Aku sebenarnya lebih suka menulis Yogyakarta sebagai Jogja. Lebih ringkas dan enak dibaca + didengar. Jadi untuk tulisan ini, minggir dulu ya, EYD. Aku mau pakai Jogja saja.
***
Aku pernah merasakan masa menyenangkan tinggal di Jogja selama 3 tahun. Dari 2011 sampai 2014. Saat itu aku, didorong oleh Mamak dan tante-tanteku, memutuskan untuk kuliah lagi di UGM.
Di Jogja, aku tinggal di kawasan Condong Catur bareng teman-teman asal Jember. Kalau tak salah ingat, kontrakan dua lantai dengan lima kamar ini harganya Rp13 juta per tahun. Aku menempati kamar depan, bersebelahan dengan kamar Sawir yang paling besar. Real di kamar kecil yang terletak di sebelah kamar mandi. Sedang dua kamar di lantai dua ditempati Dandy dan Raymond.
Pengalaman tinggal di Jogja itu berkesan hingga membuat aku berpikir akan kembali tinggal di kota ini, entah kapan.
Dari dua tahun yang direncanakan untuk kuliah, ternyata molor hingga harus menjalani masa kuliah total lima tahun (dua tahun kuliah di kelas, dan tiga tahun tesis yang tertunda). Masalahnya, di 2014 aku memutuskan untuk menikah dan pindah ke Jakarta.
Saat itu aku tak punya pekerjaan tetap, dan memutuskan tak mau menjawab penulis serabutan jika calon mertua bertanya apa pekerjaanku. Maka aku memutuskan mengirim buku-bukuku ke Jember, dan dengan satu tas berisi pakaian pergi menuju barat. Jakarta. Kota yang pernah kubenci dan bikin aku bergidik tiap membayangkan kemungkinan tinggal di sana.
Hitung maju delapan tahun kemudian.
Ada banyak kejadian yang berlangsung selama sewindu. Setelah melewati banyak malam untuk menulis tesis dan mengutuki diri sendiri kenapa mau-maunya sekolah lagi (aku tak pernah jadi orang yang cemerlang secara akademik dan kurang begitu tertarik dengan sekolah, sehingga keputusan untuk sekolah lagi sebenarnya relatif konyol), akhirnya aku lulus.
Bahkan sekira dua tahun setelah aku wisuda, aku kadang masih mimpi ditanya soal perkembangan tesis oleh Pak Djoko, pemimbing tesisku yang baik dan lapang dada menerima mahasiswa penuh kekurangan (ya otak, ya perilaku) sepertiku.
Setelah menikah dan pindah-pindah selama dua tahun, akhirnya Rani dan aku memberanikan diri untuk beli rumah di Depok, Jawa Barat. Dan sejak 2016 itu, kami terbiasa dengan ritme hidup Jakarta-Depok yang seragam: melewati kemacetan, berdesakan, terburu-buru.
Dan peribahasa itu benar: ala bisa karena biasa. Kami yang awalnya tak bisa membayangkan bagaimana hidup di Depok dan kerja di Jakarta Selatan, ternyata bisa juga menjalaninya. Awal-awal memang bikin pusing. Pulang kantor, kami langsung tepar. Untuk kemudian bangun, dan mengulangi rutinitas lagi.
Semua berubah karena pandemi.
Pandemi membuat banyak hal dan kebiasaan lama runtuh. Terutama kantor baru Rani yang sejak awal sudah memberlakukan working from anywhere secara permanen. Kami lebih banyak di rumah, punya lebih banyak waktu luang untuk mengerjakan hal-hal menyenangkan. Namun kami tak pernah membayangkan untuk pindah domisili.
Hingga suatu hari aku bilang ke Rani mau pergi ke Jogja barang seminggu untuk menyelesaikan wawancara para pembuat festival musik. Ini untuk buku residensi yang sudah kucicil sejak 2019 dan harus terhenti dua tahun gara-gara pandemi dan nihilnya festival musik.
“Kenapa gak sekalian sebulan aja? Aku ikut,” kata Rani.
Wah, benar juga, ya.
Beda denganku, Rani tak pernah punya ikatan lama dengan Jogja. Dia adalah anak Bandung dan Jatinangor, maklum hampir satu dekade tinggal di dua kota itu. Tentu dia pernah satu dua kali ke Jogja, dan dia suka kota ini.
Setelah ngobrol agak panjang, akhirnya kami setuju untuk pindah ke Jogja barang sebulan. Kawan lamaku, Cahyo Purnomo Edi, wartawan masyhur di Jogja, berbaik hati menyewakan rumahnya di kawasan Maguwo dengan harga amat bersahabat.
Sama seperti kuliahku yang direncanakan dua tahun dan molor jadi lima tahun, begitu pula rencana kami untuk tinggal di Jogja. Dari yang awalnya cuma mau sebulan, jadi molor hingga setahun.
Penyebabnya apa lagi kalau bukan karena Rani betah di sini. Baginya, ritme kota Jogja yang lebih pelan dan tak menuntutnya untuk tergesa, memberikan suatu perasaan baru. Perasaan tenang dan santai yang dicari oleh banyak homo Jakartanensis.
“Gimana kalau kita pindah Jogja, setahun aja dulu,” kataku.
“Setuju!”
Rani memberi jempol dengan cepat dan mantap.
Sekira dua minggu sebelum kami pulang ke Jakarta, kami mencari kontrakan. Karena memang keinginan kami begitu kuat, jalannya jadi mudah belaka. Rumah kontrakan pertama yang kami lihat, langsung bikin Rani jatuh cinta.
Rumah ini terletak di daerah Sengkan, di sebuah perkampungan kecil dan guyub di timur Pasar Kolombo, di Jalan Kaliurang KM 7. Itu kawasan saya sempat menumpang di kantor KBEA sekira enam bulan sebelum pindah ke Jakarta. Di sana juga ada soto Pak Syamsul, kegemaran banyak lidah Jawa Timur yang kurang cocok dengan soto gagrak Jawa Tengah. Sekitar dua kilometer dari sana, ada kawan-kawan baik yang berkegiatan di Rumah Kretek Indonesia.
Rani suka karena rumahnya adem. Kisi-kisi langitnya mungkin sekitar lima meter, di pinggir sungai kecil, dengan bambu yang tumbuh menaungi dan sedikit menghalangi sinar langsung matahari. Adem. Kalau malam, terdengar suara gemericik air
Kami bilang akan memberi kabar nanti, tapi di dalam hati kami sudah yakin rumah ini yang akan kami pilih.
Setelah dapat THR, Rani langsung kirim uang muka ke Pak Krisbandono, pemilik rumah. Dan dua minggu setelah lebaran, setelah memilah barang mana yang akan dibawa dan mana yang ditinggal, setelah pamitan dan bikin banyak orang tak percaya, akhirnya kami benar-benar pindah ke Jogja.
Setahun.
Tentu bisa molor lagi, seperti kuliah saya dulu. Apalagi Rani sudah betah banget dan kirim isyarat: ogah balik ke Jakarta.
Duh.
sebentar, kenapa aku bisa melewatkan kisah ini, bah tau gitu saya sambangi kemarin pas ke jogja