There’s a big difference between falling in love with someone and falling in love with someone and getting married. Usually, after you get married, you fall in love with the person even more.
(Dave Grohl)
Saya tak pernah membayangkan bisa menikah dengan Rani Wulandari Basyir. Saat awal menjalani hubungan, kami terpisah jarak. Saya di Yogyakarta, dan Rani di Jakarta.
Kami sempat menjalani masa pacaran selama dua tahun sebelum akhirnya menikah. Masa pacaran itu masa yang bisa dibilang lumayan menguji kesabaran. Ternyata masa itu lumayan jadi bekal saat menghadapi pernikahan.
Saya dan Rani sangat berbeda. Baik sifat, kesukaan,maupun kebiasaan. Salah satu contoh sederhananya adalah kebiasaan ketika bangun tidur.
Rani, yang lebih cekatan dan gesit, setiap habis bangun tidur selalu langsung mengerjakan sesuatu. Entah itu cuci baju, masak, atau menyapu. Sedangkan saya yang lebih santai dan selo, sehabis bangun tidur ya duduk dulu. Tingak tinguk sembari mengumpulkan nyawa. Kalau misal tak ada kegiatan lain, ya saya tidur-tiduran sembari membaca.
Ini kadang memicu gesekan di antara kami berdua. Apalagi kalau misal Rani sedang diburu kerjaan kantor dan harus masuk pagi. Seringkali saya marah, mendecak kesal. Saya paling tidak suka jadi tergesa dan diburu-buru. Apalagi kalau misal harus menunaikan hajat pagi di toilet. Saya selalu membawa buku atau ponsel, sekedar membaca linimasa. Kalau gitu Rani biasanya mengomel. Sedang saya cuma cuek.
Menikah, bagi saya, memberikan banyak perspektif baru mengenai hidup. Ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Semisal betapa pentingnya negosiasi dan kerendahan hati. Rani mengajarkan banyak tentang itu.
Negosiasi misalnya begini. Rani membebaskan saya untuk menjalani hobi. Semisal membeli buku, atau cd musik, atau nongkrong bersama teman. Tapi tentu saya tak bisa seenaknya seperti waktu bujang dulu. Saya kini sudah jadi kepala rumah tangga. Di sini Rani berperan besar menjadi penyeimbang. Misalkan bulan ini, pengeluaran sudah banyak, Rani yang akan mengingatkan saya untuk tidak boros. Saya, meski kadang manyun, memaklumi itu.
Sedangkan kerendahan hati, banyak diajarkan oleh Rani. Sejak menikah, Rani banyak berubah. Ia jadi lebih sering meminta maaf. Dulu, ia kepala batu. Jarang mau mengakui salah. Saya, yang lebih lunak, yang biasa mendinginkannya. Meminta maaf ini pekerjaan susah, lho. Saya sangat menghargai kerendahan hati istri saya yang mau belajar untuk meminta maaf.
Printilan kecil dalam rumah tangga ini juga lucu. Sekali lagi, perbedaan karakter membuat pernikahan ini terasa menyenangkan. Semisal cara menunjukkan kasih sayang. Saya, bukan tipikal orang yang romantis. Saya tak pernah setiap saat bilang “Aku sayang kamu”. Sedangkan Rani, suka dengan orang yang ekspresif, sesuatu yang bukan saya blas.
“Ah aku malas sama kamu. Aku mau cari suami baru lebih ekspresif.”
“Cari lah sana, aku mau nikah lagi sama Olla Ramlan.”
Tapi mungkin Rani tidak sadar, saya sering mengelus rambutnya dan mengecup kepalanya saat ia tidur dan saya masih terjaga. Hehehehe. Dan saya tak pernah bilang masalah ini. Biar ia tidak tahu. Ya, kecuali kalau ia membaca tulisan ini.
Kehidupan rumah tangga kami berjalan normal, laiknya orang biasa di mana saja. Kalau sedang gajian, kami suka memanjakan diri sendiri. Entah itu nonton bioskop atau makan di luar. Kalau sudah tanggal tua, kami mulai pusing dan mengencangkan ikat pinggang. Makan cukup telur dan tempe plus kecap dan sambal.
