Saya tidak menyangka akan mendengar guyonan jenaka-garing ala British di Rough Trade East. Dan, guyonan itu ditujukan untuk saya.
“Bad t-shirt day, eh?”
Saya awalnya bingung maksud si bapak usia 40-an itu. Lalu saya menundukkan kepala. Tampaklah kuartet dari neraka bernama Motley Crue yang nampang gede-gede, lengkap dengan lingkaran satanik, di kaus yang saya pakai. Lalu saya terkekeh.
Mungkin saya tak teliti, tapi setelah beberapa kali keliling lorong Rough Trade East, memang tak ada hair metal di sini.
Musik era 60-70an menempati posisi terhormat di toko musik yang pertama kali didirikan pada 1976 itu. Raknya paling banyak. Selain dekade, jelas banyak rak berdasar genre. Punk sepertinya paling banyak. Apa boleh buat, toko musik ini berdiri dengan semangat punk rock, dan di masa keemasan punk, pula.
Selain itu, ada pula funk, soul, hip-hop, elektronik, bahkan house music.
Demi Tuhan, house motherfukkin’ music!
Tapi ya sudah lah. Toh saya ke sini tidak untuk beli vinyl. Saya hanya memuaskan keinginan si Faisal, kolega saya di Tirto, yang minta foto-foto Rough Trade. Karena hari ini sedang senggang, ya sudah ke sini saja.
Saya senang suasananya. Setelah pintu masuk, di bagian kiri ada bar yang menjual berbagai kudapan, bir, juga kopi. Di sana banyak dijejer buku saku. Mulai buku Greta Thunberg, sampai esai Plato dan Socrates.
Musik yang diputar variatif, ini tentu tak usah dijelaskan panjang lebar. Penjaganya ada beraneka rupa dan saya yakin punya kutub musik yang amat berbeda.
Yang paling saya ingat yang bentukannya mirip Lester Bang. Komplit pakai celana dan kaos ketat, kumis tebal, dan jaket jeans tanpa lengan. Sekujur tubuhnya seolah menyemburkan aura pria macan era 70-an.
Saya membayangkan replika Lester ini adalah jenis yang menganggap The Doors sebagai gerombolan pemain sirkus dengan vokalis seorang badut berlagak pujangga, dan tiap pagi berdebat keras dengan kawan sesama penjaga yang selera musiknya berbeda, tentang musik siapa yang harus diputar di jam buka toko. Mirip adegan di High Fidelity.
Selain rak musik, Rough Trade East juga menyediakan panggung di bagian belakang. Pas saya datang, kebetulan ada solis asal Prancis bernama La Feline yang akan main. Musiknya pop elektronik berbekal Fender Jaguar dan beberapa set sequencer.
“Saya dari Prancis, dan saya datang dari masa depan. Aku beritahu kalian, masa depan amatlah buruk.”
Siap, bosku.
Saya sempat nonton dia main empat lagu berbahasa Prancis. Saya tak paham dia nyanyi apa, tapi cukup lumayan didengar. Jenis musik yang cocok didengar sambil ngelangut dan memikirkan kiamat.
Selain jual vinyl dan CD, Rough Trade juga menyediakan buku. Banyak buku musik, tapi ada juga buku-buku macam…
Tapi ya jelas banyak buku keren yang sempat menggoda untuk dibawa pulang.
Setelah biduanita Prancis dari masa depan itu kelar manggung, saya pesan coklat hangat, duduk santai sembari membaca selebaran saku tentang album terbaik 2019 pilihan Rough Trade. Saya susuri dari nomor satu hingga terakhir.
Tentu saja tak ada Motley Crue di sana.