aja. Yang paling menonjol mungkin ya waktu dia maen Bronson atau Locke.
Ya sudahlah. Akhirnya kami nonton Mad Max. Saya awalnya sempat keder tak kebagian tiket, atau dapat kursi di deretan bawah. Maklum, baru pemutaran hari kedua. Saya pikir bioskop akan sangat penuh.
Ternyata saya salah. Tak penuh-penuh amat, kalau tak mau dibilang sepi. Bahkan saya masih leluasa memilih bangku di deretan atas.
Untuk Mad Max edisi keempat ini, saya memasang ekspektasi tinggi. Saya beberapa kali menonton trailernya, dan terpukau. George Miller, sang sutradara, berhasil menampilkan dunia setelah kiamat kecil dengan sangat baik.
Max Rockatansky adalah seorang pengelana, sendirian, tanpa tujuan. Ia hanya punya satu insting: bertahan hidup.
Dalam sebuah pengejaran, Ia ditangkap oleh War Boys, pemuda-pemuda gundul dengan cat putih di sekujur tubuh, untuk dijadikan pemasok darah segar. Max dibawa ke Citadel, sebuah daerah di tengah gurun, dengan gunung-gunung batu yang menjulang, dan pepohonan hijau di atasnya.
Di sana, Immortan Joe, pemimpin tiran dan bengis berkuasa. Ia menguasai air dan sumber makanan. Karena itu ia dipuja bagai tuhan. War Boys misalkan, begitu ingin mati demi Joe. “Apakah kami sudah ditunggu di Valhalla?” begitu pertanyaan mereka saat sudah siap mati. Kematian untuk Joe adalah sebuah kebanggaan.
Di tempat itu pula, Immortan Joe punya banyak sekali “properti”. Ada ibu-ibu gemuk nan montok yang menyuplai air susu ibu, ada pula istri-istri yang akan melahirkan calon panglima perang.
Joe punya panglima perang kebanggan: Imperator Furiosa, seorang perempuan dengan tangan kiri bionic. Hari itu, Furiosa akan mengemudikan War Rig –sebuah kendaraan perang berbentuk truk besar tahan goncangan, kendaraan terkuat milik Joe– untuk mengambil pasokan bensin.
Tapi Furiosa punya rencana lain. Ternyata ia membawa serta lima orang istri Joe yang ingin kabur karena tak ingin jadi pabrik anak. Maka Furiosa melenceng dari jalur untuk menuju Green Palace, sebuah tempat yang konon masih hijau dan melimpah sumber daya alamnya.
Joe yang tahu rencana ini, marah dan memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mengejar Furiosa. Turut pula seorang War Boys bernama Nux, yang sedang menerima donor darah dari Max. Nux, begitu ingin mati demi Joe. “Kalau aku mati, maka kematianku akan diingat dalam sejarah,” ujarnya. Maka Ia memaksa untuk ikut meski masih kekurangan darah. Solusinya: Max diajak ikut serta. Ini satu kesalahan fatal.
Dari sana film berjalan, penuh aksi, ledakan, dan juga musik yang kencang. Kejar-kejaran, lempar tombak, letusan pistol, hadir di hampir sekujur film.
Apalagi di 20 menit bagian akhir film. Itu kampret benar. Saya berulang kali menahan nafas. Adegan aksi dan kejar-kejaran itu benar-benar menguras adrenalin. Ekspektasi saya terpenuhi, bahkan meluber.
Seusai film habis, saya tak hendak langsung berdiri. Masih mengumpulkan nyawa. Seperti habis baru saja diajak tamasya yang begitu menegangkan. Impresi film ini sangat melekat. Susah sekali dilepaskan.
“Aku mau nonton lagi,” kata Rani.
Dan kemarin, akhirnya kami nonton film ini lagi. Ini pertama kalinya saya menonton film bioskop dua kali. Hebatnya film ini: ketegangannya masih tetap sama, melekat, meski kamu sudah menontonnya dua, atau tiga kali.
Secara premis cerita, film ini sederhana. Tipikal fugitive movie. Kabur, dikejar, lari. Seperti itu saja. Namun soal adegan aksi, luar biasa.
Salut juga untuk Miller yang berhasil dengan sangat baik menampilkan dunia yang mendekati kehancuran. Air tak ada, tanah tercemar. Maka barang siapa yang bisa menguasai air, dia jadi tuhan baru.
Belum lagi realisasi imajinasi liar ala Miller. Salah satu yang paling menggidikkan adalah saat War Rig dan pengejarnya masuk ke dalam badai pasir. Waduuuh, itu edan bener.
Lalu karakter-karakternya yang begitu komikal, tapi tetap terasa dekat. Ada War Boys, yang kalau di dunia nyata mirip seperti pasukan berani mati organisasi radikal manapun. Atau pasukan The Bullet Farmer –yang paling asyik adalah karakter pasukan yang lihai mengendalikan bilah panjang untuk bermanuver. Ada pula gerombolan pengendara motor di tebing batu.
Karakter yang juga mencuri perhatian adalah seorang War Boys buta yang bertugas untuk mencabik gitar. Ia jadi penyemangat para pasukan, bersama dengan para penabuh drum. Gitarnya unik: double neck, dengan api yang menyembur-nyembur.
Senjata dan kendaraan di Fury Road juga nyaris tak terbayangkan sebelumnya. Tombak dengan ujung yang bisa meledak. Ada pula penjerat leher dari paskan The Bullet Farmer. Mobil dengan roda tank. Mobil dengan ban big foot. Hingga mobil dengan duri-duri tajam mirip landak. Semua brutal, gagah, kuat, sekaligus mengerikan dan hanya bisa ditemui di imajinasi liar ala George Miller.
Miller tentu sangat terbantu dengan teknologi zaman sekarang, plus budget yang besar. Saat pertama membuat Mad Max tahun 1979, semua sangat sederhana. Rani melongo waktu saya perlihatkan film yang dibintangi oleh Mel Gibson itu.
“Geje banget,” katanya. []