Saya bisa membayangkan Nody Arizona duduk di kursi yang nyaman, di sebuah kedai kopi yang bonafide di tengah Kaliurang yang tak pernah tidur.
Ia asyik menghisap rokok dan khusyuk membaca buku The Stranger-nya Albert Camus. Bergantian dengan Menuju Pembangunan Perekonomian Rakyat-nya Sri Edi Swasono. Maklum, pria berambut ombak ini adalah pembaca yang tekun. Pun, ia alumnus jurusan Fakultas Ekonomi. Pernah pula jadi Pemimpin Redaksi di Pers Mahasiswa di kampusnya.
Kafe itu penuh dengan orang yang saling bercakap. Nody tidak. Ia sendirian. Dan ia juga tak berharap akan ada teman yang menyusul.
Barista yang merangkap sebagai penyusun playlist coffee shop music menghentikan lagu dari album Continuum milik John Mayer. Ia mengambil CD putih, hasil burn, bertuliskan Closing Time (1973).
Mengalunlah lagu-lagu sendu dari pengeras suara. Mengisi celah ruangan. Di bawah kursi. Di samping meja panjang. Di dalam rak buku.
Saat itulah masuk seorang gadis berkacamata besar, dengan syal tenun, kemungkinan besar itu dari Sumba, atau Flores. Celana jeans biru membungkus kakinya dengan sempurna. Sepatu All Star butut masih tetap mempesona karena ia pakai. Flannel kedodoran dan berwarna pudar membungkus tubuhnya. Rambutnya dikuncir, namun tidak beraturan. Dengan celingukan, ia mencari kursi kosong.
Di saat itulah mata Nody bersirobok dengan mata sang perempuan. Namun Nody tetaplah Nody, orang yang selalu canggung menghadapi perempuan. Ia selalu merasa sebagai lelaki yang tak layak dilirik perempuan. Padahal Nody berparas mirip Nicholas Saputra. Dengan pengetahuan tak kalah luas ketimbang Poltak Hotradero.
Well the room is crowded, people everywhere
And I wonder, should I offer you a chair?
Well if you sit down with this old clown,
Take that frown and break it,
“Kursi ini kosong? Boleh saya duduk di sini?”
Nody mengangguk pelan. Tak tahu harus berbuat apa. Sementara, Closing Time sudah menginjak lagu kedua. Si perempuan tersenyum riang.
“Ini lagu favoritku. Kau tahu lagu ini?”
Nody kali ini menggeleng. Karena selama ini pengetahuan musiknya hanya berhenti di musik-musik pop Indonesia era 90-an.
“Ini ‘I Hope That I Don’t Fall In Love With You’. Dari artis favoritku, Tom Waits. Gila ya, dia tahun 1973 masih umur 24 dan sudah bisa menghasilkan album sebrengsek ini.”
Sang perempuan bercerita dengan semangat mengenai Tom Waits. Yang katanya, “…bukan lagi musisi, tapi filsuf yang mahir bermusik.”
Mendadak, saat si Perempuan bercerita, Nody melihat cahaya berpendar dari balik tubuh perempuan itu. Lalu perlahan, cahaya itu mengalir ke bahu. Wajah. Lalu rambut. Juga ke dada yang sekal. Ke perut yang rata. Lalu mengelilingi tubuh si perempuan yang mendadak tampak seperti wanita kudus. Nody gemetar.
“Kamu sedang baca buku apa?”
“Ini? Buku ekonomi.”
“Menarik kah?”
“Ya gitu.”
Sang perempuan tersenyum. Ia bisa membaca gejala gugup dari Nody. Tampak terlalu kentara. Nody memaki dalam hati. Dengan segera ia membakar kretek. Berharap rasa gugupnya bisa ikut terbakar.
Well I turn around to look at you,
You light a cigarette
Sang perempuan ikut bernyanyi. Merdu, pikir Nody.
“Kamu kok sendirian?” tanya si perempuan.
“Iya, temen-temen lagi futsal. Aku gak suka futsal. Gak suka olahraga. Mbaknya kok sendiri juga?”
“Gak ada alasan khusus kok. Saya memang suka sendirian saja.”
Nody cuma bisa tersenyum.
“Espresso. Buat dobel ya!” Si perempuan setengah berteriak. Barista mengacungkan jempol.
“Kamu anak pertama ya?” tanya Nody, tiba-tiba.
“Lha, kok tahu?”
“Ummmm. Pernah jadi pemimpin di sebuah organisasi?” kejar Nody.
“Wah, kamu cenayang?” Si perempuan tertawa. Menampakkan deretan gigi yang putih, bersih, cemerlang.
“Soalnya saya pernah baca. Dari penelitian tahun 2014 terhadap seribu orang peminum kopi, bisa ditarik garis besar sifat dan karakter seseorang berdasar pilihan kopinya.”
Nody bersyukur sudah menyulut kretek. Rasa groginya menguap entah ke mana. Kini ia mulai bisa mengeluarkan jurus dan pengetahuannya: kopi.
