Wisata Kopi: Sehari Ngopi di Batavia

Wisata: 1. Berpergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dsb); bertamasya

 

Perkembangan kopi di Jakarta memang sangat menarik. Pada 2007, belum banyak rumah kopi yang menyajikan specialty coffee dan single origin. Saat itu lah, Anomali Coffee muncul dan jadi salah satu pionir rumah kopi yang menyediakan specialty coffeee dan single origin. Dua istilah ini secara sederhana bisa diartikan sebagai biji kopi dari daerah spesifik dengan kualitas baik.

Ini artinya, rumah kopi ini tak sekedar menyajikan kopi hitam ala tubruk belaka. Namun pemilik rumah kopi akan mulai bertanya: mau biji kopi apa? Toraja? Mandailing? Wamena? Bali Kintamani? Gayo? Blue Batak? Atau Sunda? Lalu cara penyajian dan penyeduhannya pun beragam. Mulai Vietnam Drip, Pour Over, Espresso, Moka Pot, hingga Aeropress.

Kopi memang tanaman yang sangat menarik. Beda daerah penanaman, beda ketinggian, akan berbeda pula karakter biji kopinya. Beda cara seduh, beda rasanya. Beda tingkat sangrai, akan berbeda pula rasa yang keluar.

Memang belum ada penelitian atau data statistik khusus soal berapa jumlah rumah kopi di Jakarta. Saya menebak jumlahnya pasti ada ratusan. Belum lagi di luar Jakarta. Demam specialty coffee ini memang merebak hingga ke luar Jakarta.

Bisa jadi semakin banyaknya kedai kopi ini dikarenakan tingkat konsumsi kopi Indonesia yang selalu meningkat setiap tahun. Berdasar data dari dari Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, selama empat tahun belakangan, konsumsi kopi di Indonesia meningkat drastis. Dari 600 gram per kapita, menjadi 1,3 kilogram per kapita per tahun.

Karena itu, pasti sangat menarik jika bisa melakukan wisata kopi di Batavia. Bentuk wisata paling minimalis tentu nyeruput kopi di berbagai kedai kopi di Batavia. Coffee house crawl.

Pemberhentian Pertama: Tak Kie

Pagi di Glodok memang khas. Gemerlap dunia malam sudah reda. Sementara orang-orang pasar sudah bermunculan dan mulai beraktivitas. Saya, Mas Puthut EA, dan Aditia Purnomo turun dari taksi. Mulai menyusuri ruas jalan Glodok, menuju Gang Gloria.

Seperti biasa, di bibir gang, selalu ada penjual, laki pun perempuan, yang berdiri. Siap menawarkan makanan. Nasi campur. Dim sum. Mie ayam. Pangsit. Pi Oh. Macam-macam.

Tapi tujuan kami adalah Tak Kie. Bukan yang lain. Semua bermula dari tawaran Mas Puthut. Laki berkacamata ini sedang berkunjung ke Jakarta selama beberapa hari.

“Ayo tur nyeruput kopi seharian. Dari pagi sampai sore,” ajaknya.

Maka dengan segera saya bikin rancangan kedai kopi mana saja yang akan kami datangi. Untuk pagi hari, pilihan saya jelas absolut: Tak Kie. Kebetulan pula Mas Puthut belum pernah ke sini.

Maka ia dan Adit tampak takjub saat melihat betapa ramainya Tak Kie di pagi hari. Tamu berseliweran. Dua orang pelayan sibuk menanyakan pesanan. Di meja depan, salah satu dari empat pemilik kedai ini sibuk memotong lauk untuk nasi campur. Sedangkan pengunjung: ada yang khusyuk membaca koran. Ada pula yang ngobrol. Di meja lain sepasang suami istri berusia lanjut asyik menyeruput bakmi.

Suasana bertambah ramai dengan adanya penjual lepas. Ada lelaki tua menawarkan kaos singlet. Juga seorang perempuan Tionghoa berusia lanjut yang menawarkan Bakcang. Meja sedang penuh. Kami disuruh menunggu sebentar.

“Tenang aja, Ran. Aku sangat menikmati suasana seperti ini,” kata Mas Puthut dengan tersenyum lebar.

Matanya tak henti menyisiri setiap sudut Tak Kie, warung yang seakan terperangkap di era 1920-an. Sedangkan Adit tetaplah Adit. Dengan jaket Taekwondo dan tas ransel di punggung, ia tampak seperti penjaja obat kuat ilegal.

“Kamu harus awas, Dit. Kalau ada meja kosong, kamu harus segera gerak,” kata mas Puthut pada Adit.

“Siap mas!”

Tak berapa lama kemudian, satu rombongan tamu bubar dan pulang. Dengan gesit Adit menduduki kursi yang kosong. Di meja sebelah yang digabung, duduk seorang lelaki Tionghoa tua. Ia memasang senyum lebar. Kami akhirnya berkenalan.

Namanya Pak Ibnu. Nama aslinya We Haow. Umurnya sudah 78 tahun.

“Rumah saya dulu di Jalan Kartini. Dulu hampir setiap hari saya makan atau ngopi di sini. Waktu itu saya masih umur 13 atau 14 tahun,” katanya ramah.

