Tora Tora adalah band hard rock/ hair metal yang bisa dibilang agak dilupakan. Tragically underated. Saat merilis album perdana Surprise Attack pada 1989, album ini sebenarnya mendapat tanggapan yang gempita. Mengadakan tur keliling Amerika. Juga pemutaran video klip di MTV. Hingga rikues lagu di radio-radio. Album ini bahkan bisa masuk dalam posisi 47 di tanggal album Billboard 200.
Tapi kenapa nama Tora Tora kemudian seperti terlupakan? Masalahnya bukan pada kualitas albumnya, melainkan waktu rilis yang “kurang tepat”.
Periode 1989 adalah era yang riuh oleh album perdana band baru, maupun album bagus dari band lama. Salah satu tahun dari rangkaian masa kejayaan album-album hard rock, hair metal, ataupun heavy metal. Blue Murder yang dikomandani John Sykes merilis album debut berjudul sama. Begitu pun Enuff Znuff (rest in peace Derek Frigo!) yang merilis album perdana. Grup bintang Mr. Big juga muncul dengan album pertama self titled-nya. Eits, jangan lupakan album pertama Skid Row yang paten punya. Melejitkan “18 And Life”, “I Remember You”, dan lagu kebangsaan sepanjang masa gerombolan pemberontak: “Youth Gone Wild”.
Selain nama-nama itu, ada juga Great White yang merilis …Twice Shy. Para rocker glamor Pretty Boy Floyd merilis album jelek-norak-tapi-jadi-cult, Leather Boyz With Electric Toyz. Tesla merilis album kedua, The Great Radio Controversy yang melejitkan lagu “Love Song”. Puncaknya mungkin saat Motley Crue merilis album terbaik mereka, Dr. Feelgood.
Di tengah kepungan album-album bagus itu, wajar kalau pendatang baru seperti Tora Tora tenggelam. Tapi toh kualitas bisa membuat album berumur lama.
Album ini berisi banyak lagu no filler hard rock. Tanpa basa basi. Lagu pertama saja sudah seperti mengacungkan jari tengah pada cinta, tema yang banyak diusung para hair rocker, “Love’s A Bitch”. Vokalis Anthony Corder juga tipikal vokalis yang suaranya begitu disukai fans hard rock. Kering, tipis, dan bisa melengking walau tak tinggi-tinggi amat. Saya juga suka gayanya yang agak tengil. Lagu kesukaan saya adalah “Love’s a Bitch”, “Walking Shoes”, “Phantom Rider”, dan tentu saja “Guilty” yang videonya saya sertakan di atas.
Saya suka band ini karena beberapa alasan. Alasan terbesar mungkin karena mereka, sepertinya, bermusik dengan bahagia. Band ini memang berawal dari garasi. Mereka berhasil rekaman karena memenangkan kontes band. Spesies band yang kerja keras untuk sekadar rekaman dan bikin album. Karena itu tak heran kalau di beberapa videonya, para personel Tora Tora tampak tersenyum dan tertawa senang.
Dari band garasi lalu dibuatkan video klip yang masuk dalam daftar high rotation di MTV, ditambah tur keliling Amerika, apa yang lebih baik ketimbang itu?
Alasan lain mungkin karena saya bisa merasakan energinya, walau tak pernah menonton langsung. Coba cari di Youtube video konser mereka. Tipikal konser mereka adalah yang diadakan di tempat kecil, pesing, penuh bau keringat, dan banyak MILF setengah teler yang minta dikenthu. Di tempat seperti itu, Tora Tora benar-benar bisa mencakar.
Selepas Suprise Attack, band yang berasal dari Memphis ini sempat merilis beberapa album tapi tak ada yang seberhasil album pendahulunya. Hampir 27 tahun sejak album ini dirilis, namun masih banyak penggemar yang membicarakan album ini. Harga piringan hitamnya masih tinggi, menjadi buruan kolektor. Harga plat bekasnya saja masih berkisar USD 39, atau sekitar Rp 540 ribu. Band ini masih aktif sampai sekarang. Konsernya masih ditonton oleh penggemar setianya.
Panjang umur laskar macan!