“Oh ya?” si Perempuan tampak antusias.
“Orang yang minum kopi hitam,” kata Nody, “biasanya merupakan orang yang terus terang dan suka kesederhanaan.”
“Lalu?”
“Para penggemar latte adalah orang yang suka menyenangkan orang lain. Namun mereka sering ragu dalam mengambil keputusan.”
“Ah masa sih? Hmmm. Kalau peminum cappuccino?”
“Mereka biasanya punya obsesi terhadap beberapa hal. Juga suka mengontrol. Namun mereka juga kreatif, jujur, dan motivasinya kuat. Mereka teman yang baik. Tapi sering merasa kesal kalau melihat orang yang tidak imajinatif.”
“Ah, itu persis seperti mantanku. Suka sekali mengontrol. Dan coba tebak…”
“Apa?”
“Dia suka cappucinno!” Si Perempuan tergelak. Merasa terhibur dengan tebak sifat ala Nody ini.
Di bangku depan, dada Nody berdesir melihat si Perempuan tertawa lepas.
I hope that I don’t fall in love with you.
“Lalu bagaimana kau tahu kalau aku adalah anak pertama dan pernah memimpin sebuah organisasi?”
“Karena, para peminum espresso adalah orang yang kerap mengemban tanggung jawab. Mereka biasanya orang yang berdedikasi,” kata Nody.
“Mereka juga pekerja keras, namun sangat moody. Tapi mereka tahu apa yang mereka inginkan,” sambung Nody.
Si Perempuan tersenyum. Lebar. “Aku senang bangku di kafe ini penuh.”
“Karena?”
“Ya karena aku bisa duduk berhadap-hadapan denganmu. Kamu pendiam. Tapi kalau sudah mulai bicara, kau mempesona.”
Nody tersipu. Pipinya merah. Kopi hitam dalam cangkirnya sudah tandas. Kreteknya sudah sisa puntung. Si Perempuan sudah menyesap espresso-nya sedari tadi.
“Aku harus pulang. Teman-temanku ngajak minum bir sehabis futsal.”
“Oke duluan saja. Tapi aku bisa ketemu kamu lagi?”
“Bisa kok. Atur aja waktunya.”
“Hmmm. Aku punya permintaan. Boleh pinjam bukumu?”
“Untuk?”
“Sekedar jaminan kalau kamu tak akan ingkar janji.”
Nody, pria pemalu itu, tersenyum lebar kali ini. Ia mengambil buku dari dalam tasnya. Dengan segera buku lawas itu berpindah tangan.
“Kamu pernah dengar Tom Waits?” tanya si perempuan.
Nody menggeleng.
“Mau dengerin gak?”
Nody mengangguk.
“Aku kasih rekomendasi ya. Dengerin album debutnya, Closing Time ya. Cari di Youtube bisa kok. Nanti kasih pendapatmu soal Tom Waits. Biar kita ada bahan obrolan saat bertemu lagi,” ujar si Perempuan sembari menyerahkan secarik sobekan kertas bertuliskan nomer telepon selulernya. Dengan sebaris nama.
“Boleh. Nanti aku cari. Jadi, sampai jumpa lagi ya.”
Nody keluar kedai kopi dengan langkah malas. Ia menatap nama dan nomer di secarik kertas itu. Ia tersenyum. Ah, ia harus segera pergi. Arlian Buana sudah menelponnya berkali-kali.
Now it’s closing time, the music’s fading out
Last call for drinks, I’ll have another stout.
Well I turn around to look at you,
You’re nowhere to be found,
I search the place for your lost face,
Guess I’ll have another round
And I think that I just fell in love with you.
Biasane ran.cewek koyo ngono iku nek wis dadian,terus putus,mesti psikopat e metu.contoh:takon nomere bapak-ibuke cowok e ng konco kontrakane :))
Hahahaha, jancoook. Pengalamanmu ndisek koyok sing nang cerito iki ta bro? :))))
ini keren, ditunggu sekuelnya mas..
pokoknya harus bikin sekuel, jadi novel sekalian kalo perlu 😀
Wah, gak janji kalau bikin sekuelnya mas. Apalagi novel. Lha ini aja nulis iseng menunggu jemput istri :)))
Wah, apik tenan…aku menunggu lanjutannya… menunggu adegan dimana wanita itu menyesal karena sudah bertemu Nody…
Hahahaha. Wah jahat koe Gus :)))
Mas Nuran, baju ceweknya agak kurang yahut tuh. Kalau udah pakai syal tenun, masa pake kemeja flanel kedodoran yang umumnya bermotif kotak2. Ceweknya bukan jadi asik kl begitu mah tapi jadi fashion crime.
Hmmm. Iya juga ya? Tapi gimana kalau flannelnya gak dikancing, melainkan sebagai pelapis kaos? Itu lebih masuk akal dan bukan fashion crime kan? 😀 Ntar aku ganti deh :)))
bisa jadi cerita berlanjut nih 😀 keren mas