Mas Puthut terkagum. Adit, tetap diam. Kami pesan tiga bakmi pangsit sebagai pengisi perut edisi awal. Tak lama kemudian, seorang perempuan teman Pak Ibnu datang dan bicara bahasa Mandarin. Rupanya ia berasal dari Hong Kong. Bahasa Indonesia-nya patah-patah.

“Kalau sekarang, anak muda tak suka makan Pi Oh. Padahal itu bagus buat kulit. Bikin mulus,” katanya.

Mas Puthut baru tahu ada Pi Oh. Maka ia memesan satu mangkok Pi Oh dengan kuah bening. “Kamu jangan biarkan rasa takut menghalangi rasa penasaranmu Dit.” Adit hanya mengangguk dan bilang siap. Namun ia tampak segan dalam menyendok Pi Oh. Sedang Mas Puthut tampak lahap.

Pak Ibnu pun pamit setelah membayar. Sebelum pergi ia menepuk bahu Adit dan Mas Puthut. “Yang semangat ya kalian. Masa depan negara ini ada di kalian.”

Sebagai tamu, mas Puthut sangat terkesan dengan Tak Kie. Ia juga memuji rasa kopi Tak Kie. “Ini kan khas Kopitiam, kopinya Robusta. Di Pontianak juga kopinya seperti ini.”

Kami juga sempat bertemu dengan Rezanov. Ia vokalis band Gribs, singkatan dari Gondrong Kribo Bersaudara. Band ini adalah salah satu band Indonesia favorit saya sepanjang masa. Dulu ia membentuk band beraliran heavy metal itu bersama para saudara sepupunya. Waktu berjalan, mereka berpisah. Tinggal Rezanov personel aslinya.

Bersama beberapa kawan seniman lain, Reza membuat pameran berjudul Recollecting Memories. Menurut mereka, Tak Kie adalah tempat di mana banyak kenangan terpahat. Berdiri sejak 1927 di daerah Glodok, Tak Kie begitu ramai dikunjungi. Tamunya setia. Masih banyak yang datang dari Tangerang, Depok, bahkan Bekasi. Pak Ibnu adalah salah satu contohnya. Karena itu ada banyak sekali kenangan di warung kopi ini.

Sebagai musisi, Rezanov bersama Eben Andreas, gitaris bandnya, menggarap ulang 7 lagu cinta Mandarin. Ini setelah mereka mengkurasi sekitar 40 lagu Mandarin. Mereka memilih 7 yang sekiranya cocok dengan tema pameran.

“Sebelum karyaku dan Eben dipajang, orang-orang Tionghoa di Tak Kie mengetes dulu apa logat kami sudah benar. Untung mereka lumayan suka,” kata Rezanov.

Saya, Mas Puthut, Adhit, dan Rezanov banyak mengobrol pagi itu. Dari akik, ekspedisi cengkeh, musik, hingga groupies. Lalu ada Mas Alfa Gumilang dan kakaknya, Mbak Shinta, yang ikut bergabung. Suasana tambah ramai.

Menjelang siang, Tak Kie sudah sepi. Hanya satu dua tamu yang datang. Pukul 2 siang, kedai kopi ini sudah tutup. Para pemiliknya masih tipikal pebisnis zaman dulu. Santai, ndak ngoyo. Selalu ada waktu untuk bersantai dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Pemberhentian Kedua: Giyanti Coffee Roastery

Dari Glodok, kami meluncur ke Jalan Surabaya, Menteng. Kami ingin mencoba kopi di kafe yang namanya sedang menanjak ini. Mas Puthut lebih tertarik lagi karena kafe ini punya mesin roasting di dalam kafe.

Memang benar, Giyanti sedang populer. Saat kami masuk, semerbak wangi kopi langsung menyambut. Aduh harum sekali. Siang itu, Giyanti sedang ramai. Sang pemilik, Hendrik Halianto, tampak sibuk di balik mesin kopi.

Tampilan kafe ini sangat cantik. Mereka bisa menata ruangan dengan apik. Meski ruang bagian dalam cukup sempit, mereka bisa menata hingga terasa lega. Sayang, di bagian dalam kafe bernuansa industrial ini pengunjung tak boleh memotret. Padalah tampilan kafe ini cakep. Para peminum kopi generasi Instagram tentu kecewa.

Ada beberapa pilihan biji kopi di Giyanti. Mulai Bali Kintamani, Mandaeling, Toraja, hingga yang namanya unik: Bali Kobra. Mbak Shinta kagum karena kafe ini punya stok Blue Batak. “Ini kopi yang langka lho,” katanya. Biji kopi ini memang biasanya untuk diekspor. Karena itu kami berlima pesan Blue Batak, plus satu kopi Toraja.