Sama seperti pasangan baru lain, masalah finansial adalah masalah terbesar dan hutang adalah teman paling akrab. Kadang kami bisa menabung barang beberapa ratus ribu setiap bulan. Tapi setiap bulan juga tabungan itu terus tergerus untuk keperluan mendadak.
Di saat seperti ini lah, bala bantuan terbaik biasanya datang: mertua. Hehehe. Saya dan Rani beberapa kali berhutang pada mertua. Pembayaran bisa dicicil, tanpa agunan, dan jelas tanpa bunga. Jauh lebih baik ketimbang pinjam uang di bank bukan?
Beberapa bulan lalu, kulkas kami lunas. Rasanya lega. Sekaligus bangga. Dulu, semasa saya bujang, mana pernah kepikiran mencicil untuk beli kulkas. Kepikirannya malah mencicil motor Triumph buat keliling Indonesia.
Hidup yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan ternyata memberikan kejutan di setiap keloknya. Menyenangkan.
Tanggal 19 April kemarin, saya merayakan satu tahun pernikahan. Tak ada selebrasi yang berlebihan. Rani mencoba bikin brownies, tapi gagal. Kurang mengembang dan rasanya agak wagu. Dia merasa bersalah, tapi tetap sambil ketawa ketiwi. Saya apalagi, semakin senang karena punya amunisi untuk merisak Rani. Hehehe.
Pada ulang tahun pernikahan itu, saya punya dua pertanyaan yang jawabannya langsung ketemu saat itu juga.
Apakah saya bahagia? Iya.
Apakah setelah menikah saya jadi lebih mencintai Rani? Ternyata iya.
Hidup saja sudah berat. Apalagi hidup di Jakarta. Saya jelas butuh teman untuk itu. Saya rasa, Rani adalah kawan perjalanan yang sangat cocok. Dan saya tak pernah menyesal sedikit pun menikah dengannya.
Selamat ulang tahun pernikahan Rani. Mungkin ini sedikit klise dan terlampau memuakkan: semoga kita terus bersama, masih bisa bercanda dan bertukar kentut, setia membayar kredit tanpa cacat, terus lah menjadi lawan debat yang tangguh, dan semoga kita tetap bisa menertawakan hal-hal kecil nan aneh di sekitar kita. Jaga kesehatan. Kurangi lembur di Sabtu dan Minggu. Kalau ente lembur terus, kapan kita bikin anaknya?
Lembang 47
7.51
Saat deadline sudah nyaris selesai.
Waaa tampilan websitenya baruu. Aku lama ga mampir sini. Manis sekali tulisannya, semoga langgeng teruuuus. Anw, brownies opo sing ngembang mas? Ga ono deh ketoke.. Haha
Hahaha, iyo sih. Brownies kan ono karena awalnya mau bikin kue tapi bantet. Tapi, iki bantet-e brownies-e Rani agak berbeda. Kempes. Hahaha.
Semoga langgeng slalu, Amin.. Smuanya itu “learning by doing”.. disyukuri berdua, dijalani&dinikmati sama-sama ☺
Wahh ini. Sweet banget. Ini harus saya gugu. Saya perlu belajar banyak samamas nuran.
Ternyata menikah menjengkelkan juga mengasyikan yooo Ran
Nice post :). Cuma mau komen di browniesnya. Kalau kempes, itu mungkin baking powdernya udah lama, jd ga ngefek. Hehe. Bisa jadi juga waktu ngocok telur, ga maksimal jd ga ngembang.
Waktu ulangtahun pernikahanku yg pertama, aku ngerayain dengan makan2 di area g walk sby. Tapi di tengah2 itu aku mendapat telpon dr ibu kalau ibu dan keluarga yg lain menuju perjalanan ke rumah yg kami kontrak. Wal hasil istriq manyun dan marah karna acara gagal total.. Haha
What a sweet couple! :’)
aaak. baru baca kalau mas nuran udah satu tahunan :”””
selamat yaa, mas nuran, mba rani. hihi. semoga kedepannya selalu menjadi lebih bahagia dan baik-baik saja. walaupun nda ‘sempurna’, tapi indah apa adanya. 🙂
ps: telat nda papa lah mas ya, ngucapinnya :p