Meski namanya sedang naik daun, dan Hendrik dianggap sebagai coffee aficionado yang kompeten, tampaknya transfer pengetahuan di kafe ini masih kurang. Terbukti, pelayannya banyak yang menggelengkan kepala saat ditanya perihal kopi. Mas Puthut menanyakan kenapa kok namanya Blue Batak. Ini bukan ngetes. Memang Mas Puthut tidak tahu. Tapi si pelayan bilang tak tahu. Lalu saat pelayan mengantar pesanan, Mas Puthut menanyakan soal teknik penyeduhan kopi. Sang pelayan juga bilang tidak tahu. Sayang sekali.

Saat itu sebenarnya kami ingin sekali wawancara atau ngobrol dengan Hendrik. Namun melihat ia sedang sibuk, kami agak sungkan mau mengajaknya ngobrol. Mas Puthut sendiri ingin belajar soal roasting.

Mungkin lain kali kami akan mampir lagi ke Giyanti dan ngobrol langsung dengan Hendrik.

Pemberhentian Ketiga: 1/15 Coffee

Mas Puthut langsung mengiyakan ajakan ke tempat ini ketika tahu bahwa Doddy Samsura, juara Indonesia Barista Championship tahun 2013, bekerja di kafe ini. Maka dari Menteng, kami langsung meluncur ke Gandaria.

Kafe ini juga sedang dalam masa populer. Kami kesusahan mencari parkir. Terpaksa parkir di pinggir jalan. Bagian dalam kafe ini luas. Nuansanya, lagi-lagi industrial. Saya suka suasana kafe ini. Lapang, dan elegan. Kopinya juga enak. Mas Puthut pesan house blend.

Sayang, lagi-lagi Mas Puthut harus menemui pengalaman yang kurang menyenangkan. Masalahnya sama: pengetahuan tentang kopi. Mas Puthut menanyakan soal biji kopi. Namun ia bertanya ke kasir. Dan sang kasir tidak bisa menjawab.

“Kalau kasir bukannya wajar ya gak bisa jawab mas? Dia kan bagian ngitung duit?” kata saya.

“Ya gak gitu juga. Ini kan rumah kopi. Mereka jual kopi. Harusnya semua punya pengetahuan tentang kopi. Lha kalau ada pelanggan yang nanya-nanya soal kopi, masa dijawab tidak tahu? Harusnya kan ada edukasi kopi. Baik ke sesama pegawai, atau ke pengunjung,” ujar mas Puthut.

Mungkin mas Puthut sedang apes. Harusnya tanya ke para barista. Lagi-lagi, karena suasana sedang ramai, sesak, para barista juga sibuk sekali. Mungkin saya harus mengajak Mas Puthut saat 1/15 baru buka di pagi hari. Saat arus pengunjung tak terlampau ramai.

Di kafe ini saya juga menemukan satu kekurangan yang agak vital: kurangnya toilet. Kafe dengan pengunjung sebanyak ini hanya punya satu toilet, rasanya kurang proporsional. Saya melihat penumpukan pengunjung di depan toilet. Ini terjadi berulang kali. Kalau ada penambahan toilet, rasa-rasanya kafe ini bakal makin asyik.

Kami ngobrol banyak di 1/15. Salah satu tema utama obrolan kami adalah soal Ekspedisi Kopi yang akan dilakukan mas Puthut dan kawan-kawan. Saat ini mereka sedang mengumpulkan dana.

Sekitar satu atau dua tahun silam, Mas Puthut dan kawan-kawan pernah mengadakan ekspedisi serupa. Namun tajuknya Ekspedisi Cengkeh. Mereka merekam geliat perdagangan cengkeh, kehidupan petani cengkeh, hingga menelusuri sejarah cengkeh.

Ekspedisi Kopi mengambil semangat dan visi yang sama.

“Akan ada dua tim. Yang satu menyusuri Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Tim kedua menyusuri Sumatera dan Papua,” kata Mas Puthut.

Ekspedisi ini bakal sangat keren. Baik dari tema perjalanan, juga mengenai keragaman kopinya. Dibandingkan cengkeh, kopi jelas punya banyak varietas. Pun, setiap kopi punya karakter masing-masing. Perjalanan merekam kekayaan kopi Indonesia ini akan jadi perjalanan yang sangat menarik, dan juga akan bersejarah. Sekarang Mas Puthut sudah mulai menyusun rancangan perjalanan. Kalau semua sudah siap, tinggal tunggu saja catatan-catatan perjalanan kopi itu diunggah di situs ini dan muncul dalam bentuk buku dan film.

Mari kita tunggu! []

Alamat kedai kopi yang kami kunjungi:

1. Tak Kie

Jalan Pintu Besar (Gang Gloria) III No 4-6 Pinang Siang, Tambora.
Jakarta Barat.
No telepon: (021) 6928296
Jam operasional: Setiap hari, dari jam 07.00 hingga jam 14.00

2. Giyanti Coffee Roastery

Jalan Surabaya No 20 Menteng
Jakarta Pusat.
No telepon (021) 31923698
Jam operasional: Selasa sampai Sabtu, dari jam 9.30 sampai jam 17.30

3. 1/15 Coffee
Jalan Gandaria 1 No 63
Jakarta Selatan
No telepon (021) 7225678
Jam operasional: Setiap hari, dari jam 07.00 hingga jam 21.00

Leave a Reply

Your email address will not be published.